Merayakan 150 tahun warisan panjang, Audemars Piguet menghadirkan perpaduan keanggunan, inovasi, dan keabadian lewat Perpetual Calendar 38 mm dan trio dial batu alam Code 11.59 by Audemars Piguet
Menginjak usia ke-150 tahun, Audemars Piguet memilih merayakan bukan dengan nostalgia, melainkan dengan langkah berani ke depan. Dari lembah tenang Le Brassus di jantung Swiss Jura lahirlah babak baru perjalanan Manufacture legendaris ini. Dalam semangat perayaan yang berakar pada kreativitas tanpa batas, Audemars Piguet memperkenalkan dua mahakarya yang menegaskan esensi sejatinya: Royal Oak & Code 11.59 by Audemars Piguet Perpetual Calendar 38 mm, serta trio Code 11.59 by Audemars Piguet Selfwinding Flying Tourbillon dengan dial batu alam. Kedua koleksi ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan ekspresi artistik dari warisan, keanggunan, dan presisi yang dirangkai menjadi puisi dalam bentuk waktu—sebuah perayaan atas masa lalu yang hidup di masa kini, dan masa depan yang terus berdenyut.
Baca juga: Bagaimana Audemars Piguet Mengubah Wajah Pameran Jam Tangan Swiss Lewat House of Wonders di Shanghai

Above Dalam perayaan 150 tahun warisan keanggunan dan inovasi, Audemars Piguet terus menegaskan dedikasinya terhadap seni haute horlogerieKeanggunan abadi berpadu dengan keahlian tinggi—Audemars Piguet Royal Oak dalam emas mawar menghadirkan kemewahan yang tak lekang waktu
Perpetual Calendar 38 mm: tradisi dalam dimensi baru

Above Code 11.59 by Audemars Piguet Perpetual Calendar 38mm in 18-carat pink gold
Sebagai komplikasi paling puitis, Perpetual Calendar sanggup menyesuaikan kalender hingga satu abad tanpa koreksi manual. Untuk pertama kalinya, Audemars Piguet menghadirkannya dalam diameter 38 mm, menawarkan ergonomi inklusif untuk semua pecinta horologi.
Didukung kaliber terbaru 7136 dan 7138 dengan lima paten, sistem koreksinya sepenuhnya melalui crown tanpa tombol eksternal. Dari sisi desain, hadir beragam interpretasi: dial hijau guilloché pada Code 11.59 by Audemars Piguet, dial biru Grande Tapisserie pada Royal Oak baja, hingga palet beige dengan moon phase biru pada Royal Oak emas pink. Semua dilengkapi caseback safir yang menyingkap rotor emas pink 22 karat.
Global CEO Audemars Piguet, Ilaria Resta, menegaskan: “Komplikasi tidak hanya milik pria atau kolektor teknis. Dengan ukuran 38 mm, kami membuka dunia horologi tinggi bagi semua orang, tanpa batas gender.”
Code 11.59 by Audemars Piguet Tourbillon: alam dalam gerak

Above Code 11.59 by Audemars Piguet Selfwinding Flying Tourbillon 38mm in 18-carat white gold
Berbeda dengan astronomi Perpetual Calendar, Code 11.59 by Audemars Piguet Flying Tourbillon menampilkan kekuatan alam melalui dial batu alam: ruby root merah, sodalite biru, dan malachite hijau. Setiap potongan batu dipoles tipis namun tetap menampilkan tekstur unik, menjadikan tiap jam tangan benar-benar satu-satunya.
Ruby root dari Tanzania melambangkan vitalitas, sodalite Brazil dikaitkan dengan kejernihan pikiran, dan malachite Zambia dipercaya membawa transformasi. Ketiganya dipadukan dengan case emas 18 karat berbeda warna, menekankan harmoni material mewah dan keindahan alami.
Di balik pesona visual, tersembunyi Calibre 2968, selfwinding flying tourbillon ultra-tipis setebal 3,4 mm. Dengan cage titanium dan sistem peripheral, mekanismenya terlihat melayang bebas di atas dial, menghadirkan presisi sekaligus ilusi puitis.
Peluncuran ini menegaskan filosofi Audemars Piguet: horologi bukan sekadar pengukur waktu, melainkan pengalaman estetis dan emosional. Dari kompleksitas Perpetual Calendar 38 mm hingga simbolisme batu alam, Audemars Piguet membuktikan bahwa warisan sejati adalah sesuatu yang terus dihidupkan.
Temukan koleksi terbaru Audemars Piguet di The Time Place.




