mm983_COMO_Uma_Paro_2018
Cover Taktsang Lakhang, juga dikenal sebagai Tiger’s Nest di Paro.
mm983_COMO_Uma_Paro_2018

Tanpa mengorbankan pengalaman mewah, keberlanjutan merupakan inti dari industri pariwisata Bhutan.

Lakhang atau kuil berwarna emas dengan relik suci abadi dan dihuni oleh para biksu yang melantunkan doa dengan khusyuk terlihat hinggap di tebing-tebing indah Bhutan, selayaknya jembatan antara bumi dan langit. Dzhong berusia ratusan abad berdiri dengan kokoh dan terus diwarnai dengan aktivitas masyarakat, membuktikn bagaimana kekayaan budaya dan sejarah Bhutan mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Spiritualitas terpampang nyata saat bendera warna-warni berkibar tertiup angin, membawa harapan dan niat baik saat melintasi lembah hijau Bhutan.

Hanya sedikit negara di dunia yang memiliki suasana misterius seperti Bhutan, sang negeri yang kerap disebut "Tanah Naga Petir." Terletak di ujung timur Himalaya, berdampingan dengan dataran India yang luas di selatan dan wilayah pegunungan Tibet di utara, kerajaan yang damai ini merupakan destinasi yang memang tidak banyak ter-ekspos. Dan memang baik sengaja begitu.

Baca lagi: Sustainable Tourism Advocate Hindy Weber Embarks On An Eco-centric Journey To The Himalayas

Tatler Asia
mm983_COMO_Uma_Paro_2018
Above Pemandian batu panas di COMO Uma Paro.
mm983_COMO_Uma_Paro_2018

“Bagi masyarakat Bhutan, pariwisata lebih dari sekedar sumber pendapatan,” sebut Dorji Dhradhul, Direktur Jenderal Dewan Pariwisata Bhutan. “Di tingkat lokal, pendekatan pariwisata kami bertujuan untuk meningkatkan Kebahagiaan Nasional Bruto, sedangkan dalam level global kami memanfaatkan pariwisata untuk menciptakan kesadaran akan potensi dan pentingnya pembangunan berkelanjutan.”

Digambarkan sebagai indeks yang digunakan Bhutan untuk mengukur kesejahteraan kolektif penduduknya, Kebahagiaan Nasional Bruto atau Gross National Happiness (GNH) diciptakan oleh pemerintah Bhutan dalam Konstitusi 2008. GNH menjadi dasar dari semua pembuatan kebijakan Bhutan.

Baca lagi: Sa Pa, Vietnam: Why You Should Add This Foodie Destination to Your Bucket List

Tatler Asia
Above Teras terbuka di COMO Uma Punakha.

Menjunjung nilai “High Value, Low Impact” dalam kebijakan pariwisatanya, Bhutan giat mendukung prinsip-prinsip keberlanjutan dan melakukan langkah-langkah mitigasi. Salah satu kebijakan yang diambil adalah mengenakan biaya visa sebesar US$250 per hari per orang untuk semua wisatawan yang memasuki negara tersebut. Persentase dari biaya ini akan masuk langsung ke dana pembangunan berkelanjutan milik pemerintah. Memperoleh pujian sebagai satu-satunya negara negatif karbon di dunia dan dengan lebih dari 60 persen dari negaranya ditutupi oleh hutan asli dan pemandangan alam yang subur, dapat dipahami bahwa Bhutan memiliki keinginan kuat untuk melindungi dan melestarikan lingkungan aslinya.

Nilai-nilai ini merupakan inti dari industri pariwisata Bhutan. Sejumlah grup hotel mewah kini memimpin kemajuan pariwisata dengan merangkul keberlanjutan dalam semua aspek, mulai dari desain hingga operasional. “Di COMO Uma Bhutan, kami berkomitmen untuk melindungi lingkungan dan masyarakat di Kerajaan Bhutan,” jelas James Low, manajer umum COMO Uma Bhutan. “Kami mengoperasikan properti kami penuh dengan kasih sayang dan integritas untuk mengupayakan koeksistensi simbiosis di Tanah Kebahagiaan ini.”

Baca juga: WWF Singapore CEO R Raghunathan on the Role of Businesses in Singapore’s Decarbonisation Journey

Tatler Asia
Above Dengan pemandangan lembah yang menakjubkan, properti Thimphu Six Senses dinamai istana di langit.
Tatler Asia
Above Buddha Dordenma menghadap Ibu Kota Bhutan, Thimphu.

Dua properti menakjubkan COMO yang terletak di Paro dan Punakha memiliki akar kuat dalam lanskap alam dan budaya. Dirancang dengan arsitektur tradisional Bhutan, properti ini memadukan kemewahan dari pedesaan dengan warisan budaya, namun tetap dekat dengan alam. “Di COMO Uma Bhutan, kami bertindak sebagai pemelihara, bukan manajer dari destinasi kami,” jelas Jocelyn Whiteside, Direktur Penjualan dan Pemasaran COMO Group, Bhutan. “Hotel kami di Bhutan, COMO Uma Paro dan Punakha membudidayakan spesies pohon lokal dan bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengupayakan reboisasi pohon pinus biru dan cemara di lingkungan sekitar. COMO Uma Paro juga berkomitmen untuk mengembangkan padang rumput bunga liar, taman organik, dan lebih banyak hutan spesies campuran, menggunakan anak pohon ek, hemlock, cemara, serta maple. Langkah-langkah ini membuahkan hasil, menarik beragam jenis burung.”

Grup properti mewah lainnya, Six Senses, yang memulai debutnya di kerajaan Bhutan pada tahun 2019 lalu dengan lima properti di Thimphu, Paro, Punakha, Gangtey, dan Bumthang, juga menempatkan keberlanjutan sebagai kekuatan pendorongnya. Sejalan dengan filosofi tanpa limbah dan program Kebebasan Plastik 2022 mereka, Six Senses Bhutan telah memberhentikan penggunaan semua kemasan plastik yang tidak diperlukan dari perlengkapan kamar tidur dan kamar mandi mereka. “Sistem pembotolan air kami memungkinkan kami untuk menghilangkan ribuan botol air plastik yang memasuki Bhutan setiap tahun,” jelas Andrew Whiffen, country general manager COMO. “Six Senses Bhutan dirancang khusus untuk mengurangi penggunaan energi dan memanfaatkan sumber energi terbarukan sesuai dengan visi negara untuk pariwisata yang bernilai tinggi dan berdampak rendah."

Baca juga: Inside Amankora, Aman Resorts' collection of five luxury properties in the Land of the Thunder Dragon

Tatler Asia
Above Kamar tidur Six Senses Gangtey yang menakjubkan terbuat dari kayu pinus lokal yang menampilkan jendela luas ke arah Lembah Phobjikha.

Grup Six Senses juga terlibat dalam inisiatif pertanian organik dengan melaksanakan proyek dan pelatihan komunitas. Inisiatif tersebut bahkan diintegrasikan ke dalam penawaran pengalaman pengunjung hotel yang memungkinkan tamu untuk mengambil bagian dalam upaya tersebut. Mereka juga telah melakukan investasi di sebuah desa ramah lingkungan seluas 17 hektar tepat di luar Paro, di mana resor bekerja sama dengan petani lokal untuk menanam dan memelihara tanaman organik dan ternak untuk memasok gerai F&B mereka.

“Praktek keberlanjutan kami tidak hanya menjangkau sekadar hotel kami, namun juga mendukung tetangga kami,” kata Whiffen. “Kami memiliki akun terpisah untuk mendukung kepentingan sustainability di mana 0,5 persen dari total pendapatan dikumpulkan untuk mendukung proyek komunitas, satwa liar, dan konservasi lingkungan tertentu di setiap tempat penginapan kami.”

Baca lagi: 10 Large Luxury Villas To Stay In Bali

Tatler Asia
Above Ruang makan Six Senses Thimphu.

Setiap properti di Bhutan menampilkan elemen desain hyperlocal, yaitu menggunakan teknik tradisional yang dipadukan dengan sentuhan minimalis dan modern untuk memberikan pengalaman menginap yang apik dan mewah. Salah satunya adalah lodge yang berada di Six Senses Gangtey. Desainnya terinspirasi dari rumah pertanian tradisional yang memiliki jembatan berkantilever untuk pengamatan burung, cocok untuk mengamati burung bangau berleher hitam yang sudah terancam punah. Menggunakan batu dan kayu lokal, properti ini terintegrasi dengan baik dengan lanskap lingkungannya dan memungkinkan para tamu untuk selalu terhubung dengan alam melalui pemandangan lembah yang indah. Dari desain arsitekturnya terpancar moto dari Six Senses: "Sustainability is not something we do, it’s who we are."

Baca juga:

How Technology Can Improve Our Sustainability Game

Rising from the ashes: Siargao bounces back from Typhoon Odette

Why it's time to revisit Shangri-La Boracay, a sustainable luxury resort in the Philippines

Topics