CANNES, FRANCE - MAY 17: Pedro Pascal poses during the "Eddington" photocall at the 78th annual Cannes Film Festival at Palais des Festivals on May 17, 2025 in Cannes, France. (Photo: Gareth Cattermole/Getty Images)
Cover Selebriti kutu buku Pedro Pascal berpose dan sering terlihat membaca buku dalam momen-momen yang tidak terduga. Berikut adalah sepuluh buku yang benar-benar telah ia baca dan sukai. (Foto: Gareth Cattermole/Getty Images)
CANNES, FRANCE - MAY 17: Pedro Pascal poses during the "Eddington" photocall at the 78th annual Cannes Film Festival at Palais des Festivals on May 17, 2025 in Cannes, France. (Photo: Gareth Cattermole/Getty Images)

Ingin memahami Pedro Pascal di balik layar? Mulailah dengan sepuluh buku yang benar-benar ia baca dan sukai

Pedro Pascal tidak hanya memilih peran dengan kompleksitas emosional— koleksi bukunya menunjukkan bahwa ia mencari hal serupa dalam sastra. Dari kisah epik Rusia yang kelam hingga refleksi tentang kecanduan, daftar bacaannya mengungkap sosok yang tertarik pada nuansa, sisi gelap, dan keindahan yang tenang. Jika kamu penasaran dengan dunia batin salah satu aktor paling diburu di Hollywood, inilah pandangan dekat terhadap buku-buku yang pernah ia rekomendasikan atau terlihat sedang dibacanya. Anggap saja ini bacaan wajib untuk memahami sosok di balik baju zirah, pesona, dan meme.

Baca selengkapnya: 7 buku audio non-fiksi yang akan memperluas pikiran Anda

1. 'Crime and Punishment' oleh Fyodor Dostoyevsky

Tatler Asia
‘Crime and Punishment’ by Fyodor Dostoyevsky (Photo: Penguin Classics)
Above 'Crime and Punishment' oleh Fyodor Dostoyevsky (Sampul: Penguin Classics)
‘Crime and Punishment’ by Fyodor Dostoyevsky (Photo: Penguin Classics)

Crime and Punishment adalah karya teror psikologis yang mengupas kemerosotan moral seorang mantan mahasiswa miskin yang percaya bahwa ia dibenarkan melakukan pembunuhan. Melalui monolog yang berapi-api dan siksaan eksistensial, Dostoyevsky mengeksplorasi rasa bersalah, kehendak bebas, dan penebusan dosa. Pedro Pascal menyebutnya "salah satu bacaan terhebat yang pernah saya alami", dengan mengutip kecepatan dan kedalamannya—bukti dari keinginannya untuk narasi introspektif dan berisiko tinggi.

Jangan lewatkan: Film horor psikologis ini akan mengacaukan pikiran Anda

2. 'Watership Down' oleh Richard Adams

Tatler Asia
‘Watership Down’ by Richard Adams (Photo: Puffin Classics)
Above 'Watership Down' oleh Richard Adams (Sampul: Puffin Classics)
‘Watership Down’ by Richard Adams (Photo: Puffin Classics)

Sering disalahartikan sebagai dongeng binatang yang manis, Watership Down sebenarnya adalah kisah epik tentang bertahan hidup. Dalam novel ini—yang telah diubah menjadi film animasi klasik pada tahun 1978, dan dibuat ulang untuk Netflix pada tahun 2018—sekelompok kelinci melarikan diri dari kehancuran sarang mereka dan menghadapi kebrutalan, otoritarianisme, dan pengasingan. Ini adalah kisah tentang perlawanan dan komunitas yang diceritakan dengan nada-nada politis yang mengejutkan. Pedro Pascal pernah bercerita bahwa membaca saat masih kecil adalah hal yang sangat sulit baginya, dan pengalaman itu meninggalkan bekas emosional.

3. 'One Hundred Years of Solitude' oleh Gabriel García Márquez

Tatler Asia
‘One Hundred Years of Solitude’ by Gabriel García Márquez (Photo: Penguin)
Above 'One Hundred Years of Solitude' oleh Gabriel García Márquez (Sampul: Penguin Classics)
‘One Hundred Years of Solitude’ by Gabriel García Márquez (Photo: Penguin)

One Hundred Years of Solitude mungkin merupakan novel Gabriel Garcia Marquez yang paling terkenal, yang akhir-akhir ini telah diubah menjadi drama yang memukau di Netflix. Karya klasik Amerika Latin ini mengisahkan tujuh generasi keluarga Buendía di kota fiksi Macondo. Dengan memadukan cerita rakyat , revolusi, dan krisis eksistensial, García Márquez menangkap bagaimana sejarah berulang dalam siklus cinta dan kehilangan. Pascal memuji cara buku itu menggambarkan kesedihan dan kenangan dengan puitis, sejalan dengan ketertarikannya pada trauma lintas generasi dan hal-hal yang bersifat surealis.

4. 'The Master and Margarita' oleh Mikhail Bulgakov

Tatler Asia
‘The Master and Margarita’ by Mikhail Bulgakov (Photo: Penguin Classics)
Above 'The Master and Margarita' oleh Mikhail Bulgakov (Sampul: Penguin Classics)
‘The Master and Margarita’ by Mikhail Bulgakov (Photo: Penguin Classics)

Berlatar di Moskow, Soviet, The Master and Margarita adalah novel yang memusingkan namun memikat, yang mengikuti sosok Iblis saat ia mendatangkan malapetaka bersama seekor kucing yang bisa berbicara bernama Behemoth. Ceritanya berpindah-pindah antara satir absurd dan pengisahan ulang pertemuan Pontius Pilatus dengan Yesus. Pedro Pascal menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya, dan itu masuk akal: novel ini penuh kekacauan, politis, dan metafisik—mirip dengan banyak karya terbaiknya.

5. 'Franny dan Zooey' oleh JD Salinger

Tatler Asia
‘Franny and Zooey’ by J.D. Salinger (Photo: Penguin)
Above 'Franny dan Zooey' oleh JD Salinger (Sampul: Penguin Classics)
‘Franny and Zooey’ by J.D. Salinger (Photo: Penguin)

Novela dua bagian karya JD Salinger, Franny & Zooey, adalah drama keluarga yang dipenuhi krisis spiritual dan kelumpuhan intelektual. Franny, seorang mahasiswa, hancur karena beban kepura-puraan akademis dan keraguan eksistensial. Kakaknya, Zooey, menawarkan penghiburan filosofis dalam bentuk dialog tajam dan ketenangan khas Salinger. Pascal menyebutnya sebagai salah satu bacaannya yang paling membentuk dirinya.

6. 'Jane Eyre' oleh Charlotte Brontë

Tatler Asia
‘Jane Eyre’ by Charlotte Brontë (Photo: Penguin Classics)
Above 'Jane Eyre' karya Charlotte Brontë (Sampul: Penguin Classics)
‘Jane Eyre’ by Charlotte Brontë (Photo: Penguin Classics)

Novel bildungsroman  bergaya gothic karya Charlotte Brontë ini menelusuri kehidupan Jane Eyre dari masa kecilnya sebagai yatim piatu hingga menjadi perempuan dewasa yang mandiri. Novel ini menantang peran gender dan kode moral era Victoria melalui seorang tokoh utama yang menolak mengorbankan kebebasannya, bahkan jika itu berarti harus kehilangan kenyamanan dan cinta. Pedro Pascal dikabarkan menjadikan buku ini salah satu favoritnya, kemungkinan karena tertarik pada emosi yang tertahan dan kejelasan moral dalam ceritanya.

 

7. 'The Magic Mountain' oleh Thomas Mann

Tatler Asia
‘The Magic Mountain’ by Thomas Mann (Photo: Vintage Classics)
Above 'The Magic Mountain' karya Thomas Mann (Sampul: Vintage Classics)
‘The Magic Mountain’ by Thomas Mann (Photo: Vintage Classics)

Novel filosofis karya Thomas Mann yang berjudul The Magic Mountain berlatar di sebuah sanatorium tuberkulosis di Pegunungan Alpen Swiss, mengisahkan seorang pemuda yang kunjungan singkatnya berlanjut hingga bertahun-tahun dalam isolasi dan perdebatan. Melalui dialog tentang waktu, penyakit, dan kematian, buku ini menjadi alegori bagi Eropa sebelum Perang Dunia Pertama. Pascal menyebutnya sebagai "meditasi tentang kematian", yang menunjukkan ketertarikannya pada bidang intelektual sekaligus sesuatu yang dramatis.

8. 'Another Country' oleh James Baldwin

Tatler Asia
‘Another Country’ by James Baldwin (Photo: Penguin Classics)
Above 'Another Country' oleh James Baldwin (Sampul: Penguin Classics)
‘Another Country’ by James Baldwin (Photo: Penguin Classics)

Sebuah eksplorasi brutal dan liris tentang ras, seksualitas, dan kegagalan emosional di New York tahun 1950-an, Another Country karya James Baldwin memadukan karakter kulit hitam dan kulit putih yang berjuang melawan hasrat dan keterasingan di kota yang menjanjikan kebebasan tetapi tidak menawarkan banyak perlindungan. Pedro Pascal telah berbicara dengan penuh kekaguman tentang karya Baldwin, dan ketelanjangan emosi pada novel ini mencerminkan penampilannya sendiri yang paling rentan.

9. 'Beloved' dan 'The Bluest Eye' oleh Toni Morrison

Tatler Asia
‘Beloved’ and ‘The Bluest Eye’ by Toni Morrison (Photo: Vintage)
Above 'Beloved' dan 'The Bluest Eye' oleh Toni Morrison (Sampul: Vintage)
‘Beloved’ and ‘The Bluest Eye’ by Toni Morrison (Photo: Vintage)

Beloved berkisah tentang seorang wanita budak yang melarikan diri dan dihantui—secara harfiah dan kiasan—oleh trauma masa lalunya. The Bluest Eye mengisahkan seorang gadis kulit hitam muda yang percaya bahwa hidupnya akan lebih baik jika ia memiliki mata biru. Dalam kedua buku tersebut, Toni Morrison menulis dengan kejelasan yang tak tergoyahkan tentang kekerasan antargenerasi, identitas, dan kelangsungan hidup. Pedro Pascal sering merekomendasikan karyan Morrison dengan dengan menyebut bobot emosional dan kulturalnya.

10. 'The Urge: Our History of Addiction' oleh Carl Erik Fisher

Gabungan antara memoar, ilmu saraf, dan sejarah budaya, The Urge: Our History of Addiction meneliti bagaimana masyarakat telah membingkai kecanduan selama berabad-abad. Buku ini menolak kepanikan moral dan lebih mengutamakan belas kasih dan sains. Pascal mengunggahnya di Instagram, yang menunjukkan bahwa bacaannya tidak terbatas pada fiksi—ia juga tertarik pada buku yang menghilangkan stigma dan menggali perilaku manusia.


This story was originally written in English by  Carmella Bautista.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh  Carmella Bautista dan diterbitkan pada 1 Juli 2025. Read the original story here.

Topics