Cover Bagi Nicholas Saputra, tetap relevan tidak pernah berarti selalu terlihat. Baginya, ini tentang memilih proyek—dan kehidupan—yang terasa sesuai dengan dirinya (Foto oleh: Vicky Tanzil).

Di saat banyak aktor harus terus hadir di ruang publik demi mempertahankan relevansi, Nicholas Saputra justru membuktikan hal sebaliknya. Selama seperempat abad terakhir, ia begitu selektif dalam menentukan kapan, di mana, dan untuk apa dirinya tampil di hadapan publik

Selama bertahun-tahun, saya beberapa kali berkesempatan berbincang dengan Nicholas Saputra dalam berbagai kesempatan, mulai dari peluncuran film terbaru hingga percakapan tentang minat pribadinya, seperti perjalanan dan isu keberlanjutan. Dari setiap pertemuan, selalu ada sisi baru yang saya temukan, meski ia sendiri kerap merasa tidak terlalu produktif di layar lebar. Dalam perjalanan karier yang telah berlangsung selama 25 tahun sejak debutnya sebagai Rangga di “Ada Apa Dengan Cinta? ”, Nicholas Saputra telah berkembang menjadi aktor dengan kedalaman dan kematangan yang luar biasa.

Rangga mungkin akan selalu menjadi karakter yang paling melekat pada dirinya. Namun, peran tersebut kini berdampingan dengan deretan karakter lain yang turut membentuk sejarah perfilman Indonesia: Soe Hok Gie dalam “Gie ”, Joni dalam “Janji Joni ”, River dalam “The Architecture of Love ”, dan, yang lebih baru, penampilannya dalam film musikal karya Garin Nugroho “Siapa Dia” dan film karya Mouly Surya “Tukar Takdir ”, keduanya dirilis pada tahun 2025.

Meski waktu terus berjalan dan banyak proyek telah ia jalani, sosok Nico—begitu ia akrab disapa— yang saya kenal melalui berbagai percakapan selama hampir 15 tahun nyaris tidak berubah. Setidaknya dari sudut pandang saya, ia bukan tipe yang gemar berbasa-basi atau mengisi keheningan hanya demi menjaga percakapan tetap berlangsung. Setiap jawabannya lahir setelah dipikirkan matang-matang—tenang, terukur, dan penuh pertimbangan. Bagi sebagian orang, sikap itu mungkin terasa dingin. Namun bagi saya, itu justru menunjukkan seseorang yang sejak lama memahami bahwa tidak semua bagian dari dirinya perlu menjadi konsumsi publik.

Di industri yang sering kali mengukur relevansi dari seberapa sering seseorang terlihat, Nico membuktikan selama 25 tahun terakhir bahwa ada cara lain untuk tetap relevan: melalui pilihan-pilihan yang matang, konsistensi, dan karya yang terus berbicara bahkan setelah layar ditutup.

Tatler Asia
Tatler Asia

Hadir Tanpa Harus Selalu Terlihat

Jauh sebelum istilah digital detox, oversharing, atau kelelahan akibat media sosial menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, Nico sudah lebih dulu memilih jalannya sendiri. Saat banyak figur publik merasa perlu terus hadir di hadapan audiens, ia justru tidak pernah merasa harus menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian.

"Dulu banyak yang tidak mengerti kenapa saya bahkan tidak mau menunjukkan wajah di media sosial," kenangnya sambil tertawa. "Semua orang bertanya, 'Kenapa? Semua orang melakukannya. Tinggal tampil saja.'"

Di tengah percakapan, saya sempat berkelakar bahwa batasan yang ia bangun secara naluriah bertahun-tahun lalu justru terasa sangat relevan hari ini. Apa yang dulu dianggap tidak biasa kini semakin lazim, terutama di kalangan Gen Z yang mulai lebih selektif menentukan apa yang ingin mereka bagikan kepada publik dan apa yang ingin tetap menjadi ranah pribadi.

Tatler Asia

Dulu orang-orang kesulitan memahami mengapa saya bahkan tidak ingin menunjukkan wajah saya di media sosial.

- Nicholas Saputra -

Nico hanya tersenyum melihat ironi tersebut. Ia mencontohkan banyak pengguna Gen Z yang hanya mengunggah beberapa foto pilihan, atau bahkan tidak mengunggah apa pun. Menariknya, ia sama sekali tidak melihat hal itu sebagai bukti bahwa dirinya lebih dulu memahami tren. Baginya, keputusan itu semata-mata terasa paling tepat untuk dirinya sendiri.

"Saya rasa itu keputusan terbaik untuk saya," ujarnya.

Bukan karena ia menolak media sosial sepenuhnya. Nico tetap memanfaatkannya untuk mendukung film, brand, maupun proyek yang ia yakini. Namun ia tidak pernah ingin merasa berkewajiban untuk terus tampil, menjelaskan dirinya, atau menjaga eksistensi hanya demi terlihat aktif. Mungkin di situlah letak salah satu karakter terkuatnya. Ia tidak pernah terlalu tertarik memenuhi semua ekspektasi orang lain, melainkan lebih memilih mengenal dirinya sendiri agar tahu ekspektasi mana yang memang layak dipenuhi.

Prinsip yang sama kini ia bagikan kepada para pemeran muda Rangga & Cinta, film yang ia produseri. "Saya dulu tidak punya mentor ketika memulai karier," kenangnya. "Belajar menghadapi ketenaran berarti benar-benar terjun langsung dan mencari tahu semuanya sendiri."

Menurutnya, tantangan generasi aktor saat ini bahkan lebih besar. Penonton sudah datang dengan kenangan dan ekspektasi mereka sendiri, sehingga perbandingan hampir tidak bisa dihindari. "Saya hanya mengingatkan mereka untuk siap menghadapi itu," katanya. "Pada akhirnya, satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita memilih untuk merespons."

Saya kemudian bertanya apakah ia pernah mencari namanya sendiri di internet, sekadar ingin tahu bagaimana publik memandang dirinya. Jawabannya datang tanpa ragu.

Tatler Asia

Pada akhirnya, satu-satunya hal yang benar-benar dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita memilih untuk merespons.

- Nicholas Saputra -

"Don't search yourself. That's the worst thing you can do," ujarnya tegas. "Orang bisa mengatakan apa saja dalam hitungan detik, lalu kita yang memikirkannya berhari-hari. Tidak sepadan. Kita punya kendali, jadi gunakan kendali itu."

Kalimat tersebut seolah merangkum filosofi yang selama ini membentuk cara Nico menjalani kehidupan di ruang publik: bukan berusaha mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain, melainkan memilih dengan sadar apa yang memang layak mendapatkan perhatiannya.

Tatler Asia

Don't search yourself. That's the worst thing you can do

- Nicholas Saputra -

Mengalir Seperti Air

Industri hiburan sering kali mengagungkan perubahan besar. Setiap beberapa tahun, seorang aktor seolah dituntut untuk hadir dengan citra baru, strategi baru, atau arah karier yang benar-benar berbeda. Nico tidak pernah melihat pekerjaannya dengan cara seperti itu. "Saya suka semuanya berjalan pelan," katanya. "Rasanya lebih matang, lebih organik. Saya bukan orang yang suka merencanakan perubahan besar." Filosofi yang terdengar sederhana, terlebih untuk seseorang yang telah menjalani karier selama lebih dari dua dekade.

Ketika saya bertanya apakah ia memiliki rencana lima tahun ke depan, ia nyaris mengabaikan gagasan tersebut. "Saya selalu merasa semuanya mengalir," ujarnya. "Seperti air, dan semoga akhirnya sampai ke tujuan." Alih-alih memetakan setiap langkah karier secara rinci, ia lebih memilih hadir sepenuhnya pada apa yang sedang dijalani hari ini—memberikan perhatian pada hal yang terasa bermakna sekarang, lalu membiarkan langkah berikutnya datang secara alami.

Mendengarnya berbicara, saya menyadari bahwa Nico tidak pernah digerakkan oleh rasa tergesa-gesa. Tidak ada kesan sedang berlomba dengan waktu atau mengejar relevansi sebelum kesempatan itu hilang. Kariernya berkembang perlahan, lebih dipandu oleh rasa ingin tahu, intuisi, dan kesediaan untuk membiarkan setiap fase membawanya menuju fase berikutnya.

Ironisnya, justru ritme yang lebih lambat itulah yang membuatnya mampu bertahan. Dua puluh lima tahun sejak pertama kali melangkah ke dunia perfilman, Nico tetap menjadi salah satu aktor paling dihormati di Indonesia karena ia percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berkembang.

Tatler Asia

Orang bisa mengatakan apa pun yang mereka inginkan dalam hitungan detik, dan kemudian Anda yang memikirkannya selama berhari-hari. That's not worth it. You have control, make sure you use it.

- Nicholas Saputra -

Menjaga Keseimbangan di Luar Pekerjaan

Ada satu kata yang terus muncul sepanjang percakapan kami: keseimbangan.

Kata itu hadir ketika Nico berbicara tentang media sosial. Muncul lagi saat kami membahas pekerjaannya, minatnya di luar dunia film, hingga kepeduliannya terhadap lingkungan—isu yang telah lama ia dukung. Baginya, alam adalah pengingat bahwa segala sesuatu hanya bisa bertahan melalui keseimbangan. Hutan, ekosistem, bahkan interaksi paling kecil sekalipun, semuanya bergantung pada kemampuan untuk hidup berdampingan, bukan saling mendominasi. Kehidupan manusia, menurutnya, seharusnya juga berusaha mencapai keseimbangan yang sama.

Dari sana, pembicaraan kami meluas melampaui isu konservasi. Kami berbicara tentang cara manusia menjalani kehidupan modern.Kita hidup di era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses memahami. Opini terbentuk bahkan sebelum ada ruang untuk benar-benar mencerna. Algoritma perlahan menguatkan keyakinan yang sudah kita miliki, hingga dunia terasa semakin sempit.

Bagi Nico, jawabannya bukan sekadar keluar dari media sosial. Yang lebih penting adalah bepergian dengan tujuan, kembali terhubung dengan orang-orang yang dipercaya, memilih percakapan nyata dibanding terus menggulir layar, atau sesederhana menikmati waktu saat menyetir.

Tatler Asia

Mengamati alam mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada melalui keseimbangan

- Nicholas Saputra -

Menyetir, katanya, justru menjadi aktivitas yang terasa meditatif. Tanpa refleks mengambil ponsel, perhatiannya kembali sepenuhnya ke jalan, sementara dunia perlahan terbuka melalui kaca depan mobil. Berenang pun memberikan pengalaman serupa—kesempatan langka untuk benar-benar hadir bersama pikirannya sendiri.

Di era yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan, realitas yang dikurasi, dan arus informasi tanpa henti, Nico percaya bahwa hubungan antarmanusia justru menjadi semakin berharga.

"Ngobrol langsung dengan orang itu rasanya menyegarkan," ujarnya singkat.

Saat pertemuan selesai, saya baru menyadari bahwa kami hampir tidak membahas soal ketenaran. Percakapan kami justru mengalir menuju hutan, perjalanan, media sosial, keseimbangan hidup, hingga disiplin sederhana untuk memberi perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting.

Mungkin di situlah letak alasan Nicholas Saputra tetap relevan hingga hari ini. Sebab pada akhirnya, relevansi bukan selalu soal terus mengikuti perubahan. Terkadang, relevansi justru lahir dari kemampuan untuk mengetahui apa yang layak dipertahankan.

Credits

Fotografi: Vicky Tanzil
Arahan kreatif: Hans Hambali
Wawancara: Adeste Adipriyanti
Grooming: Ryan Ogilvy
Rambut: Muhammad Adhar Alinsky
Desain set: KhayalKini
Pakaian: Biyan, Sapto Djojokartiko