Cover Foto: The Resonanz Music Studio

Wawancara eksklusif Tatler Indonesia dengan pianis berbakat berdarah Indonesia-Inggris bersama maestro Avip Priatna, seiring konser perdananya di Jakarta.

Salah satu minuman kesayangan Indonesia selama banyak generasi, minuman teh dengan kemasan botol kaca, menjadi pendingin hawa Jakarta saat Tatler Indonesia menemui George Harliono di Resonanz Music Studio pada Jumat (9/6), dua hari sebelum konser pertamanya di tanah kelahiran ibunya. George menawarkan minuman yang menjadi favoritnya itu—you can’t deny the Indonesian blood in him. 

Jika kamu menggunakan media sosial, kamu mungkin pernah melihat beberapa video viral George memainkan gubahan klasik di piano jalanan Inggris dan Vienna, ketika umurnya masih menginjak 9, 10, 11 tahun. Mulai dari karya Beethoven, Liszt, hingga Mozart ia mainkan dengan handal saat itu dengan jemari kecilnya. Kini, ia sudah melanglang buana, membagikan cintanya pada piano ke seluruh dunia. Hingga akhirnya ia kembali ke Jakarta, meski belum sepenuhnya lancar berbahasa Indonesia.

George Harliono pertama kali mengenal piano di usia belia, hanya tujuh tahun, saat ibunya membelikannya piano dan mengajari lagu-lagu anak. “Ia bahkan mencoba mengajari saya (lagu-lagu) Richard Clayderman saat itu, yang tentu agak terlalu rumit untuk pemula,” kenangnya. Sejak itu, piano menjadi hal yang selalu ada dalam hidupnya. Saat mendekati umur sepuluh tahun, George kecil sudah berhasil menggelar resital piano solo.

Dari hobi ke panggung dunia

Jatuh cintanya George pada piano tidak serta-merta membuatnya langsung ingin menjadi pianis profesional kala itu. Di sela-sela kegiatan dan sekolahnya, piano mulai menjadi hal yang selalu ia tunggu-tunggu dan ia senangi. Semakin banyak lagu yang bisa dimainkan, semakin luas pula repertoar musik yang George miliki. Penghargaan yang ia terima pun semakin menggunung, termasuk The Grand Piano Competition di Moskow, Sendai International Music Competition di Jepang, dan Royal Overseas League Music Competition di Inggris.

Tahun demi tahun, George semakin tidak bisa melihat dirinya melakukan hal lain selain dalam musik dan piano. “(Piano) adalah sesuatu yang telah saya lakukan seumur hidup, sehingga bukannya saya memilih menjadikannya profesi. Ini tiba-tiba terjadi saja, diawali dari hobi dan menjadi terlalu jauh,” George tertawa.

Tatler Asia
Above Foto: Instagram @georgeharliono

Memasuki dunia musik klasik di usia muda bukan hal yang berat bagi George. Ia mengenang kala pertama kali menampilkan piano concerto, karya yang dikarang dan ditulis untuk piano dengan pengiring orkestra atau ansambel dalam jumlah besar, pada umur 12 tahun saja. 

“Sepertinya itu Beethoven Piano Concerto No.1, dan saya menampilkannya di Cambridge yang cukup dekat dengan tempat kelahiran saya,” sebut George. “Pertama kali bermain piano dengan orkestra di belakangmu…. Itu perasaan yang sangat menyenangkan, berada di panggung. Sebagai pianis, ketika kamu mengadakan konser atau resital, kamu sendirian di panggung. Namun, ketika kita bisa ‘berdialog’ dengan konduktor, dengan orkestra, ada level, ada lapisan-lapisan tertentu dalam pertunjukan, ada spontanitas. Menurut saya itu juga lebih menarik untuk ditonton.”

Persiapan untuk Jakarta dan penampilan spesial yang sempat tertunda

Fortunately, George’s premiere concert in Jakarta is in good hands. Maestro Avip Priatna, Music Director The Resonanz Music dan konduktor Jakarta Concert Orchestra (JCO) mengiringinya dalam gelaran “An Afternoon with George Harliono” di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Minggu (11/6). Avip mengisahkan awal ia mendengar tentang George— melalui rekomendasi seorang penonton asal Amerika yang ia temui saat konser JCO di Bali. “Saya langsung cek Instagram-nya dan mengajaknya bermain di tempat kami. Ternyata dia hayuk, karena ingin (kembali) ke Indonesia juga. Itu tahun 2020 awal, sebelum COVID,” ceritanya. 

George dan Avip yang pada awalnya berencana mengadakan konser bersama di bulan Desember 2020 rupanya harus menundanya akibat pandemi. Akan tetapi, penantiannya berbuah manis, konser dengan 1000 tiket ini habis terjual. Ditambah, satu lagi naungan Avip dan Resonanz Music Studio, Batavia Madrigal Singers, juga memberikan harmoni paduan suara pada Choral Fantasy in C Minor, Op. 80 gubahan Beethoven. JCO juga mengiringi George Harliono dalam dua karya lain, yakni Beethoven Overture “Leonore” No.3 in C Major, Op. 72b, dan Rachmaninoff Piano Concerto No. 2.

Tatler Asia
Above Foto: Instagram @avippriatna
Tatler Asia
Above Foto: The Resonanz Music Studio

Meskipun telah memainkan gubahan Rachmaninoff ini berkali-kali, bagian Beethoven masih menjadi tantangan bagi George. Ia menyebutkan, “ini pertama kali saya menampilkan (karya Beethoven) ini dalam konser, dan pertama kali pula bagi Avip setelah sekian lama.” 

Avip pun menimpali, “ini kedua kalinya (JCO) mempertunjukkan Beethoven. Tetapi pemain orkestranya berbeda, sebelumnya 20 tahun lalu. Masih Jakarta Concert Orchestra yang sama, dengan konduktor yang sama.” 

George pun menyatakan kegembiraannya menuju konser di Jakarta ini. “Ini konser pertama di Indonesia yang saya selenggarakan sendiri— tampil di kota kelahiran ibu saya membuat saya sangat bersemangat.” Ia pun menambahkan, “ini pertama kalinya saya kembali setelah 12 tahun, dan saya sangat menantikan untuk menampilkan kedua karya ini kepada penonton Indonesia.”

Baca juga: Raise the Curtains Up!

Tatler Asia
Above Foto: Instagram @georgeharliono

Sebagai seorang pianis profesional, George banyak mengalami perubahan dalam kesehariannya, termasuk saat persiapan menuju konser. “Saat saya mempersiapkan penampilan, saya bisa latihan delapan, sembilan jam sehari. Tentu tidak secara terus menerus, saya lebih suka latihan dengan interval dua sampai tiga jam. Two or three hour chunks is what I find works for me,” ujarnya. Untuk konser bersama JCO ini, George dan orkestra hanya melakukan latihan bersama selama kurang dari 5 hari, tetapi berhasil menciptakan chemistry yang begitu baik.

“Sebelum latihan bersama orkestra, kita tektokan dulu, so many details. And I want to know his interpretation, what it's like, karena kita punya ‘jantung’ yang berbeda,” sebut Avip. Ia juga menyebutkan pentingnya menyelaraskan artistic vision konduktor dan solois, sebelum akhirnya bermusik dengan ansambel besar. Menurutnya, ini terbantu juga dengan permainan George yang unik dan one-of-a-kind. “Setiap mendengarnya (bermain piano), musiknya punya personality, punya dynamic yang ‘berasa’, inilah George. Beginilah caranya bermain.”

Tatler Asia
Above Foto: Instagram @avippriatna
Tatler Asia
Above Foto: Instagram @avippriatna

Masa depan cerah di tangan generasi muda

Telah berkarya selama 30 tahun dalam industri musik klasik Indonesia, Avip Priatna merasakan setiap langkah dari perkembangan industri ini. Bernostalgia pada masa-masa saat ia baru saja memulai karirnya, Avip mengakui bahwa industri musik klasik Indonesia masa kini sudah sangat berbeda dan bahkan semakin populer di antara kalangan muda. Kemajuan yang terjadi tentunya tidak lepas dari kemudahan untuk mengakses musik klasik dari penjuru dunia. 

“Saat saya memulai karir, sangat sedikit orang yang dapat memainkan biola dengan sempurna karena referensi kami hanya dari CD. Sekarang kita bisa dengar musik klasik kapan saja dari sumber yang sangat luas,” sebut Avip. 

Avip kemudian menambahkan, dukungan orang tua yang semakin optimis terhadap dunia musik juga menjadi faktor penentu. Menurutnya dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran pola pikir— dahulu sebagian besar orang tua tidak melihat talenta musik sebagai investasi menjanjikan, melainkan hanya sebagai hobi dengan masa depan terbatas. “These days the children can decide, even in their early age,” cerita Avip sembari menambahkan bahwa anak Indonesia memiliki potensi besar dan mereka memiliki keinginan besar untuk belajar, beberapa bahkan secara otodidak.

Tatler Asia
Above Foto: The Resonanz Music Studio
Tatler Asia
Above Foto: The Resonanz Music Studio

Sebaliknya, George, yang dibesarkan di London, telah menyaksikan besarnya atmosfir musik klasik di Inggris sejak ia menyentuh piano untuk pertama kalinya, tetapi ia mengakui perkembangan musik klasik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Mengenang masa studinya di Royal College of Music London, George bukanlah satu-satunya pelajar berdarah Indonesia di kampus prestisius tersebut. “Berbeda dengan 30 tahun lalu, kini terdapat beberapa musisi Indonesia yang belajar di Royal College of Music,” sebutnya, menambahkan bahwa bertambahnya eksistensi musisi Indonesia di benua kelahiran musik klasik menjadi tanda bahwa masa depan musik klasik Indonesia berada di arah yang benar. “The future of classical music in Indonesia is bright,” ucap George.

Kemajuan industri musik klasik tanah air bergerak seiring dengan berkembangnya ekosistem di dalamnya. Baik itu dari sisi para pekerja seni maupun fasilitas pendukungnya, industri musik klasik Indonesia terlihat memiliki masa depan yang cemerlang. George sendiri justru kagum saat melihat tingginya level para pemain orkestra di Indonesia, termasuk dengan kepiawaian sang konduktor.

Di masanya, Avip hadir sebagai penggerak yang mencetus sebuah perubahan. Kini, George adalah salah satu sosok talenta Indonesia yang telah membuktikan potensinya dan menginspirasi generasi muda Indonesia lainnya untuk turut berkarya, melanjutkan perjuangan para maestro Indonesia untuk terus memajukan industri musik klasik Indonesia. 

Topics