Sektor penerbangan private jet didorong untuk ikut mengurangi emisi karbon dunia.
Emisi karbon merupakan salah satu penyebab perubahan iklim yang dampaknya paling signifikan. Data dari Global Carbon Project menyatakan, sejak 1959, emisi karbon terus meningkat dari 15,9 gigaton karbon hingga 40,5 giga ton pada 2022. Pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh emisi karbon ini meliputi peningkatan suhu bumi, anomali cuaca, hingga meningkatnya resiko kebakaran hutan.
Oleh karena dampak yang ditimbulkan, pengurangan emisi karbon menjadi misi bersama para penduduk dunia. Kebijakan net zero emissions atau nol emisi karbon mulai dicetuskan melalui Undang-Undang Perubahan Iklim dengan target 2050. Jadi, pada 2050 mendatang diharapkan segala sektor di negara-negara dunia mampu menjaga agar jumlah emisi karbon yang dilepas ke atmosfer tidak lagi melebihi jumlah yang mampu diserap bumi.
Salah satu di antara sektor yang menjadi sorotan adalah penerbangan private jet (swasta). Industri ini dinyatakan punya kontribusi yang cukup besar terhadap pelepasan karbon ke atmosfer. Secara umum, penerbangan dengan private jet menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih tinggi daripada penerbangan dengan pesawat komersial. Menurut sebuah studi oleh Pusat Penelitian Transportasi dan Lingkungan Internasional (ICCT) pada 2019, penerbangan private jet menghasilkan sekitar 10 kali lebih banyak emisi karbon per penumpang dibandingkan dengan penerbangan komersial.
Kabar baiknya, para stakeholders dalam industri tersebut akhirnya turut berkomitmen untuk menyukseskan nol emisi karbon di tahun 2050. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah mengadopsi bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan dan mengembangkan pesawat hibrida dan listrik. Simak lebih lanjut untuk penjelasan lengkapnya.
Kontroversi bisnis private jet

Above Private jet. Foto: CN Traveler.
Kepemilikan terhadap pesawat dan bisnis penerbangan private jet sempat memicu kontroversi. Sebab, ketika menanggulangi perubahan iklim seharusnya merupakan tanggung jawab bersama, adanya pesawat atau penerbangan pribadi ini seolah menunjukkan bahwa sang pemilik abai terhadap dampak emisi karbon yang bisa dihasilkan. Padahal, masyarakat senantiasa selalu dihimbau untuk melakukan berbagai hal guna tidak memperparah perubahan iklim. Misalnya dengan menerapkan konsep daur ulang pada pengelolaan sampah, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, hingga mencari energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Namun, semua usaha itu seolah menjadi sia-sia karena dalam satu kali penerbangan private jet, menghasilkan emisi karbon yang besar.
Penggunaan bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan

Above Sustainable aviation fuel, salah satu harapan untuk masa depan penerbangan yang lebih berkelanjutan. Foto: bp.
Langkah pertama untuk mencapai nol emisi karbon di bisnis private jet adalah untuk meningkatkan penggunaan sustainable aviation fuels (SAFs). SAFs diproduksi dari bahan-bahan terbarukan seperti limbah pertanian dan dapat menurunkan emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional. Lebih lanjut, berdasarkan bahan baku dan teknologi yang digunakan untuk memproduksinya, SAF dapat mengurangi siklus emisi gas rumah kaca secara signifikan. Beberapa jalur SAF yang muncul bahkan memiliki jejak emisi gas rumah kaca yang negatif. Adanya SAF sebagai alternatif yang efisien untuk mengurangi emisi karbon di dunia penerbangan membuat sektor industri penerbangan private jet tak tinggal diam. Investasi berkelanjutan dilakukan untuk menjadikan SAF bahan bakar penerbangan. Pada 2020, lebih dari 5 juta galon SAF digunakan pada penerbangan private jet, meningkat dari hanya 22.000 galon di 2016.
Beralih pada pesawat elektrik dan hybrid

Above Pesawat elektrik. Foto: Pilatus Aircraft.

Above Pesawat hybrid. Foto: Geek Wire.
Cara lain yang tak kalah menjanjikan untuk mengurangi emisi karbon dari penerbangan private jet adalah penggunaan pesawat elektrik dan hybrid. Pesawat elektrik dan hybrid memiliki potensi untuk menurunkan emisi karbon dengan signifikan, utamanya pada penerbangan-penerbangan pendek. Beberapa perusahaan penerbangan private jet telah mulai berinvestasi pada teknologi ini. Contohnya Harbour Air dari Kanada yang telah mengembangkan pesawat amfibi elektrik pertama di dunia dan berencana untuk merubah seluruh armadanya jadi elektrik pada tahun 2025. Demikian pula dengan perusahaan Swiss, Pilatus yang telah mengembangkan pesawat bisnis listrik hybrid yang dapat mengurangi emisi hingga 30%. Pencapaian target dari misi nol emisi karbon 2050 merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat dunia. Sehingga diharapkan seluruh sektor pun sebaiknya turut mendukung misi ini.
Baca juga:
Detail Mewah dalam Superyacht Streamer 888




