Cover Lantai bawah tanah yang luas adalah jantung rumah, mengarah ke taman bertingkat pribadi dengan akses ke taman komunal di belakang. (Foto: Taran Wilkhu)

Dirancang oleh De Rosee Sa, townhouse era Victoria yang terletak di lingkungan Notting Hill ini menjadi bukti ruang apa pun dapat diubah dengan sedikit kecerdikan dan kreativitas.

Di balik dinding pastel dari townhouse era Victoria berlantai lima di London ini terdapat sebuah rumah modern yang terinspirasi oleh gaya minimalis Jepang dan daya tarik sederhana dari dekorasi Skandinavia. Terletak di sepanjang jalan Notting Hill dengan barisan pepohonan yang indah, townhouse seluas 3.230 kaki persegi ini ditransformasi dari kamar-kamar kecil menjadi rumah keluarga yang luas dan terbuka yang terhubung dengan alam bebas.

Pemiliknya, pasangan profesional dengan seorang anak kecil, mempercayakan perombakan rumah mereka ke studio desain interior berbasis Londo, De Rosee Sa, yang dipimpin oleh duo suami-istri Max de Rosee dan Claire Sa. “Kami menyukai pengaturan properti, rumah ini berada di antara properti bergaya serupa lainnya dan terdapat konsistensi gaya yang membuatnya tampak sama,” kata De Rosee. “Di dalam rumah terdapat cerita lain, dan apa yang tersembunyi di balik fasadnya sungguh luar biasa! Dahulu rumah ini seperti sebuah kandang kelinci dengan kamar-kamar kecil dan tata letak boros yang rumit dan tidak kondusif untuk kehidupan keluarga.

Jangan lewatkan: Home tour: Step inside an elegant, restored Victorian townhouse in the heart of London

Tatler Asia
Above Fasad merah muda pastel pada tampilan belakang townhouse lima lantai ini menghadap ke taman komunal yang indah
Tatler Asia
Above Tata letak properti yang kompleks memerlukan solusi desain yang inovatif, seperti kamar mandi dengan pintu bersudut ini

Terlepas dari segudang tantangan yang diharapkan saat merenovasi rumah abad kesembilan belas, tim di De Rosee Sa, yang juga berkantor di Lisbon, Portugal, melihat potensi besar di ruang tersebut. “Di tengah kekacauan, ada sekilas potensi luar biasa untuk mengubah rumah menjadi sesuatu yang fantastis,” lanjut De Rosee. “Misalnya, koneksi ke luar dan taman belakang luar biasa, dan kami tahu kami dapat meningkatkan dan menyempurnakannya untuk menghubungkan ruang internal ke taman dengan benar.”

Pengarahan yang diberikan kepada De Rosee Sa adalah untuk sepenuhnya mengubah seluruh tata letak townhouse untuk menciptakan kesan terang dan terbuka, menekankan sirkulasi dan aliran dengan ruang terbuka yang luas untuk ikatan keluarga . Untuk mencapai hal ini, tim De Rosee Sa beralih ke estetika desain Japandi yang semakin populer, yang menekankan elemen minimalis, kesederhanaan, kenyamanan, dan alami.

Baca lebih lanjut: Apa itu Gaya Jepang dan 5 cara untuk mendapatkan tampilan

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 4 Ruang makan terhubung mulus dengan taman luar ruangan
Photo 2 of 4 Ruang tamu formal di salah satu tingkat atas ini adalah ruang ikatan keluarga yang dipenuhi cahaya
Photo 3 of 4 Kamar anak-anak memiliki tempat tidur built-in dan area bermain
Photo 4 of 4 Ruang makan kasual menyediakan ruang untuk pertemuan yang nyaman

Sejalan dengan tema Japandi, para desainer sangat berhati-hati untuk tidak memakai terlalu banyak ragam material, dan sebagai gantinya memilih palet warna netral dan bahan alami.

Misalnya, kayu ek yang diimpor dari Austria digunakan di dapur, tangga, dan lantai kayu di tingkat atas. Demikian pula batu kapur Caliza Capri yang digunakan di lantai bawah tanah, juga dipakai untuk bagian taman, perapian lantai dasar yang ditinggikan, dan beberapa kamar mandi.  “Memanfaatkan material yang sama untuk beberapa ruangan dengan cara aplikasi yang sedikit berbeda meningkatkan rasa ketenangan yang diinginkan oleh klien,” jelas De Rosee.

Tatler Asia
Above Dapur, dirancang oleh Lanserring, menggunakan kayu oak yang sama dengan tangga
Tatler Asia
Above Tangga apung, diterangi oleh lampu atap, dirancang khusus dengan langkan baja yang dipatenkan dan pegangan kayu ek yang terus berlanjut.

Satu hal penting bagi estetika Japandi adalah penekanan pada garis bersih, yang menuntut tim desain dan kontraktor untuk bekerja dalam sinergi sempurna. “Seiring dengan banyaknya elemen bangunan yang menyatu, kami harus sangat hati-hati dan akurat untuk mencapai detail yang membuat proyek tampak mudah dibuat,” kata De Rosee, mengakui upaya seluruh kontraktor dan tukang batu yang terlibat. “Mereka luar biasa dan dari pendekatan yang mereka lakukan, terlihat jelas bahwa mereka sangat mencintai pekerjaan mereka. Di mana penjajaran sekecil mungkin harus sempurna, kami membahasnya dengan detail yang mereka jalankan dengan sangat baik.

Tingginya perhatian terhadap detail dari proses pembuatan rumah ini terlihat pada fitur tangga dan lampu atap yang didesain ulang secara total untuk menciptakan tangga tengah yang terus berlanjut. “Tangga dibuat oleh tim pengrajin dengan sangat detail, termasuk balustrade (langkan) heksagonal yang setengah tersembunyi menjadi tapak mengambang, dan berlanjut sedikit di luar bagian bawah tangga mengambang untuk menekankan bentuknya dan memecah profil samping tangga,” kata De Rosee. “Balustrade dan semua pengerjaan logam dibentuk dari baja dipatenkan yang menambahkan keindahan dan kemurnian pada pilihan material.”

Baca lagi: Home tour: A Japandi-style apartment in Singapore with an open-plan living room

Tatler Asia
Above Karya seni besar dan mencolok ini dipajang dengan bangga di ruang tamu, tepat di atas table magazine Fredericia
Tatler Asia
Above Ruang yang sempurna untuk hiburan, ruang tamu memiliki lampu Oluce Atollo dan lounge chair Gubi Pacha

Pemilik rumah juga sangat memperhatikan detail, terlihat dari koleksi indah furnitur dan karya seni di seluruh rumah yang diambil sendiri oleh pemiliknya. Di bagian ruang tamu bawah tanah, pengunjung akan melihat berbagai potongan desain furnitur ikonik, termasuk lounge chair Gubi Pacha oleh Pierre Paulin, magazine table Fredericia oleh Jens Risom, dan lampu Oluce Atollo oleh Vico Magistretti. Bersama dengan palet warna netral dan bahan alami yang digunakan di bagian rumah lainnya, harmonisasi pada kain dan furnitur kayu membantu memperkuat estetika Japandi secara keseluruhan.

Tatler Asia
Above Warna-warna cerah di triptych ini melengkapi sentuhan akhir dan perabotan di sekitarnya
Tatler Asia
Above Lampu Meja Beton Audo JWDA karya Jonas Wagell dipajang di nakas Porada Bilot yang tampak tampan karya M. Marconato & T. Zappa

Kepribadian unik pemilik juga terpancar dalam karya seni pilihan mereka. “Klien memiliki beragam koleksi fotografi dan gemar menggunakan beberapa ruang sebagai latar belakang untuk karya-karya mengesankan dan indah,” jelas De Rosee. “Kami sangat menyukai triptych di ruang lantai tiga. Ruangan satu setengah lantai menjadikannya ruang yang alami untuk memposisikan mereka, dan nadanya melengkapi sentuhan akhir serta perabotan.”

arrow left arrow left
arrow right arrow right
Photo 1 of 4 Ruang tamu lantai bawah adalah tempat bersantai favorit keluarga
Photo 2 of 4 Area lounge outdoor di taman, yang menampilkan lapisan batu kapur Caliza Capri
Photo 3 of 4 Kamar mandi utama yang luas memungkinkan masuknya cahaya alami
Photo 4 of 4 Detail langkan hexagonal dan handrail, yang memiliki profil oval agar tampil ringan

Bagi pemiliknya, desain Japandi bukan hanya tentang estetika yang tenang atau minimalis, tetapi tentang memiliki ruang indah yang cocok untuk mereka dan mendorong aliran dan interaksi.

Dulunya merupakan ruang bawah tanah yang tidak disukai, lantai lower ground memiliki dapur, ruang makan, dan ruang tamu yang menampilkan transisi tanpa penghalang ke taman dan sekarang menjadi ruang favorit pemilik untuk bersantai bersama keluarga. “Ini adalah ruang yang paling sering mereka gunakan untuk berkumpul sebagai sebuah keluarga. Keterbukaa, koneksi ke taman, dan banyaknya cahaya yang masuk memungkinkan tumbuhnya kenyamanan sembari terhubung dengan alam,” kata De Rosee.

Baca juga:

What is Japandi Style and 5 ways to get the look

Home tour: A Japandi-style apartment in Singapore with an open-plan living room

6 beautiful Tokyo cafes where the design is as good as the coffee

Credits

Fotografi: Taran Wilkhu

Topics