Are you ready for a ‘Crash Course in Romance’ from these midlife dramas? (Photo: tvN)
Cover Apakah Anda siap untuk ‘Crash Course in Romance’ dari drama Korea yang menghangatkan hati ini? (Foto: tvN)
Are you ready for a ‘Crash Course in Romance’ from these midlife dramas? (Photo: tvN)

Drama Korea yang mengharukan ini tidak menjanjikan akhir yang sempurna atau transformasi besar. Yang mereka tawarkan adalah sesuatu yang jauh lebih langka.

Cinta masa muda dalam drama Korea penuh dengan adrenalin dan pengakuan cinta yang diguyur hujan. Namun, cinta di usia paruh baya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia datang membawa beban hipotek, mantan kekasih, anak-anak yang terasing, kelelahan kronis, dan benteng emosional yang dijaga dengan cermat. Dan justru itulah mengapa cinta di usia paruh baya lebih menarik.

Dalam beberapa tahun terakhir, televisi Korea diam-diam telah menyempurnakan seni drama Korea yang menghangatkan hati, khususnya yang bertema percintaan dewasa: kisah di mana cinta tidak menyelamatkan Anda dari kehidupan, tetapi bersikeras untuk selalu berada di sisi Anda. Drama-drama ini memahami bahwa hal paling romantis yang dapat dilakukan dua orang adalah memilih satu sama lain lagi—setelah kekecewaan, setelah kompromi, setelah dunia telah memberikan pendapatnya.

Bagi penonton yang menyadari beratnya kesempatan yang terlewatkan dan sensasi dari kesempatan kedua yang tak terduga, ini adalah drama Korea yang menghangatkan hati dan menyentuh dengan kelembutan yang luar biasa.

Jika Anda melewatkannya: 5 alasan drama Korea baik untuk kesehatan mental dan emosional

1. ‘Doctor Cha’ (2023)

Above Seorang wanita merebut kembali hidupnya—dan kebahagiaannya—dengan menjadi orang yang pernah ia tunda.

Cha Jung-sook (Uhm Jung-hwa) memulai serial ini sebagai tipe wanita yang diabaikan secara sopan oleh masyarakat: seorang istri yang setia, seorang ibu yang tak kenal lelah, dan seorang dokter ulung yang rela meninggalkan kariernya agar suaminya bisa bersinar. Ketika ia kembali ke dunia kedokteran sebagai dokter residen—di rumah sakit yang sama tempat suaminya, Seo In-ho (Kim Byung-chul), bekerja sebagai dokter senior—kompetensinya yang tenang menjadi bentuk pemberontakan tersendiri. Perjalanan emosional Jung-sook adalah sebuah kemenangan. Kisah cintanya bukan tentang percikan asmara, melainkan tentang martabat: belajar menghargai dirinya sendiri di luar peran yang diberikan kepadanya. Ini adalah kebangkitan di usia paruh baya yang memahami bahwa balas dendam terasa paling manis ketika tampak seperti harga diri.

2. ‘Crash Course in Romance’ (2023)

Above Cinta bersemi di antara dua orang dewasa yang kelelahan dan mengira hidup telah berlalu begitu saja bagi mereka.

Nam Haeng-seon (Jeon Do-yeon) menjalankan toko lauk pauk dengan kehangatan yang luar biasa dan tanpa kesabaran terhadap hal-hal yang tidak penting, sementara Choi Chi-yeol (Jung Kyung-ho) adalah tutor matematika selebriti yang kesuksesannya telah membuatnya kehilangan tidur, nafsu makan, dan kebahagiaan. Hubungan mereka dimulai dengan pertengkaran yang begitu tajam hingga bisa memotong lobak, tetapi perlahan melunak menjadi sesuatu yang memulihkan. Salah satu drama Korea yang paling dicintai dan menghangatkan hati, Crash Course in Romance menempatkan kisah cinta mereka di tengah sistem pendidikan Korea yang kejam, membuat momen-momen domestik kecil mereka terasa radikal. Yang mengharukan bukanlah chemistry mereka—meskipun sangat bagus—tetapi cara mereka membiarkan satu sama lain beristirahat. Ini adalah kisah cinta tentang pemeliharaan, secara harfiah dan emosional.

3. ‘Romance in the House’ (2024)

Above Kesempatan kedua untuk cinta menjadi rumit karena kesombongan, uang, dan orang-orang yang mengingat kegagalan terburukmu.

Yoon Ji-jin (Kim Ji-soo) telah menghabiskan satu dekade membesarkan anak-anaknya tanpa mantan suaminya, Byun Moo-jin (Ji Jin-hee), yang bisnisnya yang gagal pernah menghancurkan keluarga mereka. Ketika ia kembali sebagai tuan tanah kaya, berniat membangun kembali apa yang telah ia hancurkan, drama ini menolak pengampunan yang mudah. Kisah cinta mereka terungkap di tengah kekacauan keluarga, dendam yang belum terselesaikan, dan seorang putri yang menolak untuk terpesona. Yang membuat serial ini berhasil adalah penolakannya untuk meromantisasi penebusan tanpa usaha. Tidak seperti drama Korea yang mengharukan lainnya, cinta di sini canggung, bersyarat, dan dinegosiasikan. Mirip seperti kehidupan nyata.

4. 'Our Blues' (2022)

Above Cinta yang dihidupkan kembali tidak selalu seperti yang Anda ingat—dan itulah intinya.

Berlatar di Pulau Jeju, drama yang menampilkan banyak karakter ini menawarkan kisah cinta, tetapi kehancuran sunyi Eun-hui (Lee Jung-eun) dan Han-su (Cha Seung-won) paling membekas. Dahulu teman sekelas muda dengan mimpi yang sama, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa dengan nasib yang sangat berbeda. Romansa mereka dimulai dengan nostalgia tetapi dengan cepat menghadapi rasa malu finansial, harga diri, dan terkikisnya harapan secara perlahan. Serial ini menolak sentimentalitas, membiarkan keheningan yang menyampaikan pesan. Ini adalah kisah cinta yang tidak menjanjikan penyelamatan, hanya pemahaman.

5. ‘Mad for Each Other’ (2021)

Above Dua orang dewasa yang terluka secara emosional bertabrakan, lalu perlahan belajar bagaimana untuk tetap bersama.

Noh Hwi-oh (Jung Woo) dan Lee Min-kyung (Oh Yeon-seo) bertemu sebagai tetangga yang hampir tidak bisa saling toleransi—dan memiliki psikiater yang sama. Pertengkaran mereka berisik, absurd, dan seringkali lucu, tetapi serial ini dengan hati-hati mengupas trauma di balik gejolak emosi mereka. Ini bukan kisah romantis tentang memperbaiki seseorang; ini tentang menyaksikan mereka secara jujur. Saat mereka mulai memilih empati daripada kemarahan, komedi memberi jalan pada sesuatu yang tak terduga dan lembut. Ini berantakan, modern, dan menyegarkan tanpa disterilkan.

6. ‘When My Love Blooms’ (2020)

Above Cinta pertama kembali, telah berubah karena waktu, kelas sosial, dan semua hal yang salah terjadi di antaranya.

Han Jae-hyun (Yoo Ji-tae) adalah seorang pengusaha kaya yang dulunya percaya pada protes dan puisi; Yoon Ji-soo (Lee Bo-young) adalah seorang ibu tunggal yang idealismenya bertahan dengan harga yang mahal. Pertemuan kembali mereka sarat dengan kenangan, penyesalan, dan kerinduan yang belum terselesaikan. Drama ini menjalin kisah antara romansa masa muda mereka dan realitas masa kini, mempertanyakan apakah cinta dapat bertahan dari kompromi moral. Alurnya lambat, elegi, dan tanpa ragu-ragu menyedihkan di beberapa bagian. Romansa di sini bukan tentang menghidupkan kembali gairah, tetapi lebih tentang mendamaikan diri dengan siapa diri Anda sekarang.

7. ‘Should We Kiss First?’ (2018)

Above Cinta setelah kehilangan itu tenang, hati-hati, dan sangat tulus.

Son Moo-han (Park Sung-woong) dan An Soon-jin (Kim Sun-a) adalah orang dewasa yang telah mengalami kesedihan yang begitu mendalam hingga menutup pintu secara permanen—atau setidaknya begitulah yang mereka pikirkan. Hubungan mereka berkembang dengan pengendalian diri yang luar biasa, lebih mengutamakan percakapan daripada pertunjukan. Trauma bukanlah subplot, melainkan medan emosional yang harus mereka lalui bersama. Drama ini memperlakukan keintiman sebagai sesuatu yang diperoleh, bukan sesuatu yang diasumsikan. Ini adalah salah satu penggambaran romansa dewasa yang paling jujur secara emosional di televisi Korea.

8. ‘Thirty-Nine’ (2022)

Above Cinta, persahabatan, dan kematian bertemu tepat sebelum segalanya berubah.

Serial ini mengikuti kisah tiga sahabat seumur hidup saat mereka mendekati usia 40 tahun, tetapi alur romantisnya benar-benar bersifat dewasa. Cha Mi-jo (Son Ye-jin) menjalani hubungan yang lembut dan sederhana dengan Kim Seon-woo (Yeon Woo-jin), sementara teman-temannya menghadapi cinta yang dibentuk oleh kerahasiaan, waktu yang tepat, dan kehilangan. Romansa di sini tidak pernah terpisah dari persahabatan—ia terjalin di dalamnya. Drama ini memahami bahwa pada tahap kehidupan ini, cinta jarang sekali tidak rumit. Ini tentang memilih kehadiran daripada fantasi.

Lihat selengkapnya: 10 pasangan paling berpengaruh di industri hiburan Korea

9. ‘A Gentleman’s Dignity’ (2012)

Above Empat sahabat seumur hidup di usia 40-an menjalani percintaan, persahabatan, dan harga diri yang terluka karena mencintai di usia yang lebih tua.

A Gentleman's Dignity berpusat pada empat pria yang telah menjadi sahabat sejak sekolah menengah: Kim Do-jin (Jang Dong-gun), seorang arsitek karismatik dengan reputasi sebagai orang yang menghindari komitmen; Im Tae-san (Kim Su-ro), seorang penakluk wanita yang percaya diri namun keberaniannya hanya menutupi rasa tidak aman; Choi Yoon (Kim Min-jong), seorang pengacara dengan sifat perfeksionis yang tak kenal lelah; dan Lee Jung-rok (Lee Jong-hyuk), yang kesetiaannya yang berhati lembut sering kali membuatnya berada di pihak yang kalah dalam hubungan.

Awalnya terasa seperti versi pria dari komedi romantis yang ceria, tetapi dengan cepat mengungkapkan kedalaman emosionalnya saat setiap karakter menghadapi cinta yang tidak sesuai dengan formula sederhana masa muda. Kisah cinta Do-jin yang berkembang perlahan dengan Seo Yi-soo (Kim Ha-neul) sangat menarik: ini bukan "cinta pada pandangan pertama" yang menggebu-gebu, tetapi negosiasi antara harga diri yang terluka dan kasih sayang yang tulus. Pada akhirnya, A Gentleman's Dignity terasa kurang seperti panduan untuk berkencan setelah usia 40 dan lebih seperti perayaan persahabatan yang memungkinkan cinta di usia paruh baya.

10. ‘Heavenly Ever After’ (2025)

Above Sebuah kisah cinta yang mempertanyakan apa yang tersisa dari sebuah pernikahan setelah kehidupan itu sendiri telah dijalani—dan berakhir.

Pada intinya, Heavenly Ever After bukan tentang romansa, melainkan tentang perhitungan emosional. Drama ini membayangkan pasangan suami istri yang bersatu kembali di alam baka bukan sebagai sepasang kekasih yang ditakdirkan, tetapi sebagai orang-orang yang sudah saling mengenal terlalu baik—dipersenjatai dengan kebiasaan bersama selama puluhan tahun, kekecewaan, lelucon pribadi, dan keheningan yang belum terselesaikan. Yang membuatnya begitu menghancurkan adalah kematian tidak mengatur ulang hubungan; kebencian terbawa, kasih sayang tetap ada di tempat yang tak terduga, dan cinta menjadi sesuatu yang lebih mirip refleks daripada gairah.

Penceritaannya lembut, tetapi pertanyaan yang diajukannya adalah pertanyaan dewasa: jika Anda menghilangkan kewajiban, rutinitas, dan peran sosial, apakah Anda masih akan memilih orang yang sama? Latar kehidupan setelah kematian memungkinkan drama ini untuk meneliti pernikahan tanpa gangguan pekerjaan, anak-anak, atau kelangsungan hidup—hanya menyisakan persahabatan, penyesalan, dan pilihan. Heavenly Ever After menawarkan sesuatu yang langka dibandingkan dengan drama Korea yang menghangatkan hati lainnya: pandangan yang tenang dan reflektif tentang cinta sebagai negosiasi panjang daripada peristiwa dramatis.


This story was originally written in English by Sasha Mariposa.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Sasha Mariposa dan diterbitkan pada 15 Januari 2026. Read the original story here.

Topics