Dari Pondicherry di India hingga Kurashiki di Jepang, berjalan-jalanlah melalui destinasi paling mudah dijelajahi di Asia
Berjalan menyusuri kota lebih dari sekadar cara untuk berpindah dari titik A ke titik B—melainkan cara untuk memahami ritmenya, rahasianya, dan jiwanya. Meskipun jendela limusin dan lounge bisnis menawarkan kenyamanan, seringkali hal itu membuat wisatawan terputus dari denyut nadi kota yang sesungguhnya. Karakter sejati sebuah kota terungkap perlahan: dalam pesona kedai teh yang tenang dan tersembunyi, aroma asap yang menyelimuti pasar malam, dan patina lapuk dari etalase pertokoan berusia seabad.
Jadi, platform perjalanan digital Agoda telah menyusun tujuh destinasi di seluruh Asia di mana berjalan kaki bukan sekadar pilihan—melainkan cara terbaik untuk merasakan atmosfer unik setiap kota. Jadi, bersiaplah, luangkan waktu Anda, dan temukan kembali seni perjalanan—selangkah demi selangkah.
Baca juga: Kota Asia ini satu-satunya yang masuk 10 besar kota terbaik dunia
1. Hanoi, Vietnam

Above Jelajahi Hanoi untuk merasakan sejarahnya (Foto: Getty Images)
Kawasan Old Quarters di Hanoi, yang terletak di sebelah barat dan utara Danau Hoàn Kiếm, mungkin merupakan persimpangan dari 36 jalan, tetapi masing-masing jalan dipenuhi kuil, pagoda, kafe-kafe kecil, dan tempat makan yang memenuhi trotoar. Setiap jalan dinamai berdasarkan perdagangan kuno yang dilakukan di jalan-jalan tersebut pada abad ke-15. Contohnya, Hàng Đường (Jalan Gula), yang dulu dipenuhi toko-toko yang memamerkan piramida kue karamel, kini telah berubah menjadi jalan yang ramai dengan kios-kios permen dan kopi kelapa aromatik. Lalu, ada Hàng Mã (Jalan Kertas Doa), yang terkenal dengan lentera kertas warna-warni dan uang hantu, sebuah tradisi yang telah berkembang pesat dari awal hingga saat ini. Dan jangan lewatkan Jalan Hàng Đồng (Jalan Tembaga), tempat barang-barang tembaga dijual di masa lalu. Bahkan sekarang, masih banyak yang bisa ditemukan di lingkungan ini, mulai dari es krim Tràng Tiền yang selalu populer hingga perhiasan dan suvenir mewah di Hàng Bạc (Jalan Perak).
2. Kurashiki, Jepang

Above Gudang berdinding putih ini terletak di sebelah Sungai Kurashiki (Foto: Panduan Wisata Resmi Prefektur Okayama)
Kawasan Bersejarah Bikan di Kurashiki, Prefektur Okayama, bukan sekadar pemandangan indah seperti di kartu pos—tempat ini adalah diorama hidup dari Jepang pada zaman Edo. Di sini, gudang-gudang hitam-putih (kura), yang berasal dari abad ke-17, masih berjajar di sepanjang kanal-kanal yang dulunya ramai dengan tongkang-tongkang beras. Kini, gudang-gudang menawan ini menjadi rumah bagi galeri-galeri seni indie, termasuk Museum Ohara, museum seni Barat pertama di Jepang.
Untuk sentuhan unik, jangan lewatkan Museum Jeans Betty Smith di Jalan Jeans Kojima. Di sini, Anda dapat berpartisipasi dalam lokakarya denim di Bikan Club, tempat Anda berkesempatan menjahit jeans Anda sendiri—lagipula, Prefektur Okayama adalah ibu kota jeans Jepang.
Sambil menyusuri jalanan, pertimbangkan untuk menyewa yukata (jubah musim panas katun tradisional tanpa lapisan) dan menyusuri kanal dengan perahu beralas datar. Kisah-kisah tentang pedagang samurai dari tukang perahu gratis, dan pemandangan jembatan yang ditumbuhi tanaman ivy? Tak ternilai harganya.
3. Chiang Khan, Thailand

Above Chiang Khan memiliki banyak toko dan makanan jalanan untuk dijelajahi (Foto: Getty Images)
Chiang Khan adalah kota tepi sungai yang menawan di sepanjang Sungai Mekong di Loei, Thailand. Salah satu jalannya yang paling ramai adalah Jalan Chai Khong, jalan pejalan kaki yang terkenal ramah pejalan kaki. Jalan ini bukan sekadar zona bebas mobil, melainkan kapsul waktu yang dipenuhi rumah-rumah toko kayu jati tradisional. Toko-toko unik ini memamerkan kerajinan tangan lokal dan merupakan tempat yang sempurna untuk membeli suvenir. Jangan lewatkan kesempatan untuk membeli khao ji (nasi ketan bakar) dari gerobak dan berjalan-jalanlah ke Kuil Wat Tha Khok untuk menikmati pemandangan Sungai Mekong yang menakjubkan.
Saat malam tiba, jalan berubah menjadi pasar malam yang ramai, dipenuhi dengan makanan jalanan yang lezat dan alunan musik rakyat, termasuk lagu-lagu balada pedesaan Thailand yang merdu.
Kalau Anda melewatkannya: Kota-kota ini memiliki cakrawala terbaik di dunia—kota mana yang akan Anda kunjungi?
4. Melaka, Malaysia

Above Kota Tua Melaka terletak di seberang sungai dari Dutch Square (Foto: Getty Images)
Kawasan UNESCO Melaka, atau Kota Tua Melaka, telah berkembang selama lebih dari 500 tahun melalui perdagangan dan pertukaran budaya antara Timur dan Barat di Selat Malaka. Kawasan ini merupakan perpaduan kincir angin Belanda, perhiasan Peranakan, dan kue tart custard Portugis. Jika Anda ingin rehat kopi, jangan lewatkan Calanthe Cafe di dekat Jonker Street, sebuah tempat unik yang menawarkan kesempatan bagi para pencinta kopi untuk mencicipi kopi yang mewakili masing-masing dari 13 negara bagian Malaysia. Bagi para penggemar sejarah, kunjungilah dinding merah tua Stadthuys, tempat sebuah terowongan rahasia dulunya digunakan untuk menyelundupkan rempah-rempah; dan Museum Warisan Baba & Nyonya, yang berasal dari abad ke-17.
Tiap malam akhir pekan, Jalan Jonker (yang secara resmi berganti nama menjadi Jalan Hang Jebat) diramaikan dengan kios-kios warna-warni dan gerai makanan kaki lima yang berjejer di sepanjang jalan, yang menjajakan segala hal mulai dari sepatu manik-manik hingga cendol durian yang populer.
5. Pondicherry, India

Above Kawasan Prancis di Pondicherry, India (Foto: Getty Images)
Pondicherry (kini bernama Puducherry), yang terkenal dengan perpaduan unik budaya Prancis dan India, terletak di India Selatan. Di jantung kota pesisir ini terdapat French Quarter yang ikonis (juga dikenal sebagai White Town), yang berawal dari abad ke-17 ketika Pondicherry masih menjadi koloni Prancis. Hingga kini, banyak jalan di sana dinamai menurut nama pejabat dan jenderal Prancis, seperti Rue Suffren dan Rue Dumas. Distrik ini menawan dengan arsitektur era kolonial, jalanan berbatu, dan nuansa Eropa yang khas. Saat berkeliling, Anda mungkin merasa seperti dibawa ke desa Prancis yang kuno, penuh dengan bangunan-bangunan berwarna pastel dengan jendela-jendela melengkung yang anggun dan balkon-balkon berornamen.
6. Gyeongju, Korea Selatan

Above Desa tradisional Gyochon memberikan wawasan tentang gaya hidup masa lalu (Foto: Agoda)
Gyeongju adalah harta karun tersembunyi di Korea Selatan bagian timur. Situs Warisan Dunia UNESCO ini menampilkan gundukan pemakaman berumput yang dulunya menyimpan harta karun dari Dinasti Silla yang berusia 1.500 tahun.
Bagi para pecinta kuliner, kunjungan ke Hwangnam Bread wajib dikunjungi. Toko roti keluarga ini, yang berdiri sejak tahun 1940-an, menawarkan hwangnam-ppang yang lezat, kue kacang merah berbentuk bunga. Untuk pengalaman unik, kunjungi Desa Tradisional Gyochon Hanok, tempat Anda dapat menyaksikan demonstrasi ssireum (gulat Korea).
Jangan lupa untuk mengunjungi beberapa landmark ikonik Gyeongju, terutama Jembatan Woljeonggyo saat matahari terbenam—jembatan ini diterangi seperti adegan yang diambil langsung dari drama Korea.
7. Taipei, Taiwan
Taipei dikenal sebagai "kota 15 menit", sebuah konsep dalam perencanaan kota yang memungkinkan penduduknya mengakses berbagai layanan penting, fasilitas umum, dan fasilitas rekreasi dengan mudah hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda dari rumah mereka. Awali pagi Anda di Jalan Dadaocheng yang berusia seabad, tempat Anda dapat menikmati sarapan tradisional berupa bubur daging, lalu berjalan-jalan santai untuk mengungkap kekayaan sejarah budaya daerah ini.
Jangan lewatkan kesempatan untuk mendaki Elephant Mountain Trail saat matahari terbenam—pemandangan kota yang memukau berpadu sempurna dengan teh bubble yang menyegarkan dari Fiftyland. Di malam hari, nikmati hidangan lokal seperti omelet tiram dan ayam goreng di Shilin, pasar malam turis terbesar di Taipei.
This story was originally written in English by Tricia Li.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Tricia Li dan diterbitkan pada10 Juni 2025. Read the original story here.
Topics




