Berubahnya iklim bumi telah memperluas pusat produksi wine dunia, here’s why.

Jika kamu membaca tulisan ini dari Jakarta, mungkin kamu menyadari betapa tidak stabilnya cuaca di Jakarta akhir-akhir ini. Teriknya matahari yang membakar dapat berubah menjadi hujan deras dalam hitungan menit. Keanehan ini terjadi akibat adanya perubahan iklim di bumi, dan cuaca ekstrem hanyalah satu dari berbagai dampak buruk yang tercipta seiring dengan terjadinya perubahan iklim. Karena itu mungkin kamu berpikir bahwa perubahan iklim hanya dapat membawa malapetaka bagi dunia. Namun, satu hal yang sangat langka dan tidak banyak diketahui adalah ia dapat membawa berkah bagi sejumlah sektor tertentu. Salah satu yang kini merasakan keuntungan besar dari perubahan iklim adalah industri wine yang berlokasi di negara iklim dingin seperti Inggris.

Wine memiliki proses pembuatan yang sangat spesifik dan bergantung pada stabilitas cuaca. Tanaman anggur tumbuh paling efektif di tempat bercuaca hangat, yaitu sekitar 18.5°C – 21°C, dan iklim yang dingin namun tetap mengalami periode cuaca panas. Anggur yang ditanam dalam suhu ideal lebih cepat matang, memiliki kadar gula yang lebih tinggi, dan rasa asam yang lebih rendah, sehingga akan menghasilkan kualitas lebih tinggi dan rasa yang lebih baik. Itulah mengapa wilayah dalam garis lintang 30° hingga 50° seperti Italia, Prancis, dan Amerika selalu dinobatkan menjadi tempat produsen wine terbaik. 

Tatler Asia
Above Ridgeview Wine Estate, Sussex.

Dengan terjadinya perubahan iklim yang telah membuat musim dingin semakin hangat, meningkatkan intensitas musim panas, dan menghasilkan anomali cuaca yang tidak dapat diprediksi, wilayah ideal untuk memproduksi wine perlahan meluas dan mengalami pergeseran, Inggris misalnya. Cuaca di Inggris kini memiliki temperatur yang sempurna untuk produksi wine, yaitu sekitar 18 - 25 °C. Ratusan tahun sebelum perubahan iklim mulai menunjukkan dampaknya, dinginnya temperatur Inggris tidak memungkinkan bagi tanaman anggur untuk berkembang, sehingga hanya sedikit petani yang mampu mempertahankan kebun anggurnya. 

Kondisi ini mulai berubah sekitar satu dekade terakhir, yang ditunjukkan dari banyaknya kebun anggur baru yang ditujukan untuk keperluan komersial. Banyak diantaranya ditemukan di Wales dan Inggris Selatan, terutama wilayah Sussex dan Kent yang kini menjadi wilayah produsen wine utama di Inggris dan dikenal dengan produk unggulannya yaitu English sparkling wine.

Meluasnya industri wine juga telah merambah ke Indonesia. Meskipun memiliki cuaca yang panas dan terik, Bali kini memiliki sejumlah kebun wine terbaik di Indonesia. Sejumlah diantaranya adalah Sababay, Plaga, dan Hatten Wines. Salah satunya, Hatten Wines, yang juga merupakan pelopor produksi anggur lokal, bahkan sudah go public dengan melakukan IPO di awal tahun 2023. 

Di tengah kebahagiaan para produsen wine Inggris dan berkembangnya wine di Indonesia, winemakers di wilayah produsen andalan seperti Amerika dan Prancis telah mengeluhkan adanya penurunan kualitas wine yang mereka produksi akibat semakin tidak idealnya cuaca di wilayahnya bagi pertumbuhan wine. Rasa dari wine yang diproduksi juga dapat berubah akibat beberapa faktor seperti memanasnya iklim yang dapat membuat anggur terlalu matang, terjadinya kekeringan sehingga pertumbuhan tanaman merambat, hingga meningkatnya suhu menjadi lebih dingin yang menghancurkan tanaman anggur.

Prancis mendapat hasil panen terkecil dalam lebih dari 60 tahun akibat late frost atau masa pembekuan terlambat yang seketika terjadi pada awal musim semi 2021. Di tahun sebelumnya, kebakaran hutan yang melanda Napa Valley, California, mematikan banyak kebun anggur dan besarnya asap kebakaran membuat wine yang sudah diproduksi tidak dapat diminum. 

 

Baca Juga:

Best Wines for Festive Season

Beyond Biodynamics: 6 Sustainable Wine Brands To Try

Tokoh Dunia yang Berdedikasi Menciptakan Kehidupan dan Lingkungan Sehat