Pandawara Grup memiliki pengaruh luar biasa lewat aksi nyata, membantu Indonesia menuju bebas sampah.
Di kala banyak tokoh memilih jalan edukasi lewat seminar dan talks dalam upaya meningkatkan kesadaran lingkungan, sekelompok anak muda ini memilih untuk terjun langsung ke sumber masalah dan melakukan inisiatif yang berdampak nyata. Di bawah nama Pandawara, sekelompok pemuda asal Bandung menggebrak media sosial lewat gerakan membersihkan sungai dan pantai di Indonesia.
Terdiri dari lima pria—Agung, Gilang, Ikhsan, Rafla, dan Rifki, mereka konsisten mengunggah video proses pembersihan dengan sangat apik. Beruntungnya, kelima pria ini sudah bersahabat sejak di bangku SMA sehingga rasa kebersamaannya terasa sangat natural dan seolah sampai ke para pengikut daringnya.
Baca juga: From track to tech: Meet Mench Dizon, the marathoner pushing a digital future for Filipinos
Pada perjalanannya Pandawara menitikberatkan pada isu sampah yang berkaitan erat dengan kultur masyarakat Indonesia. Budaya buang sampah di sungai pun kadang kerap lekat dengan keseharian sebagian masyarakat.
Menurut mereka, masyarakat Indonesia harus menyadari bahwa terdapat perbedaan besar di jenis sampah yang mereka buang kini dan dulu. “Zaman dulu kan kemasan masih organik, bisa terurai. Mereka lupa pengemasan sudah kian canggih dan mayoritas kemasan datang dari bahan plastik yang tidak bisa terurai. Nggak bisa lagi pakai habit yang sama,” tutur Pandawara.
Pendekatan edukasi ke lapisan masyarakat seperti ini yang menjadi tugas para generasi muda agar memberikan warisan budaya baru yang bermakna. Tidak ada yang benar atau salah, mereka menganggap cara tiap orang berbeda-beda dalam menyelesaikan isu global tentang sampah.
Semua punya cara dan mediumnya sendiri
Namun, kegigihan mengunggah aksi pembersihan secara gotong royong ala Pandawara pada platform media sosial menjadi satu gerbang dalam memulai perjalanan menuju masa depan Indonesia bebas sampah. Selaras dengan arti namanya yang diambil dari kata Pandawa dan Wara, mereka konsisten membagikan ‘berita baik’ sejak Agustus 2022. Selang satu tahun, tepatnya di Oktober 2023, mereka sukses membawa pulang tiga piala sekaligus—Creator of The Year, Rising Stars of The Year, dan Change Makers of The Year—pada ajang penghargaan salah satu platform sosial media tersohor di Indonesia.
Diakui, nama Pandawara telah disematkan ke grup pertemanan mereka sejak 2020, ketika mereka sepakat secara nekat memulai beragam bisnis bersama mulai dari berjualan hingga menggarap proyek foto dan videografi. Pengalaman ini lah yang membungkus sederet inisiatif 'bersih-bersih' dengan kematangan konsep visual yang 'menjual'.
Awalnya tuh mau punya yayasan fokus di kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Tapi masih bingung geraknya. Ditambah rumah yang menjadi base camp kami sering (kena) banjir
Didasari keresahan tersebut, mereka langsung terjun beraksi membersihkan sungai yang berada tidak jauh dari posisi base camp mereka. Dan bisa ditebak, penuh akan tumpukan sampah. “Dari dulu sebenarnya (kami) sudah peduli, tapi nggak ngajak orang-orang,” kenang mereka. Aksi ini pula yang menjadi cikal bakal gerakan ‘bersih-bersih’ Pandawara selanjutnya.
Jalan tiga tahun bergerilya, Pandawara telah berhasil membersihkan sekitar 80 titik lokasi tercemar dengan angka sampah yang fantastis—terkumpul lebih dari 1.000 ton sampah, perjalanan Pandawara tidak selalu mulus. Berbagai komentar negatif hingga penolakan dari masyarakat dianggap mereka sebagai hal yang wajar. Hal ini tentu menjadi tantangan, namun bukan menjadi halangan.
Semangat positif terus meraka tebar hingga pernah satu titik mereka berhasil mengumpulkan relawan yang secara cuma-cuma mau turut andil membersihkan lingkungan. "Waktu di Cirebon, ada 10.000 relawan yang bantu bersihin pantai. Nah, itu sebelum mulai, (kita) nyanyi lagu Indonesia Raya dan 10.000 relawan itu nyanyi semua. Kayak pesta rakyat tapi bersih-bersih sampah. Merinding!" seru mereka mengenang momen paling berkesan bagi Pandawara.
Momen demi momen dirajut dalam kampanye membersihkan sungai dan pantai di berbagai wilayah Indonesia berlandaskan filosofi gotong royong yang lekat akan kultur Indonesia. Namun, mereka masih belum puas. Mimpi besar mereka adalah membangun wadah pengelolaan sampah sendiri dan mengedukasi tentang pemilahan sampah yang mencakup banyak kolaborator sehingga isu sampah ini secara perlahan teratasi. Berkesempatan diundang oleh Kedutaan Besar Indonesia di Denmark beberapa waktu silam dalam rangka pembelajaran pengelolaan sampah kian menumbuhkan harapan bagi Indonesia menciptakan warisan budaya baru di mana setiap lapisan masyarakatnya punya kesadaran dan kepedulian tinggi akan sampah. Jauh dari impresi pesimis, spirit kebaikan Pandawara terasa semakin lekat tidak hanya bagi sekitarnya tapi juga masyarakat secara luas.
Credits
Fotografi: Andre Wiredja
Pengarah gaya: Hans Hambali
Riasan: Vani Sagita
Rambut: Mellenia
Pakaian: Sejauh Mata Memandang, Sejauh Mata Memandang x Adrian Gan, Sejauh Mata Memandang x Eko Nugroho, Tanah le Saé
Topics









