From coffee to tea, science challenges long-held caffeine myths and reveals what’s really in your cup. (Photo: Freepik)
Cover Dari kopi hingga teh, sains menantang mitos lama tentang kafein dan mengungkap apa sebenarnya isi cangkir Anda (Foto: Freepik)
From coffee to tea, science challenges long-held caffeine myths and reveals what’s really in your cup. (Photo: Freepik)

Mitos tentang kafein memang banyak, tapi tidak semuanya benar. Berikut penjelasan ilmiah tentang minuman yang Anda minum setiap hari

Kafein adalah salah satu zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia, dan telah menjadi bagian dari ritual sehari-hari, mulai dari kopi pagi hingga suplemen pra-olahraga. Meskipun keberadaannya di mana-mana, kesalahpahaman tentang kafein masih ada—sering kali dianggap sebagai pengetahuan umum tanpa didukung bukti ilmiah. Dari ketakutan akan dehidrasi hingga asumsi tentang kecanduan, mitos-mitos ini dapat membentuk cara orang mengonsumsi atau menghindari minuman mereka sehari-hari. Di sini, penelitian ini memisahkan fakta dari fiksi.

Baca selengkapnya: Ruang kopi Kissaten—tantangan budaya dan bagaimana orang Jepang beradaptasi dengan masyarakat modern

1. Kafein membuat Anda dehidrasi

Dugaan bahwa kafein menyebabkan dehidrasi berasal dari efek diuretiknya yang ringan. Namun, studi dalam Journal of the International Society of Sports Nutrition 2024 mencatat bahwa dosis harian sedang (sekitar 250–300 mg) tidak meningkatkan volume urin pada pengguna rutin. Hanya asupan tinggi—lebih dari 500 mg sekaligus atau setara dengan minuman bersoda yang sangat kuat dalam ukuran Venti—yang dapat memicu kehilangan cairan yang signifikan, dan meskipun demikian, kecil kemungkinannya menyebabkan dehidrasi jika asupan cairan secara keseluruhan memadai.

2. Kafein adalah alat penurunan berat badan yang efektif

Meskipun kafein dapat meningkatkan oksidasi lemak sementara selama berolahraga, dampaknya terhadap penurunan berat badan atau lemak jangka panjang tidak konsisten. Hasil bervariasi tergantung dosis, tingkat kebugaran individu, dan apakah senyawa lain dikonsumsi bersamaan. Bukti tidak mendukung kafein sebagai alat bantu pembakaran lemak tunggal.

3. Konsumsi kafein secara teratur mengurangi efeknya

Tatler Asia
Research separates fact from fiction on caffeine’s effects, from hydration to bone health. (Photo: Kroshka__nastya / Freepik)
Above Penelitian membedakan fakta dari fiksi tentang efek kafein, mulai dari hidrasi hingga kesehatan tulang (Foto: Kroshka__nastya / Freepik)
Research separates fact from fiction on caffeine’s effects, from hydration to bone health. (Photo: Kroshka__nastya / Freepik)

Sering diklaim bahwa peminum kafein harian tidak lagi merasakan manfaat peningkatan performanya. Namun, penelitian yang sama menunjukkan bahwa asupan rutin tidak menghilangkan peningkatan performa dari dosis akut. Dalam beberapa kasus, dosis yang lebih tinggi—6–9 mg per kilogram berat badan—mungkin diperlukan untuk mendapatkan efek yang nyata, tetapi manfaat keseluruhannya tetap sama.

4. Kafein menghambat kesehatan tulang

Kekhawatiran tentang kafein yang mengurangi kepadatan mineral tulang sebagian besar berkaitan dengan asupan yang sangat tinggi atau konsumsi kalsium yang tidak memadai. Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa hingga empat cangkir kopi sehari (sekitar 400 mg kafein) aman untuk kesehatan tulang pada orang dewasa yang sehat, meskipun perlu berhati-hati bagi mereka yang memiliki faktor risiko osteoporosis .

5. Kafein bersifat adiktif

Kafein memang bisa menimbulkan ketergantungan ringan dan gejala putus konsumsi seperti sakit kepala atau mudah tersinggung. Namun, kafein tidak memenuhi kriteria medis sebagai “kecanduan” seperti halnya nikotin atau opioid. Cara kerjanya berbeda di jalur otak, dan umumnya tidak mendorong perilaku penggunaan yang kompulsif.

Meski kuncinya adalah mengonsumsi secara seimbang, penelitian menunjukkan bahwa bagi sebagian besar orang dewasa yang sehat, kafein dapat dinikmati tanpa risiko yang sering diklaim, asalkan dikonsumsi dalam batas yang disarankan dan dengan memperhatikan toleransi masing-masing individu.


This story was originally written in English by Chonx Tibajia.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Chonx Tibajia dan diterbitkan pada 13 Agustus 2025. Read the original story here.

Topics