Salah satu tradisi khas yang terjadi setiap Lebaran, tentu saja mudik. Momen istimewa bagi banyak orang kembali menemui keluarga, kembali ke kampung halaman. Tak masalah harus berdesak-desakan dan membayar tiket lebih mahal demi kerinduan dan terkoneksi kembali
Ada beberapa sumber yang menyebut jika istilah “mudik” diambil dari sebuah naskah kuno berbahasa Melayu. Seorang antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan kalau mudik berasal dari Bahasa Melayu “udik” yang berarti hulu atau ujung. Masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering berpergian dengan perahu. Selepas sore mereka kembali ke udik.
Bahasa Betawi juga mengenal istilah “udik” yang berarti kampung. Pantas jika asosiasi kita terhadap mudik adalah pulang kampung. Ada pula yang menyebutkan kalau mudik merupakan singkatan dari “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar.

Above Pulang ke kampung halaman, kembali menemui becak (Photo: Fikri Rasyid / Unsplash)
Tradisi sejak zaman kerajaan
Terlepas dari asal katanya, siapa sangka budaya mudik sudah ada sejak Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam di abad ke-16. Berlanjut pada masa kolonial, ketika masyarakat dari berbagai daerah merantau ke Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya yang dikenal sebagai kota pelabuhan. Mereka yang bekerja di kota kerap dapat kesempatan pulang kampung menjelang perayaan hari besar.
Mudik mendapat momentum dan kian populer sejak tahun 1970-an karena terjadi urbanisasi besar-besaran. Banyak orang yang meninggalkan desanya untuk mencari peruntungan di kota besar.

Above Di antara bentangan sawah di Kebumen (Photo: Dika Seva / Unsplash)

Above Oro-oro Ombo, sebuah desa di Batu, Jawa Timur (Photo: Ifan Bima / Unsplash)
Memaknai kata silaturahmi
Zaman boleh berganti, tapi tradisi ini terus terpelihara hingga kini. Mudik bisa dimaknai lebih dari sekadar pulang kampung. Beberapa di antaranya, menggunakan momen ini untuk berwisata dan menikmati lengangnya kota.
Lebih dari itu, mudik berarti berani mengambil jeda dan kembali kepada orang-orang tersayang, kembali ke kemanusiaan kita. Di tengah hidup penuh tekanan dan segala hal yang terburu-buru, mudik bisa jadi terapi mental yang dibutuhkan, mungkin terkecuali jika mendapat pertanyaan-pertanyaan “kapan” yang memusingkan dari keluarga besar. Selamat mudik, selamat bersilaturahmi.




