Cover Raja Charles III dan Ratu Charlotte dalam serial Netflix "Queen Charlotte: A Bridgerton Story".

Sejarah yang tak banyak diketahui tentang kisah Ratu Charlotte dan Raja George III

Setelah sukses dengan dua seri Bridgerton sebelumnya ("The Duke & I" dan "The Viscount Who Loved Me"), pada tahun lalu, Netflix dan Shonda Rhimes mengumumkan cerita baru spin off yang terfokus pada karakter Queen Charlotte. Dalam dua seri sebelumnya, Ratu Charlotte digambarkan sebagai sosok ratu yang berwibawa, pintar, tetapi tegas. Ia juga dikagumi sebagai sosok yang berperan aktif dalam mengelola rumah tangga kerajaan dan peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. Meski begitu, ratu selalu tampak sendirian dan misterius. 

Ratu Charlotte dalam Bridgerton adalah buah inspirasi Julia Quinn, yang mengambil sebagian besar kehidupan nyata Ratu Charlotte dan Raja George III. Sebagai penulis buku Bridgerton, Julia mengakui sosok Ratu Charlotte dalam buku dan film adalah tokoh fiksi yang merupakan hasil dari penggabungan beberapa inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah dan peristiwa di era Regency Inggris. Walau merupakan hasil perpaduan dari berbagai tokoh, kisah hidup Ratu Charlotte yang sesungguhnya tak kalah menarik untuk disimak.

Ratu Charlotte di dunia nyata datang dari kerajaan kecil di ujung Jerman. Ia kemudian menikah dengan (calon) raja di usia yang masih sangat muda, melahirkan banyak anak sebagai bagian dari tradisi penerus kerajaan, tetapi harus menghadapi penyakit mental raja yang kemudian lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. 

Dari seri Bridgerton, kini saatnya kita mengetahui lebih dalam tentang sejarah Ratu Charlotte yang pernah berkuasa di Inggris Raya.

Baca lagi: Movies & TV Shows of The Royal Family You Need to Watch Before the Coronation

Pertemuan pertama dengan calon Raja George III di tahun 1760

Tatler Asia
Above Lukisan pernikahan Raja George III & Ratu Charlotte. Foto: Royal UK.

Ratu Charlotte merupakan putri bungsu dari pasangan Duke (Adipati) of Charles Louis Frederick dan Putri Elizabeth Albertina. Ia memiliki nama asli Sophia Charlotte dan lahir pada 19 Mei 1744 silam. Pertemuan pertama sang Ratu dengan Raja George III (saat bertemu pertama kali, mereka belum menyandang status Raja & Ratu) sangat menarik, karena ia masih berusia 17 tahun.

Tatler Asia
Above Pertemuan pertama Raja George III dan Ratu Charlotte pada serial Bridgerton. Foto: Netflix.

Kecantikan Ratu Charlotte mencuri hati Raja George III yang belum menikah. Saat itu, ia akan naik takhta di usia 22 tahun pada 1760 silam. Menemukan calon istri menjadi prioritas utamanya untuk membangun kerajaan bersama. Raja George III memiliki kriteria tertentu untuk calon istrinya itu. Ia menginginkan sosok yang mampu mendampingi dan berbagi visi – misi bersama. Melalui banyak pencarian, akhirnya Ratu Charlotte menjadi ‘pelabuhan’ terakhir sang Raja. Pada 17 Agustus 1761, Charlotte berlayar ke Inggris dan tiba pada 8 September. Enam jam kemudian, keduanya melangsungkan pernikahan disusul dengan upacara penobatan di Kapel Royal pada 22 September 1761.

Memiliki kehidupan harmonis dengan 15 orang anak

Tatler Asia
Above Ratu Charlotte dengan dua anak tertuanya. Foto: Historic Royal Palaces.
Tatler Asia
Above Raja George III dan Ratu Charlotte bersama enam anak tertua mereka. Foto: Historic Royal Palaces.

Selepas menikah, Ratu Charlotte dan Raja George III memiliki hobi yang sama, yaitu musik dan pertanian. Kehidupan rumah tangga mereka relatif harmonis dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama di Istana Kew, di luar London. Keduanya kerap berkirim surat untuk saling mengekspresikan rasa kasih sayang. Kurang dari setahun pernikahan, Ratu Charlotte dikaruniai seorang putra, yaitu Pangeran Wales atau dikenal sebagai Raja George IV. Berturut-turut setelahnya, Ratu Charlotte melahirkan 14 anak lainnya dan menetap di Istana St. James. Namun, sang Raja memberi properti baru yang dikenal sebagai Istana Buckingham.

Raja George III didiagnosa mengidap penyakit mental

Tatler Asia
Above Potret Raja George III. Foto: Immediate.

Kehidupan rumah tangga yang semula tampak harmonis dan indah berubah menjadi suram saat Raja George III didiagnosa mengidap penyakit mental pada 1765. Di zaman tersebut, penyakit yang ia punya belum dikenal dengan nama penyakit mental dan disebut sebagai ‘Madness’. Seorang sejarawan memercayai bahwa sang raja menderita gangguan bipolar dan mania kronis dan mendokumentasikannya dalam sebuah jurnal medis berjudul "The Madness of King George III: A Psychiatric Re-assessment", yang diterbitkan oleh Timothy J Peters dalam Sejarah Psikiatri. 

Peter menuliskan bahwa di usia 27 tahun, Raja George telah menunjukkan tanda-tanda depresi ringan yang konsisten. Tanda ini muncul setelah penyakit fisik yang melibatkan pendarahan dan nyeri di dada sang Raja. Raja George tidak pernah tidur lebih dari dua jam semalam dan kesulitan dalam mengambil keputusan atas pengangkatan Perdana Menteri di Pemerintahannya.

Ratu Charlotte mendampingi sang raja hingga akhir hayat

Tatler Asia
Above Lukisan asli sang raja dan ratu di dunia nyata, Foto: Royal Collection.
Tatler Asia
Above Gambaran Ratu Charlotte dan Raja George III dalam serial Bridgerton. Foto: Netflix.

Kondisi fisik Raja George III terus menurun, Ia dinyatakan sakit sepanjang tahun 1788. Dari catatan dokter Kerajaan, ada berbagai insiden tidak biasa yang terjadi dengan sang Raja. Akibatnya, rumor tak sedap menghampiri kehidupan rumah tangga Ratu Charlotte, yaitu sang Raja telah meninggal dunia. Rumor itu menghantui Charlotte hingga ketakutan dan cemas, namun Ia berusaha tetap tenang menghadapi semuanya. Selain itu, penyakit mental yang semula dinyatakan sementara berubah menjadi permanen pada 1810 silam. Setahun kemudian, sang raja dinyatakan gila.

Akhirnya, Pangeran Wales diangkat menjadi pemangku takhta dan Ratu Charlotte setia mendampingi Raja George III. Sang Ratu menghembuskan napas terakhir di hadapan putra sulungnya di Istana Kew pada 1818 di usia 74 tahun dan dimakamkan di Kapel St. George, Kastil Windsor.

Topics