Cover Film Killers of the Flower Moon yang menerima pujian pada Cannes Film Festival 2023 Foto: Apple.

Ada banyak kejutan dalam pembukaan Cannes Film Festival 2023, berikut rekomendasi film yang tak boleh dilewatkan.

Kembalinya Cannes Film Festival 2023 telah memberi banyak petunjuk tentang film-film berkualitas yang dapat kita nikmati untuk tahun 2023 ini. Sejumlah diantaranya bahkan sudah diprediksi untuk masuk ke ajang Golden Globe dan Academy Award 2024. Dalam sejarahnya, Cannes Film Festival adalah salah satu festival film terbesar dan paling terkenal di dunia. Festival ini pertama kali diselenggarakan pada 1946 di kota Cannes, Prancis. Awalnya, tujuan utama festival ini adalah untuk memperkenalkan dan mempromosikan film-film baru kepada industri perfilman internasional. Ide tersebut muncul pada 1939, ketika Jean Zay, Menteri Pendidikan dan Seni Prancis pada saat itu, berencana untuk mengadakan sebuah acara film internasional di Cannes.

Namun, rencana tersebut terhenti akibat pecahnya Perang Dunia II dan baru direalisasikan setelahnya dengan dukungan dari sekelompok pengusaha dan pejabat Prancis yang ingin memulihkan industri perfilman. Pada 20 September 1946, Festival Film Cannes secara resmi dibuka di Palais des Festivals et des Congrès, sebuah gedung yang dibangun khusus untuk festival tersebut. Acara ini awalnya diadakan pada bulan September, tetapi kemudian dipindahkan ke bulan Mei hingga saat ini. Festival ini memiliki beberapa kompetisi utama, termasuk kompetisi film panjang yang memperebutkan penghargaan prestise, Palme d'Or.

Rekomendasi kami kali ini menghadirkan deretan film-film dengan ide cerita, pengambilan gambar, hingga gaya bercerita memukau, yang semuanya ditampilkan dalam Cannes Film Festival 2023. Beberapa di antaranya, seperti  "The Zone of Interest", "Asteroid City", dan "May December", tengah berkompetisi untuk memperebutkan Palme d’Or yang bergengsi. Di luar dari kompetisi, "Killers of the Flower Moon" yang menampilkan Leonardo DiCaprio berhasil mendapat standing ovation terlama di Cannes Film Festival 2023. Lalu kembalinya Johnny Depp di dunia akting melalui “Jeanne du Barry”, telah membagi dua perspektif.

Simak lebih banyak ulasan kami tentang rekomendasi film dalam Cannes Film Festival 2023 di bawah ini.

Baca lagi: Kisah Nyata dari 'Queen Charlotte: A Bridgerton Story'

1. Killers of the Flower Moon

Tatler Asia
Above Lily Gladstone dan Leonardo DiCaprio dalam film Killers of the Flower Moon Foto: Apple.

Keberhasilan sutradara Martin Scorsese dalam memproduksi film bertema serius dan gelap sepertinya akan terulang kembali. Sedikit berbeda dari sebelumnya, Martin Scorsese kali ini hadir dalam film bergenre western pertamanya. "Killers of the Flower Moon" diadaptasi dari novel non fiksi yang berjudul sama karya David Grann yang mengisahkan pembunuhan berantai anggota suku Osage di Oklahoma pada 1920-an. Peristiwa tersebut memicu penyelidikan besar FBI, terutama akibat kejahatan brutal yang kemudian dikenal sebagai Reign of Terror, sekaligus menguji keberanian FBI pada masa-masa awalnya.

Martin Scorsese menggandeng Leonardo DiCaprio, Robert De Niro, Brendan Fraser, Sturgill Simpson, dan Jack White untuk ikut ambil bagian dalam film.  "Killers of the Flower Moon" dikabarkan memiliki durasi tiga jam 45 menit, sedikit lebih panjang dari film Martin terdahulu, “The Irishman”.

Berkat ketenaran Martin Scorsese,  "Killers of the Flower Moon" menjadi salah satu film yang paling ditunggu peserta Cannes Film Festival tahun ini. Tiket penayangan film tersebut diburu banyak penonton hingga menyebabkan antrian mengular. Setelah penayangan perdana dalam Cannes Film Festival 2023, "Killers of the Flower Moon" juga mendapat reaksi positif. Ia mendapatkan standing ovation terlama sepanjang penyelenggaraan Cannes Film Festival 2023, yaitu sembilan menit. Pujian kepada Lily Gladstone sebagai pemeran perempuan suku Osage juga membanjiri media sosial hingga digadang-gadang layak mendapat Piala Oscar.

2. Firebrand

Tatler Asia
Above Alicia Vikander sebagai Catherine Parr Foto: The Times UK.

Bagi penggemar Alicia Vikander, menonton film "Firebrand" bisa menjadi salah satu obat rindu. "Firebrand" adalah film yang disutradarai oleh Karim Aïnouz, seorang sutradara Brasil-Aljazair dan merupakan adaptasi dari novel "Queen's Gambit" karya Elizabeth Fremantle yang diterbitkan pada 2013. Karim Aïnouz sebelumnya lebih banyak membuat film dokumenter dan esai video. Film panjang pertamanya, yaitu "The Invisible Life of Eurídice Gusmão" pada 2019, kurang mendapat apresiasi dan tidak terlalu dikenal. Sementara "Firebrand" mendapat kesempatan ditayangkan perdana dalam seleksi Un Certain Regard di Festival Film Cannes, dianggap sebagai sebuah tiket emas bagi Aïnouz untuk meraih pengakuan internasional.

"Firebrand" bercerita tentang kehidupan Katherine Parr, istri keenam dan terakhir dari Raja Henry VIII. Berlatar Inggris era Tudor yang penuh dengan pertumpahan darah, Katherine berjuang untuk bertahan hidup walau selalu dipenuhi ketakutan, bahwa ia akan mengalami nasib seperti beberapa istri sebelumnya yang dipenggal oleh Raja Henry VIII (diperankan Jude Law).

Meski mengambil latar sejarah, "Firebrand" lebih condong digambarkan sebagai "horor drama sejarah" dan Aïnouz menyebutnya sebagai "cerita yang penuh ketegangan." Terlepas dari genrenya, dalam pemutaran perdana pada Cannes Film Festival 2023, film ini mendapat standing ovation yang cukup lama, yaitu delapan setengah menit. Jude Law melalui "Firebrand", sedang berkompetisi untuk memperebutkan Prix d’interprétation masculine (best actor).

3. Jeanne du Barry

Tatler Asia
Above Madame du Barry dan King Henry XV dalam film Jeanne du Barry Foto: Stephanie Branchu / why not productions.

Kembalinya Johnny Depp ke dunia film setelah berseteru dengan mantan istrinya Amber Heard tentu mengundang sorotan publik. Film “Jeanne du Barry” turut ditampilkan sebagai pembuka dalam Cannes Film Festival 2023 dan mendapat standing ovation selama tujuh menit. "Jeanne du Barry" adalah film yang dibintangi oleh Maiwenn sebagai Jeanne Vaubernier, seorang wanita kelas pekerja di Prancis abad ke-18, yang naik pangkat sosial dan menjadi kekasih Raja Louis XV. Latar belakangnya sebagai wanita kelas pekerja membuatnya dijauhi oleh masyarakat di kalangan istana Raja. Para pemeran pendukung dalam film ini termasuk Benjamin Lavernhe, Pierre Richard, Melvil Poupaud, dan Pascal Greggory. Dalam film “Jeanne du Barry”, Johnny Depp memerankan Raja Louis XV dan fasih berbahasa Prancis. 

Sebelum malam pembukaan Cannes, "Jeanne du Barry" telah mencuri perhatian dan mengundang kontroversi. Beberapa kalangan masih percaya bahwa Johnny Depp bersalah dan mempertanyakan alasan diundangnya Johnny untuk hadir di Cannes. Namun, tidak sedikit juga yang menunjukkan dukungannya. Terbukti Johnny Depp mendapat tepuk tangan meriah dari para penggemarnya ketika muncul di karpet merah di luar Palais.

4. The Zone of Interest

Tatler Asia
Above Film bertemakan Perang Dunia II The Zone of Interest yang disutradai oleh Jonathan Glazer Foto: Time.

Film berlatar belakang sejarah cukup banyak menghiasi Cannes Film Festival tahun ini. Salah satunya adalah "The Zone of Interest". Walau begitu, "The Zone of Interest" merupakan film fiksi, hanya saja mengambil peristiwa sejarah Perang Dunia II dan pembantaian Yahudi oleh NAZI sebagai latar waktunya. "The Zone of Interest" adalah film yang disutradarai oleh Jonathan Glazer, seorang sutradara terkenal asal Inggris yang sebelumnya telah menciptakan karya-karya seperti "Sexy Beast", "Birth", dan mahakarya "Under the Skin”. Dalam film ini, Jonathan Glazer menghadirkan karya keempatnya setelah 10 tahun berlalu, yang diadaptasi dari novel karya Martin Amis yang berjudul sama dan diterbitkan pada 2014. 

Film ini merupakan sebuah drama Holokaus, berkisah tentang seorang komandan di kamp konsentrasi Auschwitz (diperankan oleh Christian Friedel, yang sebelumnya tampil dalam "Amour Fou") dan istrinya (diperankan oleh Sandra Hüller, pemeran di "Toni Erdmann"). Mereka berusaha membangun kehidupan impian untuk keluarga mereka di taman yang bersebelahan dengan kamp Auschwitz. Proses pembuatan film ini dilakukan sejak 2021 di Auschwitz dan diharapkan menjadi salah satu film yang menggugah perasaan penonton tahun ini. 

Produsernya, Ewa Puszczyńska, baru-baru ini menyebutkan bahwa "The Zone of Interest" merupakan satu-satunya film yang dipilih secara bulat oleh komite seleksi Cannes. Antisipasi terhadap film ini sangat tinggi. Dalam tayangan perdana sebagai film pembuka, Jonathan Glazer berhasil menghadirkan sensasi luar biasa dan "The Zone of Interest" berhasil mendapatkan standing ovation selama enam menit. "The Zone of Interest" juga tengah memperebutkan Palme d’Or dan Prix de la mise en scène (best director) dan Prix d’interprétation feminine (best actress).

5. Asteroid City

Tatler Asia
Above Gaya khas Wes Anderson kembali dapat disaksikan dalam Asteroid City Foto: Pop. 87 Productions/Focus Features.

Setelah film-film terakhirnya seperti "The French Dispatch," "Isle of Dogs," dan "The Grand Budapest Hotel”, Anderson kembali dengan karya terbarunya, "Asteroid City", yang mengambil latar belakang konvensi Junior Stargazer pada 1955, di sebuah kota fiksi di padang pasir. Sesuai ciri khasnya, Wes Anderson menggandeng cukup banyak aktor dan aktris papan atas, seperti Jason Schwartzman, Jeffrey Wright, Tilda Swinton, Jeff Goldblum, dan Willem Dafoe. Selain itu, ada juga kehadiran aktor dan aktris Scarlett Johansson, Tom Hanks, Bryan Cranston, dan Margot Robbie. 

Dengan gaya khas Wes Anderson, "Asteroid City" diharapkan akan menghadirkan keajaiban visual, pengarahan yang penuh dengan detail, dan humor yang khas. Film ini akan mengeksplorasi tema-tema seperti pertemuan dengan hal-hal tak terduga, hubungan manusia dengan alam semesta, dan dinamika karakter yang rumit. Sebagai film dengan gaya whimsical dan referensi-referensi sinema yang kuat, "Asteroid City" akan menghadirkan pengalaman yang unik dan menghibur bagi para penonton yang menggemari karya-karya Wes Anderson.

"Asteroid City" berkompetisi untuk memenangkan Palme d’Or dan Prix d’interprétation masculine (best actor).

6. May December

Tatler Asia
Above A-Listers Natalie Portman dan Julianne Moore dalam May December Foto: Roger Ebert.

Kehadiran film dengan adu peran antara dua aktris ternama, Natalie Portman dan Julianne Moore, menjadi salah satu yang juga ditunggu-tunggu di Cannes Film Festival 2023. "May December" adalah sebuah film yang disutradarai oleh Todd Haynes, seorang sineas terkenal yang telah menciptakan karya-karya seperti "Far From Heaven", "I'm Not There", dan "Carol". Film ini berkisah tentang kehidupan Gracie Atherton-Yoo (yang diperankan oleh Julianne Moore) dan suaminya Joe, yang menarik perhatian media selama puluhan tahun. Ketika anak kembar mereka akan lulus dari sekolah menengah, datanglah Elizabeth Berry (yang diperankan Natalie Portman), seorang aktris Hollywood, untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mereka dan lebih memahami sosok Gracie, yang akan Elizabeth perankan dalam sebuah film. Namun, tekanan pandangan publik yang mengawasi mereka menyebabkan dinamika keluarga mulai terurai. "May December" menggambarkan perjalanan emosional dari keluarga yang berusaha menavigasi hubungan yang penuh kontroversi, menghadapi tekanan dari masyarakat, dan menghadapi perubahan dalam kehidupan keluarga mereka.

 "May December" berkompetisi untuk memenangkan Palme d’Or, Prix de la mise en scène (best director), dan Prix d’interprétation feminine (best actress).

7. L’Été Dernier

Tatler Asia
Above Sutradara Catherine Breillat kembali mengangkat isu kontroversial dalam L’Été Dernier Foto: SPS Productions.

"L'Été Dernier" (Last Summer) adalah sebuah film yang disutradarai oleh Catherine Breillat, seorang sineas asal Prancis yang dikenal dengan karya-karyanya yang provokatif dan kontroversial seperti "Romance" dan "Anatomy of Hell". Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Cannes dan bercerita tentang Anna, seorang pengacara terkenal yang mengkhususkan diri dalam kasus pelecehan anak. Anna menemukan dirinya jatuh cinta pada Theo, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun, sekaligus anak suaminya dari pernikahan terdahulu. Hubungan rumit dan tabu ini menjadi fokus utama dalam film ini. 

Catherine Breillat memang terkenal dengan reputasi mendorong batasan dan hal-hal tabu yang ada di masyarakat. Sebagai seorang sineas veteran berusia 74 tahun, Breillat memiliki gaya penceritaannya yang khas dan menghadirkan pengalaman sinematik yang menimbulkan pemikiran. Dalam kembalinya Breillat ke Cannes Film Festival, penonton dan para kritikus mengantisipasi bahwa film ini akan menimbulkan kontroversi dan memicu diskusi tentang konten eksplisitnya.