Set in the heart of Sanlitun, the space invites passers-by to reconsider their relationship with grief. (Photo: GuiCong)
Cover Terletak di jantung Sanlitun, rumah duka ini mengajak para pengunjung untuk merenungkan kembali hubungan mereka dengan duka (Foto: GuiCong)
Set in the heart of Sanlitun, the space invites passers-by to reconsider their relationship with grief. (Photo: GuiCong)

Di Beijing, sebuah rumah duka tengah mendefinisikan ulang cara kita meresapi kehilangan—melalui desain minimalis, cahaya lembut, dan nuansa emosional yang tenang

Terletak di distrik Sanlitun yang semarak dengan derap restoran dan butik fashion, GuiCong menghadirkan pendekatan yang tak lazim terhadap kematian. Alih-alih atmosfer muram khas rumah duka tradisional, tempat ini mengedepankan interior yang lapang, minimalis, serta tata pamer yang subtil. Lebih dari sekadar tempat menyimpan guci, GuiCong menawarkan pengalaman emosional: sebuah Heaven Post Office tempat menulis pesan bagi yang telah berpulang, serta Emotion Chamber—ruang privat untuk meresapi duka secara personal. Menariknya, 40 persen pengunjung bukanlah keluarga berduka, melainkan orang-orang yang singgah karena rasa ingin tahu. Dengan demikian, GuiCong berani menantang tabu seputar kematian dan menempatkan praktik berkabung dalam lanskap keseharian kota besar.

Baca selengkapnya: 4 firma arsitektur Malaysia yang merancang untuk iklim dan budaya

Mendesain untuk memberi ruang bagi emosi

Dirancang oleh desainer furnitur Gao Guqi, rumah duka ini menolak isyarat muram dan menggantinya dengan garis-garis bersih, pencahayaan lembut, serta palet warna netral. Alih-alih papan nama bernuansa kelam, pengunjung disambut dengan identitas visual yang halus dan koleksi guci yang ditata seperti karya desain, lengkap dengan persembahan kertas yang dipajang layaknya objek seni. Di ruang bernama Heaven Post Office, pengunjung dapat menuliskan surat untuk orang yang telah tiada. Sementara Emotion Chamber menghadirkan kabin intim dengan tisu, aromaterapi, dan musik ambien—semua dirancang untuk menjaga ruang pribadi dalam berduka.

Lokasinya di jantung Sanlitun, pusat komersial yang dinamis, dipilih secara strategis untuk menghapus stigma seputar kematian. Dengan kehadiran rumah duka di ruang publik yang ramai, GuiCong menormalisasi konsep kefanaan sekaligus mendorong perubahan budaya yang lebih luas mengenai cara warga Beijing memaknai kesedihan.

Tatler Asia
GuiCong balances simplicity with thoughtful spaces that support reflection and mourning.
Above GuiCong menghadirkan keseimbangan antara kesederhanaan dan ruang yang dirancang dengan penuh pertimbangan untuk mendukung refleksi serta proses berduka.
GuiCong balances simplicity with thoughtful spaces that support reflection and mourning.

Perjalanan GuiCong tidak tanpa rintangan. Para pemilik properti dan pemasok sempat menolak terlibat ketika mengetahui bahwa proyek ini terkait dengan kematian. Salah seorang pendirinya menuturkan, banyak calon mitra yang mundur dengan alasan sederhana: “Saya tidak menangani kategori ini.” Meski begitu, harga layanan yang ditawarkan tetap relatif terjangkau dibanding penyedia tradisional, sekaligus menggugat industri yang kerap dicirikan dengan tarif tinggi dan minim dukungan emosional.

GuiCong memandang proses berduka sebagai sebuah tantangan desain: menghadirkan estetika yang tertata rapi namun bersahaja, dengan ruang-ruang yang diciptakan secara khusus untuk mendukung keintiman dan ketenangan. Pendekatan ini menjadikan kematian sesuatu yang terlihat namun tidak mengganggu, menyatu secara alami dengan wajah Beijing—sebuah kota yang dalam satu tarikan napas mampu memadukan tradisi dan modernitas.


This story was originally written in English by Chonx Tibajia.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Chonx Tibajia dan diterbitkan pada 5 Agustus 2025. Read the original story here.

Topics