Cover Mari berkenalan dengan farm to table, metode yang digunakan restoran untuk memastikan makanan tetap segar dan organik. Foto: freepik.

Mengenal konsep kuliner farm to table yang menyajikan hidangan segar dari pertanian setempat

Kita mengenal beragam konsep dalam dunia kuliner dan salah satu yang kini tengah naik daun adalah konsep farm to table. Pada dasarnya, tidak ada definisi khusus mengenai pergerakan ini. Jika dilihat secara garis besar, farm to table merujuk pada penyajian makanan yang dibuat dari bahan-bahan lokal, organik, dan langsung diambil/diolah dari kebun serta sawah. Ada pula yang menyebut pergerakan ini dengan istilah farm to fork. Artinya serupa, yakni mengacu pada suatu sistem pangan yang dari proses produksi hingga konsumsi yang terintegrasi untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, ekonomi, sosial, dan gizi di suatu tempat.

Era farm to table memang dimulai ketika eksistensi makanan olahan (processed food), terutama makanan kaleng, mulai tersingkir. Makanan olahan yang semula dipuja karena praktis dan ekonomis mulai banyak dikritisi pecinta makanan organik pada tahun 1970-an. Alhasil, konsep farm to table yang menitikberatkan pada keberlanjutan dan kesehatan lingkungan menjadi semakin banyak digandrungi.

Saat ini, sudah cukup banyak restoran yang mengadopsi konsep farm to table, mulai dari restoran kecil di pinggiran kota hingga restoran mewah bintang lima. Di Indonesia, restoran berkonsep farm to table juga sudah banyak eksis dan dapat ditemui di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Beberapa yang mungkin sudah sering kamu dengar adalah Plataran, Locavore, dan Gioi. Mereka menawarkan berbagai hidangan yang terbuat dari bahan segar langsung dari pertanian dan perkebunan setempat.

Cari tahu jauh tentang konsep farm to table dan nikmati hidangan berdasarkan rekomendasi kami.

Farm to Table 101

Tatler Asia
Above Dengan mengambil bahan langsung dari petani, dipastikan seluruh material yang dipakai masih segar. Foto: freepik.

Bicara mengenai farm to table tak bisa lepas dari pembicaraan mengenai kejayaan makanan olahan. Makanan ini mulai dikenal luas setelah inovasi dalam pengolahan dan penyimpanan makanan diciptakan dan memuncak dengan makanan kaleng di mana-mana selama tahun 1950-an. Kejayaan makanan olahan terus berlangsung hingga memasuki tahun 1970-an. Kala itu, mulai muncul pergerakan untuk mencintai makanan lokal dan organik untuk melawan budaya mengonsumsi makanan olahan. Perkembangan ini ditandai dengan berdirinya restoran yang menawarkan makanan dari bahan-bahan natural yang segar, salah satunya yakni Chez Panisse yang didirikan oleh chef Alice Waters pada tahun 1971. Gerakan tersebut lambat laun menyebar ke Eropa pada tahun 1989. Per tahun 90-an, permintaan terhadap makanan lokal dan organik pun meningkat.

Jangan lewatkan: Samantha Gunawan's Business Model that Promotes Sustainable Living

Berkembang dari Masa ke Masa

Tatler Asia
Above Pada umumnya, restoran bekerja sama dengan petani setempat untuk mengambil bahan. Beberapa bahkan memiliki kebunnya sendiri, Foto: pexels/Gustavo Fring

Pada dasarnya, farm to table memiliki semangat keberlanjutan (sustainability) yang sejalan dengan gaya hidup yang semakin banyak diminati masyarakat modern. Semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap keberlangsungan lingkungan dan kesehatan tubuh berpengaruh pada semakin banyaknya penerapan metode farm to table. Misalnya di Amerika, pada tahun 1940 seorang petani hanya dapat memberi makan sebanyak 19 orang. Puluhan tahun setelahnya, seorang petani bisa memberi makan sebanyak 168 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa farm to table sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang.

Baca lagi: Experience Farm-To-Table Dining at These 5 Luxury Hotels

Restoran Farm to Table di Indonesia

Oleh karena itu, restoran farm to table pun sudah bisa dengan mudah ditemui di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Ini rekomendasi dari kami.

1. Plataran

Tersebar di berbagai landmark ternama Indonesia seperti Candi Borobudur dan Gunung Bromo, menu yang ditawarkan didominasi masakan Indonesia berbahan organik langsung dari kebun di sekitarnya. Di beberapa tempat seperti Pulau Komodo, restoran ini juga menyajikan makanan segar dari biota laut di dekatnya. Konsep ini membuat pengunjung yang biasanya berasal dari mancanegara dapat menyelami keragaman hayati Indonesia secara lebih dekat.

2. Pantja

Terletak di Jakarta, Pantja menyediakan fine dining dengan menu-menu farm to table yang memanjakan. Salah satu menunya adalah Picanha, wagyu yang hanya memakan rumput dan dipanggang di atas kayu rambutan. Produk lokal yang dipilih sang koki dari petani setempat pun dijamin bebas pestisida dan pakan hormon, sehingga lebih fresh dan sehat.

3. Gioi Surabaya

Tak hanya farm to table, Gioi juga mengusung konsep farm to bottle. Maka, tak hanya menu makanan yang terdiri dari rupa-rupa makanan lokal seperti signature crispy duck saja yang menggunakan bahan lokal, tetapi juga minuman yang disajikan. Restoran ini sendiri dapat ditemukan di mall Tunjungan Plaza 5.

4. Moksa Ubud

Moksa Ubud yang selalu menyediakan bahan segar dan sehat untuk seluruh menu makanannya. Restoran ini sangat menitikberatkan pada penggunaan bahan-bahan lokal berkualitas dan staf yang dapat menjelaskan detail asal muasal suatu hidangan. Uniknya, restoran ini juga menggelar Farmers Market dua kali seminggu di mana pengunjung dapat membeli bahan-bahan makanan lokal. 

5. Locavore

Masih di Ubud, ada restoran Locavore yang terinspirasi dari bahan-bahan dari sawah. Maka menu yang disajikan pun terdiri atas nasi, bebek, bahkan siput. Salah satu menu andalan Locavore adalah sebuah bubur yang terbuat dari beras Jatiluwih dengan topping kuning telur bebek hingga bunga liar.

Baca Juga:

Circular Fashion 101

From Earth to Earth

5 Farm-To-Face Skincare Products yang Wajib Kamu Miliki Bulan Ini

Topics