Cover Esplanade Theatre, Singapore. Foto: Unsplash.

Mengenal pendekatan biomimikri dan 5 desain mengesankan yang terinspirasi dari alam.

Apakah kamu pernah melihat sebuah gedung dan seketika teringat pada seekor hewan atau tumbuhan? Jika kamu menyadarinya, semakin banyak desain di masa kini memiliki kemiripan dengan unsur-unsur alam. Saat desain sebuah bangunan mengambil inspirasi dari alam, para desainer sedang melakukan pendekatan “biomimikri”, sebuah teknik desain yang lumrah digunakan dalam dunia arsitektur. 

Alam menjadi salah satu sumber inspirasi utama bagi para arsitek, dan meniru makhluk hidup maupun hal-hal alamiah yang terjadi di lingkungan telah terbukti menghasilkan desain-desain mengesankan. Tidak hanya meniru secara struktur dan penampilan, biomimikri dalam arsitektur juga dilakukan ketika desain sebuah bangunan meniru fungsi dari alam maupun menggunakan unsur alam sebagai salah satu elemen utamanya. 

Jangan lewatkan: Inside Michelle Yeoh’s new, luxurious Los Angeles hotel-branded residence

Esplanade Theatre, Singapore

Tatler Asia
Above Esplanade Theatre. Foto: DP Architects.
Tatler Asia
Above Detail atap Teater Esplanade. Foto: Unsplash.

Hanya satu jam dari Jakarta, kamu dapat menemukan salah satu contoh biomimikri. Berdiri di dekat Marina Bay Sands, Esplanade Theatre memiliki desain yang tidak kalah mencolok dengan bangunan disekitarnya. Teater yang memiliki luas 60,000 m2 ini mulai dibangun pada tahun 1996 oleh DP Architects dan Michael Wilford & Partners. Desain eksterior yang dipenuhi dengan 7000 bilah segitiga alumunium membuatnya terlihat berduri menyerupai kulit dari buah durian, sehingga warga lokal sering menyebutnya “the Durian”.

Sokasi Cooking School, Bali

Tatler Asia
Above Sokasi Cooking School. Foto: Four Seasons.
Tatler Asia
Above Bagian atap Sokasi Cooking School. Foto: Four Seasons.

Di tepi Sungai Ayung Bali, terdapat sebuah pondok kecil dibuat dari bambu. Pondok tersebut berfungsi sebagai sekolah memasak yang menjadi bagian dari resor Four Seasons Sayan. Meskipun kecil, pondok yang menjadi tempat dari sekolah memasak Sokasi ini memiliki desain yang unik seperti sebuah daun. Perusahaan arsitektur IBUKU membangun Sokasi dengan desain berkelanjutan. Penggunaan bambu serta desain yang terinspirasi dari daun menjadi tambahan sempurna pada lingkungan sekitar sungai yang sangat asri.

30 St Mary Axe (The Gherkin), London

Tatler Asia
Above 30 St Mary Axe (The Gherkin). Foto: Unsplash.
Tatler Asia
Above Venus Flower Basket, inspirasi The Gherkin. Foto: Wiki.

Mungkin kamu tidak menyadari gedung satu ini merupakan hasil dari biomimikri. Telah menjadi salah satu gedung ikonik di kota London sejak dibuka pada tahun 2004, Gherkin didesain menyerupai bentuk keranjang bunga venus (sea sponge). Inspirasi dari keranjang bunga venus tidak hanya diaplikasikan pada bentuknya yang panjang dan memiliki rongga, namun juga fungsinya. Arsitek Norman Foster merancang gedung Gherkin untuk memiliki ventilasi alami dari bentuk bulat yang mengurangi defleksi angin, sehingga mengurangi kebutuhan pendingin ruangan sebesar 50%.

BUGA Wood Pavillion and BUGA Fibre Pavillio, Germany (2019)

Tatler Asia
Above BUGA Wood Pavillion. Foto: ICD/ITKE University of Stuttgart.
Tatler Asia
Above BUGA Fibre Pavilion. Foto: ICD/ITKE University of Stuttgart.

Pada tahun 2019, University of Stuttgart mendirikan dua paviliun dengan desain biomimikri di pertunjukan hortikultura Bundesgartenschau di Jerman. Uniknya, kedua paviliun ini dibangun oleh robot sebagai bagian dari eksperimen biomimikri dan robotiknya. Salah satu paviliun yang dinamakan BUGA Wood Pavillion dibangun dengan material kayu dan mengambil inspirasi dari kerangka bulu babi. Paviliun lainnya, BUGA Fibre Pavilion yang berbahan dasar plastik dan kaca yang diperkuat dengan serat karbon, meniru struktur sayap kumbang.

Beijing National Stadium (Birds Nest), China

Tatler Asia
Above Beijing National Stadium. Foto: Unsplash.
Tatler Asia
Above Beijing National Stadium dari dalam. Foto: Marcel Lam / ARUP.

Stadium Nasional Beijing didesain secara khusus untuk pertandingan Olimpiade Musim Panas tahun 2008. Tim arsitek Herzog & de Meuron pada awalnya mempelajari model keramik Tiongkok dan anyaman garis di sekitar bejana melingkar yang ada pada seni Tiongkok kuno untuk mendesain stadion. Secara tidak sengaja stadion terlihat seperti sarang burung, sehingga ia dikenal dengan julukan “Bird’s Nest”.

Topics