Di Solène, bersantap bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan sebuah ritual komunal untuk berkumpul dan merayakan hidup
Cover Di Solène, bersantap bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan sebuah ritual komunal untuk berkumpul dan merayakan hidup
Di Solène, bersantap bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan sebuah ritual komunal untuk berkumpul dan merayakan hidup

Terinspirasi oleh filosofi kuliner berbasis bahan segar, Solène mengundang para pencinta gastronomi ibu kota untuk merayakan kesederhanaan, kemurahan hati, dan seni bersantap yang santai khas pesisir Mediterania Prancis.

Jakarta kembali kedatangan sebuah destinasi kuliner yang menawarkan suasana yang hangat. Bertempat di The St. Regis Jakarta, Solène resmi dibuka untuk membawa nuansa romantis, kehangatan, dan cita rasa autentik dari kawasan selatan Prancis, mulai dari Provence hingga Côte d’Azur. Nama Solène sendiri diambil dari kata soleil—bahasa Prancis untuk matahari—sebuah representasi sempurna dari hidangan yang cerah, modern, dan penuh energi khas pesisir Mediterania.

Filosofi dasar restoran ini berakar kuat pada la cuisine du soleil, sebuah pendekatan kuliner pesisir yang menjunjung tinggi kesegaran bahan baku musiman. Di Solène, bersantap bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan sebuah ritual komunal untuk berkumpul, berbagi, dan merayakan hidup. Setiap piring dirancang dengan estetika yang sederhana namun kaya rasa, memungkinkan karakter alami dari setiap bahan bersinar dengan jujur, baik saat dinikmati sendiri maupun kala dibagikan di tengah meja.

Jangan lewatkan:  20 Hotel Terbaik Tatler Best Indonesia 2026

Tatler Asia
Chef Maxime Sacchetto Foglia memimpin Solène, Jakarta
Above Chef Maxime Sacchetto Foglia memimpin Solène, Jakarta
Tatler Asia
Interior Solène yang hangat
Above Interior Solène yang hangat
Chef Maxime Sacchetto Foglia memimpin Solène, Jakarta
Interior Solène yang hangat

Dapur Solène dikomandoi oleh chef Maxime Sacchetto Foglia. Berbekal pengalaman panjang di berbagai restoran legendaris Paris yang diakui oleh Michelin—termasuk sebagai senior sous-chef di Sofitel Le Scribe serta jejak karier di Hôtel de Crillon dan Four Seasons Los Angeles—ia membawa gaya memasak yang anggun namun tetap membumi. Di tangannya, pengaruh gastronomi Prancis klasik berpadu harmonis dengan sentuhan bahan-bahan segar khas Italia yang subtil.

Jangan lewatkan: Ritual Afternoon Tea di The St. Regis Jakarta bersama Augustinus Bader

Tatler Asia
Tatine de Tomates et Mozzarella de Bufflonne di Solène
Above Tatine de Tomates et Mozzarella de Bufflonne di Solène
Tatler Asia
Hidangan ikan menjadi spesialisasi Solène yang utama
Above Hidangan ikan menjadi spesialisasi Solène yang utama
Tatine de Tomates et Mozzarella de Bufflonne di Solène
Hidangan ikan menjadi spesialisasi Solène yang utama

Para tamu dapat memulai perjalanan rasa dengan Tartine de Tomates et Mozzarella de Bufflonne yang segar, atau menikmati Tataki de Thon yang presisi. Kekayaan laut kemudian diterjemahkan secara puitis lewat piring-piring berbasis hidangan laut seperti Crudo de Sériole dengan saus yuzu serta Daurade Rouge à la Vierge de Tomates yang kaya tekstur. Bagi pencinta hidangan nabati, Chou-fleur Rôti hadir sebagai opsi yang memikat, sebelum ditutup dengan manis oleh pencuci mulut klasik La Tropézienne.

Pengalaman bersantap di Solène semakin lengkap berkat interiornya yang menggemakan kehangatan Riviera yang understated. Dinding putih bersih dihiasi dengan karya seni bernuansa pesisir, berpadu manis dengan taplak meja putih yang rapi dan pencahayaan temaram yang hangat. Mampu menyambut hingga 70 tamu untuk sesi makan malam, ruang intim ini menjadi tempat di mana waktu seolah melambat dan percakapan mengalir tanpa terburu-buru.

BACA JUGA

Eksplorasi gastronomi Andrew Walsh di Cure Bali

Tatler Asia mempersembahkan “How to Live Exquisite”—sebuah petualangan penuh kemewahan dan kekaguman di St. Regis.

Luxury Dining Series 2025: Petualangan gastronomi di Jakarta

 

Eve Tedja
Travel & Dining Editor, Tatler Indonesia
Tatler Asia

Since embarking on her career as a food journalist in 2012, she has penned hundreds of articles delving into culinary trends, chef profiles, and gastronomic destinations across Asia. Born and raised in Bali, Eve is dividing her time between Bali and Jakarta.