Lelang pertama seni modern dan kontemporer telah berlangsung pada 28 Agustus di Regent Singapore, setelah 15 tahun
Rumah lelang Sotheby telah lama berdiri di Singapura sejak penjualan pertama lukisan Asia Tenggara pada tahun 1996, yang kemudian berlangsung dua tahun sekali hingga 2007. Sejak itu, pameran terus digelar dan yang terbaru adalah WWF Tiger Trail, di mana hasilnya digunakan untuk pekerjaan konservasi harimau.
Sekarang untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, Sotheby menandai lelang seni modern dan kontemporer di Singapura yang berlangsung pada 28 Agustus di Regent Singapore. Hal tersebut menjadi kabar baik bagi Singapura karena sejalan dengan ambisi globalnya untuk menjadi pusat yang dinamis dengan kancah seni yang berkembang pesat.
Lelang ini menampilkan 50 karya modern dan kontemporer dari para master Asia dengan mayoritas dari Asia Tenggara. Karya-karya tersebut terpanjang di samping karya seniman internasional yang sudah mapan dan baru muncul. Penjualan tersebut dipimpin oleh pionir seni modern Singapura Georgette Chen's Boats dan Shophouses.
Terdapat lukisan minyak di atas kanvas yang menggambarkan tepi sungai Singapura pada 1960-an. Selain itu, karya seniman abstrak Cina-Prancis, Zao Wou-Ki yang berjudul Sans Titre, Entre Août Et Décembre 1958 menjadi penanda transisinya ke seni abstrak. Ada juga karya seniman Vietnam Le Pho, seniman Jepang Yayoi Kusama, seniman Indonesia Hendra Gunawan, seniman Luksemburg Michel Majerus, dan seniman Spanyol Rafa Macarrón.
Lelang tersebut berlangsung dengan perkiraan keseluruhan dana sebesar SG$18 juta. Lelang akan disiarkan langsung melalui sothebys.com dan sedang berlangsung hingga 27 Agustus di Regent Singapore. Berikut adalah beberapa sorotan dari lelang Sotheby di Singapura.
1/7 “Boats and Shophouses” (c 1960) oleh Georgette Chen

Foto: Dok. tatlerasia.com
Lukisan Georgette Chen ditampilkan banyak koleksinya karena menjadi seni modern yang paling terkenal di Singapura. Minimnya lukisan yang menggambarkan tepi sungai Singapura dalam lelang tersebut, membuat lukisan Georgette menjadi karya yang sangat langka. Chen menggambarkan pemandangan sungai, perahu, dan ruko yang sangat mendetail dengan sapuan kuasnya yang berani. Warna pigmen yang hangat pada palet digunakan untuk membangkitkan latar khatulistiwa Singapura di bawah sinar matahari.
2/7 “Tierfabel (Animal Fable)” (1928) oleh Walter Spies

Foto: Dok. tatlerasia.com
Lukisan minyak seniman Jerman, Walter Spies termasuk lukisan yang paling langka muncul di pasar sekunder—dan hanya muncul sebanyak 20 lukisan di pelelangan selama lebih dari tiga dekade. Lukisan mistis yang hampir surealis ini merupakan sebuah surat cinta untuk negara adopsi Spies di Indonesia. Lukisan ini menggambarkan pemandangan pedesaan Bali yang menampilkan flora dan fauna asli, serta cahaya dan bayangan yang bersinar di atas kanvas.
3/7 “Vietnamese Lady” (c 1938) oleh Le Pho

Foto: Dok. tatlerasia.com
Beberapa seniman tentunya memiliki penguasaan teknis dalam menangani sutra sebagai media, termasuk master Vietnam, Le Pho. Ia dengan cekatan menangkap keindahan sosok wanita yang sedang menatap ke arah luar penonton. Wanita itu duduk di kursi bersejarah, di mana kursi itu terinspirasi dari Cina. Kursi itu seolah menandakan latar belakang ilmiah perempuan di dalam lukisan. Berbeda dengan pengetahuan umum, bahwa perempuan berada dalam peran domestik dan seolah tidak pantas duduk di kursi semacam itu.
4/7 “Sans Titre, Entre Août Et Décembre 1958” (1958) oleh Zao Wou-Ki

Foto: Dok. tatlerasia.com
Minyak di atas kanvas pada lukisan ini adalah contoh yang indah dan langka dari seri Oracle Bone karya seniman abstrak Cina-Prancis, Zao Wou-Ki. Lukisan ini dibuat pada pertengahan hingga akhir 1950-an dan menandai transisinya dari seni representasional ke seni abstrak. Setelah bertahun-tahun di Paris, Zao mencari inspirasi dari oracle bone scripts Cina, kemudian menggabungkan serangkaian bentuk abstrak yang saling bersilangan hingga menyerupai karakter dan kata-kata.
5/7 “Seme la Lumiere (Spreads Light)” (1998) oleh Chu Teh-Chun

Foto: Dok. tatlerasia.com
Seniman abstrak Cina-Prancis, Chu Teh Chun menampilkan syair untuk lirik dari gerakan abstraknya. Chu Teh-Chun menggabungkan palet pigmen oker, zaitun, pigmen hijau dan kuning keemasan, serta warna hitam pekat di kanvas gesturalnya.
6/7 “Red Nets” (1966) oleh Yayoi Kusama

Foto: Dok. tatlerasia.com
Lukisan ini adalah contoh awal dari seri Infinity Nets yang terbesar dan terkenal dari Yayoi Kusama. Lukisan ini dilukis pada tahun 1966, ketika sang seniman tinggal di New York City. Lukisan ini disusun dengan riak busur yang berputar-putar dalam warna pink. Karya ini menampilkan penguasaan abstraksi spasial dan konseptual Kusama.
7/7 “o.T. (collaboration Nr. 8)” (1999) oleh Michel Majerus

Foto: Dok. tatlerasia.com
Referensi kosakata visual Jean-Michel Basquiat tidak pernah salah, misalnya dengan penggambaran anatomi khas seorang raja sebagai titik fokus yang bertentangan, seperti riff Andy Warhol dari logo putih biru General Electric. Garis lukisan dari warna cyan blue menjadi hal yang mengejutkan dari lukisan ini. Lukisan ini adalah contoh seni Luksemburg—yang meninggal dalam kecelakaan pesawat pada tahun 2002 saat berusia 35 tahun. Lukisan ini merupakan campuran preseden sejarah seni dan elemen budaya pop.




