From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Cover Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Onitsuka Innovative Factory menjadi episentrum kreatif Onitsuka Tiger, tempat tradisi, teknologi, dan desain kontemporer bertemu

Di era ketika brand berlomba menjadi lebih cepat, lebih besar, dan lebih “global”, keputusan Onitsuka Tiger untuk membangun Onitsuka Innovative Factory di Tottori terasa hampir subversif. Ini bukan Tokyo, bukan pula Milan, dua poros yang selama ini menjadi simbol legitimasi fashion dunia. Ini adalah prefektur yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk industri. Dan menurut Tatler, justru di situlah letak pesan terkuatnya.

Satu hal terlihat jelas saat Tatler diundang untuk hadir ke Onitsuka Innovative Factory pada bulan Januari lalu:  pabrik ini bukan sekadar investasi infrastruktur, melainkan sebuah sikap ideologis. Konsepnya seakan menjadi penolakan halus terhadap logika industri fashion modern yang kerap mengorbankan kedalaman demi kecepatan, dan makna demi skala. Dengan kembali ke tanah kelahiran pendirinya, Kihachiro Onitsuka, brand ini seakan berkata: kemewahan sejati tidak lahir dari pusat perhatian, melainkan dari konsistensi nilai.

Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Onitsuka Innovative Factory menyatukan riset material, desain, dan produksi dalam satu atap, sebuah model yang semakin langka di dunia fashion global. Banyak brand berbicara tentang craftsmanship, namun hanya sedikit yang benar-benar mempertaruhkan struktur bisnisnya untuk melindungi proses tersebut. Dalam konteks ini, Onitsuka Tiger bukan hanya meromantisasi warisan Jepang, tetapi menginstitusikannya, menjadi sebuah heritage yang dioperasionalkan.

Lebih menarik lagi, langkah ini datang di momen ketika konsumen luxury global mulai lelah dengan narasi instan. Logo besar dan kolaborasi cepat kehilangan daya magisnya. Yang kini dicari oleh audiens adalah keaslian—bukan sebagai gimmick pemasaran, tetapi sebagai prinsip kerja. Tampaknya, Onitsuka Tiger membaca perubahan ini dengan cermat. Alih-alih mengejar validasi Barat, ia membangun pusat gravitasinya sendiri, di tanah kelahirannya.

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 4 Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
Photo 2 of 4 Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
Photo 3 of 4 Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
Photo 4 of 4 Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Penguatan lini NIPPON MADE dan THE ONITSUKA lewat fasilitas Onitsuka Innovative Factory menegaskan satu hal penting: masa depan luxury tidak lagi hanya tentang desain, tetapi tentang kontrol. Kontrol atas kualitas, atas cerita, dan atas tempo. Dalam industri yang semakin terfragmentasi, kemampuan untuk mengelola seluruh siklus penciptaan adalah bentuk kekuatan yang sesungguhnya.

Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Masuknya Onitsuka Tiger ke produksi tas kulit juga patut dibaca dengan lebih kritis. Dari analisa kami, ini bukan sekadar ekspansi kategori, melainkan sebuah pernyataan bahwa brand ini siap berbicara dalam bahasa lifestyle luxury yang lebih luas tanpa kehilangan identitas fungsionalnya. Di sinilah banyak brand lain tersandung: ingin menjadi segalanya, lalu kehilangan inti. Onitsuka Tiger tampak sangat berhati-hati. Melalui penjelasan dari Yasuhito Hirota, CEO Asics Global, dan Ryoji Shoda, Company Head Onitsuka Tiger pada acara pembukaan Onitsuka Innovative Factory di Tottori pada buan Januari lalu, ekspansi ini berjalan dengan organik, bukan sebuah langkah oportunistik.

Dimensi budaya dari pabrik ini, mulai dari galeri arsip, auditorium, hingga Onitsuka Gallery Store, menunjukkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana nilai brand dibangun hari ini. Seperti yang sudah banyak dibicarakan, kini konsumen tidak lagi puas dengan produk; mereka haus akan konteks. Konsumen modern ingin memahami bagaimana sesuatu hal dibuat, oleh siapa, dan mengapa. Dalam hal ini, Onitsuka Innovative Factory berfungsi sebagai ruang naratif, bukan sekadar ruang industri.

Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Simbol paling kuat dari filosofi ini hadir lewat MEXICO 66 NM L9, hasil kolaborasi dengan Tomohisa Yamashita. Terinspirasi dari bukit pasir Tottori, sepatu ini menolak estetika yang berteriak. Ia tidak mencoba menjadi “ikon baru” yang agresif. Sebaliknya, ia hadir dengan kesenyapan, warna yang tertahan, material yang berbicara pelan, dan produksi yang dibatasi. Bagi Tatler, ini adalah kemewahan yang matang: percaya diri tanpa perlu validasi massal.

Namun yang membuat langkah Onitsuka Tiger benar-benar relevan adalah keberaniannya mengikat pertumbuhan global dengan tanggung jawab lokal. Kolaborasi dengan Prefektur Tottori, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga pengembangan talent, menunjukkan bahwa sustainability bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga sosial dan kultural. Langkah ini semakin terlihat jelas melalui pernyataan Shinji Hirai​, Gubernur Tottori Prefecture​, dan Kentaro Date, Walikota dari Sakaiminato City, yang dengan bangga menyambut hadirnya Onitsuka Innovative Factory. Ini adalah model yang jarang dibicarakan, namun semakin krusial dalam diskursus luxury-business.

Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Setelah puas berkeliling seluruh ruangan di Onitsuka Innovative Factory sembari mempelajari bagaimana brand ini mengutamakan Japanese craftmanship pada seluruh lini, Tatler kemudian dituntun kepada suatu bangunan kosong yang disulap menjadi sebuah restoran: Onitsuka Tiger Ristorante. Di sini, seluruh media yang diundang dari berbagai belahan dunia, dikejutkan oleh sebuah ambiance remang dan tenang, dengan hidangan farm-to-table yang mengedepankan bahan dasar dari prefektur Tottori, dan chef Yojito Kuyoshi memimpin tim-nya menghidangkan five-course meal dari atas panggung.

Pengalaman ke ranah kuliner melalui  Onitsuka Tiger Ristorante, walaupun masih terbatas hadir dalam sebuah pop-up event,  memperjelas satu hal: Onitsuka Tiger tidak melihat dirinya sekadar sebagai brand fashion. Ia memposisikan diri sebagai entitas budaya. Dari sepatu, ruang, hingga makanan, semuanya dirajut dalam satu ekosistem nilai. Ini adalah pendekatan yang menuntut kesabaran dan keberanian untuk tidak selalu terlihat “trendi”.

Tatler Asia
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots
Above Dari Tottori ke dunia: Onitsuka Tiger dan seni bertumbuh tanpa kehilangan akar
From Tottori to the world: Onitsuka Tiger and the art of growing without losing your roots

Dalam lanskap global yang semakin bising, Onitsuka Innovative Factory mengajukan pertanyaan yang lebih besar: apakah kemewahan masih tentang eksposur, atau tentang kedalaman? Apakah masa depan fashion akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat beradaptasi, atau oleh mereka yang paling teguh memahami siapa dirinya? Dengan memilih Tottori sebagai titik pusat, Onitsuka Tiger seakan memberi jawabannya sendiri. Dan bagi Tatler, inilah pelajaran terpentingnya: bahwa di dunia yang terus bergerak maju, kadang langkah paling visioner adalah berani untuk pulang—dan membangun dari sana.


Baca juga:

Thresholds: pameran kelompok seniman Indonesia di White Cube Hong Kong

Under The Same Sky: Bagaimana Rolex Award Laureate Miranda Wang merintis era baru daur ulang plastik sirkular

Louis Vuitton menandai 130 tahun monogram dengan ikon warisan dan koleksi kapsul baru