TANGAN Privé mengundang para tamu menjelajahi perjalanan penuh makna yang membaurkan keterampilan, kenangan, dan transformasi melalui peluncuran Koleksi 2025 di Savyavasa, Jakarta
Pada sebuah sore yang hangat di Jakarta, para tamu yang diundang secara eksklusif melangkah ke dalam kompleks Savyavasa, disambut oleh atmosfer yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengundang kontemplasi. Bukan sekadar presentasi koleksi busana, TANGAN Privé 2025 adalah sebuah perjalanan imersif lintas ruang, sebuah cerita yang dilisankan melalui kain, suasana, dan kenangan.
Tiga ruang. Tiga babak narasi. Dan satu benang merah: pertemuan antara keanggunan yang tenang dan energi penciptaan yang tak henti bergerak. Semua ini diwujudkan melalui kolaborasi TANGAN Privé 2025 dengan Studio Kure-Kare-Ka, studio desain asal Bandung yang dikenal piawai menyulam ruang menjadi pengalaman emosional. Bersama dengan arahan artistik dari Shadtoto Studio, pengalaman ini tidak hanya memamerkan koleksi, tetapi menjadikannya bagian dari lanskap, di mana busana menjadi ruang, dan ruang menjadi cerita.

Above Perjalanan dimulai di Room I: Between The Woven and the Wild. Instalasi ini hadir bak sebuah tableau hidup, tempat Koleksi TANGAN Privé 2025 muncul di antara bentuk-bentuk sculptural, tekstur yang membumi, dan pertumbuhan organik yang menjalar bebas (Foto: TANGAN Privé)
Room I: Between The Woven and the Wild
Perjalanan dimulai dengan keheningan yang hidup. Ruang pertama dibangun sebagai tableu hidup—sebuah lanskap yang menggabungkan tekstur alami, bentuk pahatan, dan pertumbuhan organik. Di tengah ruangan, meja bundar beralas kayu burl menjadi poros meditatif, sementara kabinet ukiran Jepara yang bersinggungan dengan bidang logam mentah menghadirkan dialektika antara tradisi dan modernitas, sebuah refleksi dari koleksi itu sendiri.
Tersebar di antara dedaunan merambat dan cahaya yang mengintip lembut, koleksi TANGAN Privé 2025 hadir dalam kapsul berisi 20 karya: 12 atasan, 1 gaun, dan 7 rok. Koleksi ini mengeksplorasi ketegangan antara struktur dan kelembutan, antara warisan tekstil Nusantara dan siluet kontemporer yang tajam. Beberapa karya menampilkan batik Kudus, hasil kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta Songket Bali dan Tenun Garut dari Cita Tenun Indonesia, menjadikannya simbol keberlanjutan budaya dalam bentuk yang relevan dan modern.
Ada nuansa puitik yang terasa dalam tiap helai kain dalam ketidakteraturan yang dikoreografi, dalam lapisan tulle dan bordiran tangan yang seolah berbisik: inilah kelembutan yang teguh, inilah masa lalu yang memilih untuk tumbuh, bukan membeku.

Above Di Room II: The Modes of Making, sorotan berpindah ke proses. Ruang audiovisual ini menghadirkan pandangan yang intim terhadap layanan TANGAN Privé 2025. Melalui film, suara, serta potongan arsip dan prototipe, para tamu diajak menyelami ritme penciptaan sang label, dari sketsa awal hingga fitting akhir (Foto: TANGAN Privé)
Room II: The Modes of Making
Dari bentuk ke proses, langkah berikutnya membawa para tamu ke ruang audiovisual yang tenang. Di sinilah proses penciptaan menjadi narasi utama. Film pendek, serpihan arsip, dan potongan prototipe memperlihatkan perjalanan TANGAN dari sketsa awal hingga fitting terakhir. Ritual-ritual kecil, yang sering tersembunyi dari sorotan, kini diberikan spotlight di atas panggung. Di ruang ini, para pengunjung diajak menyadari bahwa setiap lipatan, setiap jahitan, dan setiap lekukan pada garmen dari TANGAN Privé 2025 menyimpan niat dan perenungan.

Above Room III: Intermissions and Encounters membuka ruang untuk koneksi dan perjumpaan. Di sinilah perjalanan menemukan gaungnya dalam percakapan, di antara para tamu, ditemani sajian dan minuman (Foto: TANGAN Privé)
Room III: Intermissions and Encounters
Perjalanan ditutup dengan sebuah ruang terbuka untuk perjumpaan. Di sinilah pengalaman yang bersifat pribadi berubah menjadi kolektif, dalam percakapan, dalam segelas anggur, dalam sepotong kudapan yang disantap pelan. Ini bukan hanya akhir, tapi transisi: dari melihat menjadi merasakan, dari menyaksikan menjadi mengalami.
Koleksi TANGAN Privé 2025 adalah ode terhadap feminitas yang tak berisik. Siluet-siluet yang longgar, garis-garis yang melunak, dan gerak yang mengalir hadir dalam setiap lipatan, lapisan, dan bordiran. Tulle bertingkat, aplikasi payet buatan tangan, serta sulaman halus memberikan sentuhan yang akrab sekaligus baru. Elemen lipit menjadi semacam detak lembut—ritme tersembunyi yang mengikat keseluruhan koleksi.
Ada juga panggilan terhadap warisan, namun bukan dalam bentuk nostalgia. Kode busana Jawa, dari kebaya hingga hiasan kepala, dipelajari ulang dan diinterpretasikan kembali. Apa yang dulu dianggap kuno kini tampil sebagai bahasa visual baru. Di sinilah memori bukan sekadar dikenang, tapi diperbaharui, diberi ruang untuk tumbuh dalam dunia kontemporer.

Above TANGAN Privé mengundang para tamu menjelajahi perjalanan penuh makna yang membaurkan keterampilan, kenangan, dan transformasi melalui peluncuran Koleksi 2025 di Savyavasa, Jakarta (Foto: TANGAN Privé)

Above Turut ambil bagian sebagai direktur artistik dalam instalasi koleksi TANGAN Privé 2025 adalah Shadtoto Studio, yang kepekaan visonernya dalam menciptakan dunia imersif menghadirkan dramatika ruang dan kesinambungan visual dalam keseluruhan pameran (Foto: TANGAN Privé)
Kolaborasi dengan Studio Kure-Kare-Ka menjadikan peristiwa ini lebih dari sekadar presentasi. Studio yang berdiri sejak 2018 oleh Muhammad Taufik dan Faza Syadzwina ini dikenal akan pendekatannya yang kolaboratif, serta kepiawaiannya menjahit ruang dengan elemen floral dan material organik sebagai bahasa utama. Dalam pertemuannya dengan TANGAN, hadir semacam kesadaran kolektif akan pentingnya perayaan yang intim di mana busana, ruang, dan rasa berpadu dalam sebuah pengalaman sensorik yang memikat.
Tak kalah penting, acara ini terselenggara berkat dukungan dari sejumlah pihak yang memiliki komitmen pada seni dan budaya: Bakti Budaya Djarum Foundation, Savyavasa, Maison La Formule, Riunite, Riedel, Aqua Reflections, hingga Blue Magic Audio, sebuah kolaborasi lintas bidang yang merayakan keindahan dalam segala bentuknya.
Baca juga:
Gaya vintage yang kembali populer: Menghadirkan pesona retro
Menyelami dunia fashion ramah lingkungan: Brand lokal yang mengusung konsep fashion berkelanjutan
Panduan fashion untuk acara formal: Menyusun OOTD berkelas untuk gala dan pesta



