Cover Bagi Ameli Amialishka, FreedBallet bukan sekadar proyek biasa, melainkan perwujudan mimpi masa kecil (Foto: FreedBallet)

Apa jadinya jika seorang penari melepas panggung besar demi mimpi yang lebih personal? Ameli Amialishka menjawabnya lewat Freed Ballet

Ameli Amialishka baru saja menuntaskan pertunjukan balet yang unik bersama FreedBallet di Jakarta, 19 April 2025 lalu. Gelaran ini terasa tak biasa karena koreografi balet yang dipersiapkan Ameli bersanding dengan musik film karya Hans Zimmer sambil diiringi iringan orkestra secara langsung. Meski kali ini ia tidak tampil di atas panggung namun pertunjukan ini tetap membawa jejak tangannya, dari arahan koreografi, latihan emosional para penari, hingga detail kostum dan suasana panggung. Apalagi Ameli mengaku jika musik karya Hans Zimmer selalu menginspirasinya. Termasuk Ameli remaja saat berusia 14 tahun dan menempuh pendidikan di Vaganova Ballet Academy yang mulai membuat koreografi sendiri menggunakan musik Hans Zimmer. “Ada kedalaman, emosi, dan skala sinematik yang dimilikinya. Bahkan sejak saat itu, saya sudah ingin memadukan fondasi balet klasik dengan sesuatu yang lebih bebas, ekspresif, dan hidup,” ungkap Ameli.

Baca juga: Bagaimana Diego Yanuar menaklukkan salah satu ultramaraton tersulit di dunia

Tatler Asia
Above Ameli dan Vitally Amialishka mendirikan FreedBallet saat tinggal di Bali (Foto: FreedBallet)
Tatler Asia
Above Ameli dan Vitally Amialishka nyaris selalu bersama di luar dan di atas panggung (Foto: FreedBallet)

Gagasan FreedBallet lahir di Bali

Ini bukan pertama kalinya Ameli dan suaminya yang juga partner menarinya, Vitally Amialishka, datang ke Jakarta. Sesungguhnya Indonesia memiliki makna tersendiri bagi keduanya. “Ketika saya dan suami meninggalkan dunia teater dan berada di Bali pada awal pandemi, kami berada dalam kondisi tanpa pekerjaan — tetapi kami justru memiliki waktu untuk merenung dan benar-benar memikirkan apa yang kami inginkan dalam hidup,” ungkapnya. Ya, keduanya sempat menjadi penari balet di sebuah teater prestisius di Rusia, Mariinsky Theatre

“Kami memiliki keinginan yang sangat kuat untuk terus menari, apa pun yang terjadi, dan mulai mengorganisir pertunjukan kami sendiri. Perlahan-lahan, keinginan itu tumbuh menjadi sebuah proyek yang sepenuhnya nyata. Ketika saya hamil, seiring dengan perjalanan menantikan kelahiran anak, muncul pula pemahaman bahwa saya ingin menciptakan sesuatu milik saya sendiri — sebuah ruang di mana kami tidak hanya bisa menari, tetapi juga bertumbuh dan mengekspresikan diri dengan lebih bebas dan mendalam. Dari sanalah FreedBallet lahir.” 

Selama empat tahun ia dan suami tinggal di Indonesia, maka negara ini telah jadi rumah kedua bagi keduanya. Ameli merasa jatuh cinta pada kehangatan orang-orangnya, juga pada tarian tradisionalnya yang penuh jiwa. “Setiap tarian di sini membawa cerita dan roh dari masyarakatnya. Itu sangat indah dan menyentuh.”

Tatler Asia
Above Ameli tumbuh bersama balet sejak usia 1,5 tahun (Foto: FreedBallet)

Mulai kenal balet sejak balita

Saat Ameli Amialishka masih berusia satu setengah tahun, ibunya memperhatikannya berdiri di ujung jari, menirukan gerakan balet yang ia tonton di televisi. Sejak saat itu, tarian bukan hanya menjadi hobi masa kecil—tapi bahasa, napas, dan cara Ameli memahami dunia.

Tumbuh bersama balet, Ameli berkesempatan belajar dari banyak guru profesional. Namun, ada satu hal yang ia rasa kurang ia temukan: seorang mentor sejati—seseorang yang tak hanya membimbing teknik, tapi juga mendampingi pertumbuhan sebagai seniman dan manusia. Ketidakhadiran sosok itu membuatnya mengambil langkah besar: meninggalkan dunia teater dan memilih jalan sebagai seniman bebas.

Gerakan harus lahir dari rasa

Tatler Asia
Above Ameli percaya bahwa panggung adalah tempat kita memberi, tapi juga tempat kita menerima (Foto: FreedBallet)

Tak hanya sebagai penari, Ameli juga menjadi seorang koreografer. Ia punya pendekatan yang sangat personal, yang percaya bahwa setiap gerakan harus lahir dari rasa, dari cerita yang ingin disampaikan. Ia ingin para penarinya tidak hanya menghafal koreografi, tapi memahami kenapa mereka bergerak—apa yang ingin disampaikan melalui tubuh mereka.

Di balik layar, Ameli masih menjaga ritual kecil yang ia lakukan sejak lama: menyentuh atau mencium panggung sebelum pertunjukan dimulai. “Rasanya seperti menyapa ruang sakral,” ucapnya. “Panggung adalah tempat kita memberi, tapi juga tempat kita menerima. Ada hubungan timbal balik yang hidup.”