Bruno Pavlovsky, President of fashion at Chanel
Cover Bruno Pavlovsky, President of fashion at Chanel
Bruno Pavlovsky, President of fashion at Chanel

Di bawah visi Bruno Pavlovsky, Chanel merayakan kesinambungan, memadukan craftsmanship abadi dengan konteks lokal, sembari menegaskan bahwa dalam dunia luxury, sensitivitas manusia tetap menjadi pusat dari segala inovasi

Di sela-sela persiapan replica show Chanel Cruise 2025/26 di Raffles Hotel Singapore, Bruno Pavlovsky sebagai President of Fashion di Chanel, berbicara dengan ketenangan seseorang yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade di salah satu rumah mode paling berpengaruh di dunia itu. Sejak bergabung pada tahun 90-an, Bruno telah menyaksikan Chanel berevolusi dan memperluas jejaknya, tanpa menghapus disiplin terhadap identitas yang membuatnya abadi. Dalam pandangannya, kekuatan Chanel bukan hanya pada produk semata, tetapi juda pada cara rumah mode ini membangun dunia dan komunitasnya, dari Prancis hingga Asia Tenggara.

Baca juga: Ikon Chanel: Momen gaya G-Dragon yang paling berkesan

Tatler Asia
Above Raffles Hotel Singapore menjadi latar belakang paripurna show Chanel Cruise 2025/26

“Yang klasik akan selalu bertahan,” ujarnya. “Yang ikonik tidak pernah kehilangan tempatnya, justru karena ia mampu beradaptasi.” Bagi Bruno, keberlanjutan identitas Chanel bukan berarti bertahan pada formula yang sama, tetapi menjaga inti brand sambil membuka diri pada interpretasi baru yang relevan untuk lokasi dan audiens berbeda. Lalu, mengapa Singapura? Bruno pun tidak menyia-nyiakan waktu. “Karena Raffles,” tuturnya. Bagi Chanel, memilih sebuah lokasi bukan keputusan estetika semata, melainkan strategi. Lokasi harus mencerminkan kualitas pengalaman yang ingin diberikan kepada pelanggan. Setelah perdana menampilkan koleksi ini di danau Como, membawa koleksi ke Singapura menjadi langkah visioner untuk memperkuat eksistensi Chanel di Asia Tenggara, khususnya pada pasar yang semakin menuntut pengalaman bermakna, bukan sekadar tontonan. Raffles, dengan sejarah panjang dan posisinya sebagai institusi budaya, menyediakan narasi yang sempurna: sebuah wadah yang mampu mengangkat cerita Chanel, tanpa harus dibuat-buat. 

Tatler Asia
Above Kemegahan arsitektur kolonial bertemu dengan koleksi resor Chanel membangkitkan gaya hidup ‘hotel’ yang penuh elegansi

Di Lake Como, Chanel memilih Villa d’Este. Di Asia Tenggara, Raffles Singapura menawarkan simbolisme yang sama: institusi budaya, representasi regional, dan kredibilitas internasional. Setiap lokasi membuka bab baru, menambahkan konteks, dan menunjukkan bagaimana DNA Chanel dapat beradaptasi tanpa kehilangan maknanya.

Bruno memahami Asia Tenggara bukan sebagai wilayah ekspansi tetapi sebagai komunitas pelanggan yang berkembang. Ia sangat menyadari bahwa pasar di kawasan ini semakin matang—bukan hanya secara daya beli, tetapi secara selera dan ekspektasi. Bukan sebatas konsumen, mereka adalah bagian dari komunitas global Chanel yang ingin dimengerti. Inilah alasan mengapa Chanel tidak sekadar membangun butik, tetapi memastikan eksistensi tim lokal dan regional yang kuat. “Anda tidak bisa memahami sebuah pasar tanpa orang-orang yang hidup di dalamnya,” ucapnya. Baginya, kekuatan Chanel selalu lahir dari manusia—bukan sistem, bukan tren sesaat, bukan algoritma.

Ketika ditanya tentang peran Artificial Intelligence di dunia Chanel, Bruno mengakui bahwa teknologi tersebut mulai masuk ke berbagai lini operasional. Namun ada batas yang ia jaga ketat: AI tidak bisa menggantikan sensitivitas manusia dalam membaca pelanggan. “Saya belum percaya pada AI untuk memberi tahu kami tentang pelanggan kami,” tegasnya. “Luxury adalah bisnis yang sangat personal. Anda tidak bisa mengganti intuisi dan kedekatan manusia.” Ini adalah sudut pandang yang menarik. Di saat banyak brand fashion berlari mengejar teknologi, Chanel justru mengokohkan posisi sebagai jenama yang memprioritaskan human connection. Teknologi adalah alat, bukan navigasi. “Komunitas tetap inti dari Chanel,” pungkasnya, “dan komunitas tidak bisa dibangun oleh mesin.”

Tatler Asia
Above Rangkaian busana bernapas resor namun tetap menjaga keanggunan khas Chanel
Tatler Asia
Above Chanel Cruise 2025/26

Meski kerap dikaitkan dengan era Karl Lagerfeld, fokus Bruno terletak pada masa depan. “Sebagian besar yang saya tahu, saya pelajari dari Karl,” ucapnya, namun ia segera menambahkan betapa pentingnya bekerja dengan para Direktur Kreatif, yang teranyar Matthieu Blazy, yang ia sebut telah membawa energi baru dan perspektif yang relevan untuk dekade mendatang. Bagi Bruno, Chanel tidak berdiri di atas nostalgia. Chanel berdiri di atas kesinambungan— kemampuan menjaga warisan sambil menggerakkan brand menuju masa depan yang dinamis. “Yang penting adalah identitas,” ujarnya. “Bukan keseragaman.” Dunia Chanel bisa berubah warna, atmosfer, dan referensi visual, tetapi fondasinya tetap craftsmanship, savoir-faire, dan kamus desain yang telah berpuluh tahun ditanamkan. 

Baca juga: Tatler Ball Asia 2025: penampilan di red carpet yang memukau

Tatler Asia
Above Eksplorasi house codes ikonis tampil modern tak lekang waktu
Tatler Asia
Above Chanel Cruise 2025/26

Satu momen menggambarkan dengan jelas gaya kepemimpinan Bruno dan kultur di Chanel. Ketika ditanya tentang kontribusi terbesarnya setelah lebih dari tiga dekade, ia menolak mengaitkan pencapaian pada dirinya. Pavlovsky menegaskan bahwa keberhasilan Chanel lahir dari kerja kolektif—proses terkoordinasi antar-divisi dari ide hingga eksekusi. Sikap ini mencerminkan budaya Chanel yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi, serta pemahaman bahwa kekuatan sebuah maison tidak bertumpu pada satu individu, melainkan pada tim yang bergerak dalam keselarasan.

Tatler Asia
Above Chanel Cruise 2025/26

Ketika runway di halaman Raffles mulai hidup malam itu, terlihat bahwa Chanel tidak berupaya “membawa Como ke Singapura.” Sebaliknya, mereka mengizinkan Singapura membentuk cara baru dalam membaca koleksi tersebut. Di sinilah pendekatan Bruno dan Chanel semakin nyata: mereka bukan sedang memindahkan sebuah show, tetapi memindahkan konteks—membawa ekosistem, cerita, dan sensibilitas Chanel ke dalam lensa yang segar dan relevan bagi wilayah ini. Lebih dari sebuah presentasi mode, langkah ini menegaskan komitmen jangka panjang Chanel dalam menjaga relevansi global, memperluas dunianya, dan tetap setia pada identitas.