Maya Watono, CEO InJourney, berbagi tentang meninggalkan kesuksesan di sektor swasta, membangun untuk bangsa, dan mengapa tujuan lebih penting daripada kesempurnaan
Pada saat Maya Watono bergabung dengan ekosistem pariwisata dan penerbangan milik negara Indonesia, ia telah membangun karier yang diimpikan banyak eksekutif selama beberapa dekade. Enam belas tahun di sektor swasta. Peran kepemimpinan di salah satu grup komunikasi terbesar di Asia Tenggara. Gelar sebagai salah satu CEO wanita termuda di Indonesia, lalu ia pergi.
Bukan karena ia menginginkan lebih banyak wewenang, tetapi karena ia menginginkan dampak yang berbeda. “Ketika saya pindah, orang-orang mengira saya menjauh dari kepastian,” katanya. “Tetapi saya merasa ambisi pribadi saya telah terpenuhi. Saya ingin berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar.” Saat ini, sebagai Direktur Utama InJourney, Watono memimpin sebuah organisasi yang skalanya sulit dipahami pada pandangan pertama.
Holding milik negara ini mengawasi salah satu ekosistem pariwisata dan mobilitas terbesar di Indonesia: 37 bandara yang melayani lebih dari 156 juta penumpang setiap tahun, aset perhotelan yang mencakup 44 hotel dan sekitar 5.000 kamar, manajemen destinasi di berbagai landmark budaya termasuk Borobudur, Prambanan, TMII, dan Ratu Boko, serta pengembangan dan acara pariwisata yang secara kolektif menjangkau lebih dari sembilan juta pengunjung.

Above Maya Watono, CEO InJourney, berbagi tentang meninggalkan kesuksesan di sektor swasta, membangun untuk bangsa, dan mengapa tujuan lebih penting daripada kesempurnaan.
Secara internal, organisasi tersebut mendeskripsikan misinya secara sederhana: mentransformasi ekosistem penerbangan dan pariwisata Indonesia sambil meninggalkan warisan. Tetapi Maya Watono berbicara tentang hal itu secara berbeda. Dia berbicara tentang tanggung jawab.
Tahun-tahun pertamanya di dalam sistem tersebut diwarnai oleh apa yang ia sebut sebagai "jet lag." Kepemimpinan di sektor swasta telah melatihnya untuk bergerak cepat: menetapkan target, mengoptimalkan kinerja, mengukur hasil. Di dalam InJourney, persamaannya menjadi lebih kompleks. "Anda tetap membutuhkan profitabilitas, akuntabilitas, tata kelola, dan keberlanjutan bisnis," katanya. "Tetapi ada peran lain—yaitu menjadi agen pembangunan."
Frasa itu sering muncul dalam kosa katanya. Agen pembangunan. Bukan sekadar operator, bukan sekadar pengelola aset. InJourney secara resmi memposisikan dirinya di sekitar dua mandat paralel: menciptakan nilai bisnis yang terukur sekaligus berkontribusi pada pembangunan nasional melalui penerbangan dan pariwisata. Bagi Maya Watono, perbedaan itu penting.

Above Maya Watono, CEO InJourney, berbagi tentang meninggalkan kesuksesan di sektor swasta, membangun untuk bangsa, dan mengapa tujuan lebih penting daripada kesempurnaan.
Karena menurut pandangannya, pariwisata sering disalahpahami. Orang menganggap pariwisata sebagai kegiatan rekreasi, ia menganggapnya sebagai infrastruktur. Bandara bukan sekadar pusat transportasi—ia adalah kesan pertama suatu negara. Destinasi budaya bukan hanya tempat untuk dikunjungi—ia membentuk bagaimana identitas dialami. Hotel bukan hanya aset komersial—ia menjadi bagian dari ekosistem perhotelan yang lebih luas.
Menurutnya, transformasi sering kali dimulai dari detail-detail yang hampir tak terlihat. Toilet yang lebih bersih, pencahayaan yang lebih baik, pergerakan penumpang yang lebih lancar, tim yang terlatih untuk memberikan layanan dengan lebih bijaksana. “Hal-hal ini terdengar sederhana,” katanya. “Tetapi hal-hal ini benar-benar mengubah cara orang merasakan Indonesia.”
Di bawah agenda transformasi InJourney, detail-detail tersebut secara bertahap terakumulasi menjadi tonggak-tonggak nyata: pembukaan kembali dan peremajaan terminal bandara, pen positioning ulang Borobudur sebagai destinasi spiritual, revitalisasi TMII, peluncuran zona ekonomi kesehatan dan kebugaran Sanur, dan inisiatif pariwisata olahraga yang menempatkan destinasi seperti Mandalika dan Danau Toba ke dalam kalender internasional.
Namun Watono jarang membicarakan proyek terlebih dahulu. Dia berbicara tentang orang-orang. Kepemimpinan, menurutnya, dimulai dengan keselarasan.

Above Maya Watono, CEO InJourney, berbagi tentang meninggalkan kesuksesan di sektor swasta, membangun untuk bangsa, dan mengapa tujuan lebih penting daripada kesempurnaan.
Pengalamannya berpindah-pindah antara lingkungan bisnis keluarga, organisasi multinasional, dan sekarang perusahaan milik negara mengajarkannya bahwa meskipun nilai-nilai tetap konstan, gaya kepemimpinan tidak bisa. Dia sering kembali pada tiga gagasan: Teguh pada visi, fleksibel dalam pelaksanaan, bergerak melalui gotong royong, dan memimpin dengan memberi contoh. “Cara saya berkomunikasi dengan tim bandara tidak bisa sama dengan tim perhotelan,” katanya. “Tetapi nilai-nilai harus tetap konsisten.”
Saran beliau kepada para pemimpin masa depan mengikuti filosofi yang sama: pelajari secara mendalam sebelum memperluas wawasan. Terlalu banyak profesional, katanya, terjebak dalam satu bidang keahlian. “Anda tidak akan menjadi CEO dengan hanya berkutat dalam satu disiplin ilmu.” Pelajari keuangan, pelajari orang, pelajari operasional, pelajari budaya. Seiring bertambahnya ukuran organisasi, kepemimpinan menjadi kurang tentang memiliki jawaban dan lebih tentang menghubungkan sistem.
Kemudian muncullah pertanyaan yang dijawabnya dengan kejujuran yang tidak biasa: perempuan. Ia menghindari bahasa idealis seputar keseimbangan kerja-hidup. Ia tidak percaya hal itu ada. Sebaliknya, ia berbicara tentang musim. Akan ada saat-saat ketika pekerjaan menuntut lebih banyak, saat-saat ketika keluarga menjadi dominan.

Above Maya Watono, CEO InJourney, berbagi tentang meninggalkan kesuksesan di sektor swasta, membangun untuk bangsa, dan mengapa tujuan lebih penting daripada kesempurnaan.
Menurutnya, tantangannya bukanlah ketidakseimbangan—melainkan tekanan yang diberikan perempuan pada diri mereka sendiri untuk menjalankan setiap peran dengan sempurna. “Perempuan terlalu banyak memberi tekanan pada diri mereka sendiri untuk menjadi sempurna.” Ia berhenti sejenak. “Dan kesempurnaan menjadi beban lain.”
Bagi seseorang yang mengawasi salah satu agenda transformasi paling ambisius di Indonesia, ini terasa seperti kesimpulan yang sangat personal. Ia percaya bahwa kesuksesan seharusnya tidak pernah dimulai dengan gelar, visibilitas, atau pengakuan. Menurut Maya Watono, sebelum semua itu, ajukan satu pertanyaan: Mengapa? Karena purpose—bukan posisi—adalah yang akan selalu ada.
BACA SELENGKAPNYA:
Generasi T Pemimpin Masa Depan 2026: angka-angka di balik daftar yang merayakan masa depan Asia
Apa yang diketahui pembalap Bianca Bustamante tentang tekanan dan konsistensi?
Credits
Fotografi: Rizky Aditya
Topics




