Selama lebih dari tujuh dekade, Fred Perry tidak hanya dikenakan, tetapi juga dihidupi. Lewat pameran “Fred Perry DNA” di Plaza Senayan, label asal Inggris ini mengajak Jakarta melihat bagaimana sebuah polo shirt bisa menjadi simbol identitas lintas generasi
Ada alasan mengapa logo Laurel Wreath milik Fred Perry tetap relevan sejak 1952. Apakah karena mudah dikenali? Tentu saja lebih dari sekadar itu, ia selalu berhasil menemukan tempat di tengah generasi yang ingin tampil berbeda. Dari lapangan tenis Wimbledon hingga venue musik bawah tanah di London, Fred Perry telah lama menjadi bagian dari percakapan budaya populer. Kini, kisah itu hadir lebih dekat lewat Fred Perry DNA Exhibition.
Berlangsung pada 22 hingga 31 Mei 2026 di area Fountain Plaza Senayan, pameran ini menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana DNA Fred Perry dibentuk oleh olahraga, musik, dan subkultur yang terus bergerak. Pengunjung diajak melihat perjalanan label asal Inggris tersebut melalui sederet “Hero Styles” yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari gaya hidup urban lintas era.

Above Arsip kolaborasi Fred Perry bersama Amy Winehouse, Raf Simons, Comme des Garçons, hingga Stüssy memperlihatkan bagaimana Laurel Wreath terus beresonansi di berbagai era

Above Area pameran di Plaza Senayan dirancang sebagai ruang komunitas yang mempertemukan fashion, musik, dan kultur urban dalam satu pengalaman yang terasa dekat dan hidup
Di pusat cerita tentu ada The Fred Perry Shirt. Model M3 yang pertama kali diluncurkan pada awal 1950-an itu awalnya dirancang untuk lapangan tenis. Namun, sejarah membuktikan bahwa polo shirt ini hidup jauh lebih luas dari olahraga. Ia diadopsi oleh kaum modernist di Inggris, hadir di era punk, Britpop, hingga terus muncul di kultur musik dan street style masa kini. Tidak banyak item fashion yang mampu bertahan tanpa kehilangan karakter; Fred Perry termasuk salah satunya.
Pameran ini juga menampilkan berbagai elemen yang membentuk identitas visual brand tersebut. Mulai dari Tennis Bomber yang membawa nuansa sportswear klasik dengan energi jalanan yang kuat, Taped Track Jacket yang identik dengan kultur rave dan terrace scene, hingga Barrel Bag dan lini tennis shoes yang merekam evolusi gaya berpakaian kasual selama beberapa dekade terakhir.

Above The Fred Perry Barrel Bag

Above taped track jacket ikonik dari Fred Perry
Yang menarik, Fred Perry tidak membingkai arsipnya sebagai nostalgia semata. Di Jakarta, DNA Exhibition terasa seperti percakapan terbuka antara akar budaya Inggris dengan komunitas kreatif lokal. Area pameran dirancang sebagai community hub lengkap dengan bar persembahan Modernhaus serta pertandingan table tennis yang melibatkan komunitas. Suasananya terasa hidup, tidak kaku seperti museum mode pada umumnya.
Energi tersebut semakin terasa lewat program musik yang dikurasi selama pameran berlangsung. Nama-nama seperti Jugo Djarot, The Patras, Tomorrow People Ensemble, hingga DJ set dari SCRBS! dan Shaq menjadi bagian dari pengalaman yang lebih luas tentang bagaimana Fred Perry selalu dekat dengan musik. Ada pula sesi open deck bersama Laidback Records, This Happy Feeling, dan Fever Sounds yang memberi ruang bagi komunitas untuk ikut terlibat, bukan sekadar menjadi penonton.

Above Lewat DNA Exhibition, Fred Perry mengajak Jakarta melihat bagaimana olahraga, musik, dan street culture saling membentuk identitas sebuah brand ikonik
Untuk pertama kalinya di Jakarta, pengunjung juga dapat melihat koleksi arsip dan kolaborasi legendaris Fred Perry bersama figur serta label yang memiliki pengaruh besar dalam budaya populer. Mulai dari Amy Winehouse, Gorillaz, The Specials, hingga nama-nama seperti Raf Simons, Comme des Garçons, dan Stüssy. Deretan kolaborasi ini memperlihatkan satu hal penting: Fred Perry tidak pernah berdiri hanya sebagai brand fashion. Ia menjadi simbol bagi mereka yang nyaman berjalan di luar arus utama.




