Cover Museum mentega di Cork, Irlandia. Cover: Museum of Ice Cream, Singapura.

Tidak hanya sebagai tempat pameran, banyak hal unik dan menarik dalam museum di seluruh dunia yang harus kamu tahu di Hari Museum Internasional ini.

Tahukah kamu bahwa hari ini, 18 Mei, dirayakan sebagai Hari Museum Internasional atau International Museum Day?

Selama lebih dari 40 tahun, International Council of Museums (ICOM) telah mengoordinasikan hari spesial ini— hari yang mengangkat seni, budaya, dan sejarah ke permukaan pikiran kita. Hari Museum Internasional mengingatkan kita kembali tentang pentingnya museum sebagai pusat budaya, sumber pengetahuan, hingga platform pertemuan yang bermakna. 

Tapi, jangan kira museum hanya berisi artefak peninggalan kuno yang membosankan, ya! Kami akan membawamu keliling dunia untuk mengetahui berbagai fakta-fakta menarik tentang museum masa kini, mulai dari museum seni kontemporer yang modern, museum barang-barang unik, hingga hal-hal tentang museum yang mungkin kamu belum tahu sebelumnya.

Mencicipi museum makanan

Kamu yang foodie pasti akan sangat gembira saat berkunjung ke museum-museum ‘lezat’ ini. Salah satunya adalah Museum of Ice Cream (MOIC) yang hadir di Singapura, Shanghai, dan beberapa kota di Amerika Serikat. Museum ramah anak ini memamerkan belasan instalasi bertema es krim dengan berbagai permainan interaktif, tentunya dilengkapi freeflow ice cream. Kamu dapat bermain di ayunan ala banana split dan menyelam di kolam penuh meises raksasa, kemudian menutup kunjunganmu dengan segelas cocktail atau milkshake. Rediscover the kid in you!

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 2 Kolam penuh sprinkles raksasa di Museum of Ice Cream, Singapura. (Foto: MoIC Singapore)
Photo 2 of 2 Kamu bisa melihat demo pembuatan mentega langsung di The Butter Museum, Irlandia. (Foto: The Butter Museum)

Setelah menyantap es krim, kunjungi The Butter Museum di Cork, Irlandia, tempat terbaik untuk mempelajari semua tentang budaya pembuatan mentega dari Irlandia kuno hingga saat ini. Di museum unik ini, kamu bisa mengintip sejarah produksi mentega di Irlandia, peternakan sapi perah, hingga perdagangan mentega komersial. Sebuah wadah mentega yang diyakini telah berusia 1000 tahun juga dipamerkan di museum ini, diawetkan dengan sempurna oleh tanah berlumpur tempatnya ditemukan.

Baca juga: A food lover’s guide to Seoul, South Korea

Merasakan museum interaktif

Seiring dengan perkembangan teknologi, kini semakin banyak museum yang menggunakan experience digital untuk semakin interaktif dengan pengunjung. Salah satunya Museum of AI di Amerika Serikat, yang memberikan pengalaman teater yang imersif dan experiential learning tentang AI. Kamu berkesempatan untuk memasuki dunia gabungan storytelling dan AI, seperti menggunakan prompt ChatGPT dan berinteraksi dengan Screenwriter untuk membuat script tertentu. Uniknya lagi, karena museum ini tidak memiliki satu lokasi khusus, mereka berpindah dari kota ke kota seperti Denver, San Francisco, dan lainnya.

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 2 Berbagai panel interaktif yang dapat kamu coba di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. (Foto: Galeri Indonesia Kaya)
Photo 2 of 2 Lobby pameran Museum of AI. (Foto: Museum of AI)

Di Indonesia, kamu dapat mengunjungi Galeri Indonesia Kaya dengan berbagai atraksi digital interaktifnya yang berbentuk projection mapping. Di galeri ini, kamu dapat melihat berbagai seni budaya dan kekayaan Indonesia dengan menyapa penduduk desa digital pada panel Bersatu Padu, atau ‘memesan makanan’ khas daerah di warung-warung panel Sajian Rasa. Para koki digital juga akan menyampaikan fakta-fakta menarik tentang kuliner khas daerah yang kamu pilih.

Mengambil peran dalam dampak museum

Tidak hanya sebagai tempat pameran, adanya museum juga dapat berdampak bagi komunitas dan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, museum di seluruh dunia telah bekerja sama dengan para migran dan pengungsi dengan berbagai cara. Beberapa museum telah memberikan suara kepada para pengungsi, menyoroti kisah-kisah pribadi mereka.

In case you missed it: Cara Menghargai Tempat-Tempat Bersejarah Dunia

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 2 Moumena Saradar, kelahiran Suriah, yang menjadi salah satu Global Guides di Penn Museum. (Foto: Penn Museum)
Photo 2 of 2 Galeri Mesoamerica di Penn Museum. (Foto: Eric Sucar/University of Pennsylvania)

Salah satunya di Museum of Archaeology and Anthropology di University of Pennsylvania, atau yang biasa disebut Penn Museum, terdapat program Global Guides yang menghadirkan tour guide berupa imigran dan pengungsi dari seluruh dunia. Sejak 2018, mereka telah menjelaskan konteks di balik berbagai artefak di galeri museum, bahkan menghubungkannya dengan kehidupan mereka sendiri di sana. Program ini tersedia untuk galeri Timur Tengah, Afrika, Meksiko dan Amerika Tengah, dan Asia. Lagipula, apa cara yang lebih baik untuk belajar tentang budaya lain selain berbicara dengan seseorang yang tumbuh besar di sana?

Memodernisasi museum

Tatler Asia
Above Instalasi "Accumulation — Searching for the Destination" karya Chiharu Shiota, yang ditampilkan di Museum MACAN pada 2022. (Foto: Museum MACAN)

Setelah mengunjungi museum-museum unik dan berdampak, kita kembali ke Jakarta untuk bertandang ke Museum of Modern and Contemporary Art of Nusantara, atau Museum MACAN. Sebagai museum seni kontemporer pertama di Indonesia, museum ini menawarkan berbagai program publik dan pameran yang dinamis. Fenessa Adikoesoemo, Gen.T honouree 2017-2018 sekaligus Asia’s Most Influential honouree 2021, ada di balik kesuksesan Yayasan MACAN dan telah berhasil menjadikan museum ini salah satu museum hits bagi warga Jakarta. Tertarik untuk berkunjung?


NOW READ

Museum MACAN Best Art Exhibitions

‘Karl Lagerfeld: A Line of Beauty’ for Metropolitan Museum 2023

Fenessa Adikoesoemo, Chairwoman Of Museum MACAN Foundation, Is Painting A Bright Future For Indonesian Arts

Topics