Dalam Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini dan Putri Marino kembali berkolaborasi lewat kisah seorang perempuan yang pulang ke kampung halamannya setelah 20 tahun mendekam di penjara. Di balik kolaborasi kedua mereka setelah Gadis Kretek, keduanya menemukan ritme baru dalam membangun kepercayaan satu sama lain
Film terbaru garapan sutradara Kamila Andini, Empat Musim Pertiwi, mengikuti perjalanan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke desanya setelah menghabiskan 20 tahun di penjara. Namun, kepulangannya bukanlah perkara sederhana. Tempat yang dulu dikenalnya telah banyak berubah, sementara tidak semua orang bersedia menerimanya kembali.
Diperankan oleh Putri Marino, Pertiwi menjadi sosok yang membawa penonton menyelami persoalan ketidakadilan, trauma, dan bagaimana seseorang berusaha menjalani hidup di masa kini sembari memikul beban masa lalu. Setelah melakukan pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival, Empat Musim Pertiwi akhirnya kembali ke Indonesia untuk tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026. Film ini juga mempertemukan kembali Kamila dan Putri untuk kedua kalinya setelah Gadis Kretek, kali ini melalui karakter yang menuntut banyak hal, baik dari sang aktris maupun sutradaranya.

Above Putri Marino memerankan Pertiwi, seorang wanita yang menghadapi kompleksitas kepulangannya setelah 20 tahun dipenjara.
Perjalanan Panjang untuk Pulang
Ada sesuatu yang terasa mengusik ketika seseorang kembali ke tempat yang seharusnya ia sebut rumah. Bagi Pertiwi, jarak bukan lagi soal kilometer, melainkan tahun-tahun yang telah berlalu. Setelah dua dekade pergi, ia kembali ke desa yang pernah dikenalnya, membawa pengalaman hidup yang telah mengubah dirinya, sementara dunia di sekelilingnya terus bergerak. Ada yang menyambutnya, ada pula yang menolaknya. Film ini membiarkan penonton merenungkan sendiri alasan di balik penerimaan sekaligus penolakan tersebut.
Bagi Kamila, kisah ini telah tumbuh jauh sebelum akhirnya hadir di layar lebar. Ia mulai menulis Empat Musim Pertiwi pada 2017, dengan Gunung Bromo sudah terbayang dalam benaknya. Lanskap tersebut bukanlah sesuatu yang asing baginya, mengingat ia kerap mengunjunginya bersama keluarga saat berlibur. Namun, seiring waktu, film ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih luas: sebuah eksplorasi tentang beragam wajah ketidakadilan, bagaimana manusia menghadapinya, serta dari mana kekuatan dan harapan dapat tumbuh.
Film ini juga mencerminkan kecenderungan Kamila untuk tidak membatasi dirinya pada satu genre tertentu. Drama sosial, psikologi, horor, hingga unsur fiksi ilmiah berpadu dalam sebuah cerita yang, menurutnya, memiliki elemen-elemen yang saling berkaitan. Dengan begitu banyak lapisan di dalamnya, Kamila merasa film ini membutuhkan tim yang memiliki pengalaman dan pemahaman untuk menghidupkan setiap elemen tersebut.

Above Melalui persiapan yang matang dan kemauan untuk menerima hal-hal yang asing, Putri Marino membangun karakter yang kekuatannya berdampingan dengan kerentanannya.
Menjelma Menjadi Pertiwi
Jauh sebelum proses produksi dimulai, Kamila sudah membayangkan Putri untuk memerankan Pertiwi. Ia pertama kali menceritakan proyek ini kepada sang aktris ketika mereka tengah mempersiapkan Gadis Kretek, dengan harapan keduanya dapat kembali bekerja sama dalam film lain. Ketika akhirnya membaca naskah Empat Musim Pertiwi, Putri berkali-kali kembali pada cerita tersebut. Awalnya, ia membacanya sebagai seseorang yang berada di luar kisah, sebelum perlahan mencoba menempatkan dirinya dalam posisi Pertiwi. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah betapa banyak suara yang seolah menunggu untuk didengar melalui karakter ini.
Kamila menggambarkan Pertiwi sebagai sosok yang mungkin tampak muda, tetapi menyimpan pengalaman batin seseorang yang telah melalui jauh lebih banyak hal daripada yang bisa dibayangkan dari usianya. Pengalaman hidup yang ia lalui membuatnya memiliki kekuatan luar biasa, tetapi kekuatan itu tidak serta-merta menghapus kerentanannya.
Bagi Kamila, proses memahami Pertiwi juga menuntut kerendahan hati. Ia menyadari bahwa dirinya dan Putri, sebagai perempuan yang hidup dengan privilese tertentu di lingkungan perkotaan, tidak bisa begitu saja menganggap diri mereka sepenuhnya memahami pengalaman Pertiwi. Karena itu, keduanya memilih untuk kembali ke titik awal, mengosongkan diri dari asumsi yang telanjur mereka miliki, dan terus belajar memahami karakter tersebut.
Pendekatan ini menjadi penting. Pertiwi bukanlah karakter yang bisa dengan mudah dijelaskan, apalagi direduksi menjadi sekadar sosok yang didefinisikan oleh trauma masa lalunya. Pengalaman tersebut memang membentuk dirinya, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan siapa dirinya.
Putri pun menjalani persiapan yang jauh melampaui sekadar menghafal dialog. Ia mengikuti berbagai lokakarya, mulai dari berkuda, bernyanyi, berkelahi, berpuisi, hingga mempelajari keterampilan kelistrikan. Semua itu menjadi bagian dari proses membangun sosok Pertiwi sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar memerankan sebuah karakter.

Above Bagi Putri Marino, menjadi Pertiwi berarti melihat melampaui trauma karakter tersebut untuk memahami berbagai lapisan kepribadian seorang wanita.
Kami harus kembali ke titik nol, mengosongkan apa yang kami kira sudah kami ketahui dan terus belajar.
Kepercayaan Sebagai Bahasa Berdua
Empat Musim Pertiwi menjadi kolaborasi kedua Kamila dan Putri. Namun, kedekatan di antara keduanya tidak dibangun dari kebiasaan menghabiskan waktu bersama di luar pekerjaan. Mereka bukan tipe orang yang harus terus-menerus bertemu atau berbagi segala hal untuk merasa dekat. Sebaliknya, hubungan mereka tumbuh dalam ruang yang lebih tenang, yakni melalui proses berkarya bersama.
“Kami entah bagaimana bisa saling memahami,” ujar Kamila mengenai hubungan mereka. Putri menyebut koneksi tersebut sebagai sesuatu yang ajaib. Saat mengerjakan Empat Musim Pertiwi, keduanya telah memiliki semacam bahasa bersama yang membuat mereka bisa bekerja dengan lebih sedikit penjelasan dan lebih banyak kepercayaan.
Bagi Putri, kepercayaan ini sangat penting karena seorang aktris tentu membawa interpretasinya sendiri terhadap karakter yang diperankan. Ia mungkin memiliki intuisi tentang bagaimana Pertiwi seharusnya bersikap atau merasakan sesuatu dalam sebuah adegan. Kamila memberinya ruang untuk mengeksplorasi intuisi tersebut, sembari tetap menjaga karakter dan arah cerita secara keseluruhan.
Sementara itu, Kamila melihat Putri sebagai aktris yang tidak perlu membicarakan setiap detail adegan secara berlebihan. Putri akan bertanya ketika membutuhkan penjelasan. Selebihnya, ia membiarkan proses tersebut berkembang melalui aktingnya. Begitu kamera mulai merekam, menurut Kamila, Putri benar-benar menjelma menjadi karakter yang diperankannya, alih-alih sekadar terlihat sedang memainkan sebuah peran.
Ada semacam rasa persaudaraan di antara keduanya, tetapi bukan sesuatu yang dibangun di atas sentimentalitas semata. Hubungan itu tumbuh dari kemampuan untuk memahami kapan harus mengambil peran dan kapan perlu memberi ruang bagi satu sama lain. Kamila mengakui bahwa mereka sama-sama gigih dan memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri. Komitmen yang serupa inilah yang mungkin membuat keduanya mampu membangun kepercayaan sedalam itu.

Above Bagi Kamila Andini dan Putri Marino, Empat Musim Pertiwi menandai babak baru dalam kemitraan kreatif yang dibentuk oleh kepercayaan, insting, dan komitmen bersama terhadap penceritaan.
Apa yang Dibawa Pulang
Bagi Kamila, rumah berkaitan erat dengan keluarga dan dunia perfilman. Ia berusaha menciptakan ruang kreatif di lokasi syuting yang membuat setiap orang merasa nyaman, aman, dan bebas menjadi diri sendiri, sehingga mereka dapat memberikan kemampuan terbaiknya. Inilah pula alasan ia kerap memilih bekerja kembali dengan orang-orang yang pernah berkolaborasi dengannya. Ada nilai tersendiri dalam bertumbuh bersama, alih-alih harus memulai semuanya dari nol setiap kali mengerjakan proyek baru.
Bagi Putri, di sisi lain, rumah bukan hanya tentang rasa nyaman, tetapi juga kebebasan. Rumah adalah tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi atau khawatir melakukan kesalahan. Dalam proses pengerjaan Empat Musim Pertiwi, ia menemukan sebagian rasa akrab tersebut melalui kehadiran kembali sejumlah kru yang sebelumnya bekerja bersamanya di Gadis Kretek. Sejarah yang mereka miliki bersama membuat proses produksi terasa seperti pulang ke rumah, bersama tim yang memahami visi yang sama.
Film ini sendiri telah lebih dulu menempuh perjalanannya ke luar negeri. Pemutaran perdana di Toronto menandai babak internasional bagi Empat Musim Pertiwi, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Bagi Kamila, karya-karyanya pada akhirnya memang menjadi milik Indonesia, tempat orang-orang, lanskap, budaya, dan berbagai persoalan yang menginspirasinya berasal. Namun, ia juga menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diangkat dalam film ini melampaui batas geografis Indonesia.

Above Di Empat Musim Pertiwi, Putri Marino mengeksplorasi berbagai aspek dari seorang perempuan yang menemukan tempatnya
Rumah adalah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa takut dihakimi atau membuat kesalahan.
Arah visual pemotretan ini pun mencerminkan semangat perjalanan tersebut. Kamila melihat Pertiwi sebagai sosok dengan jiwa penjelajah, yang salah satunya terbentuk dari pengalaman hidupnya ketika terusir. Dalam film, Pertiwi menemukan koneksi dan kekuatan melalui orang-orang yang juga pernah tersisih. Gagasan inilah yang kemudian menginspirasi penggunaan benda-benda bekas dan atmosfer pasar loak sebagai elemen dalam pemotretan.
Pada akhirnya, ada sesuatu yang belum sepenuhnya selesai dalam diri Pertiwi. Ia pulang bukan sebagai perempuan yang sama dengan sosok yang dahulu pergi, melainkan sebagai seseorang yang membawa beberapa versi dirinya sekaligus. Empat musim dalam Empat Musim Pertiwi merefleksikan kehidupan yang dibentuk oleh perubahan, kehilangan, kepulangan, dan kemungkinan untuk kembali memulai segalanya.
Bagi Pertiwi, pulang berarti berhadapan dengan apa yang masih tersisa dari masa lalu. Sementara bagi Kamila dan Putri, film ini menjadi perjalanan untuk membangun kepercayaan, memberi ruang bagi satu sama lain, sekaligus tetap berpegang pada visi yang mereka bagi bersama.
Credits
Arahan kreatif: Kamila Andini
Arahan seni: Hagai Pakan
Fotografi: Joss Felix
Pengarah gaya: Hans Hambali
Asisten pengarah gaya: Sharonn Jordana
Penulis: Adeste Adipriyanti
Riasan: Edith
Rambut: Ichana
Riasan: Nail by Sculptera Studio
Pakaian: Yogie Pratama, Tanah Le Sae, Christin Wu, Sebastian Gunawan, Sapto Djojokartiko, Yosafat Dwi Kurniawan, Bocorocco x Wilsen Willim




