Dalam acara private viewing 'Cinta Pertama', TobaTenun merilis dua koleksi yang terinspirasi dari harapan dan nostalgia.
Masyarakat Indonesia mempercayai bahwa para pembuat tenun lokal mencurahkan cinta dan kerja keras mereka untuk membuat setiap helai pakaian tenun. Keyakinan ini mendorong perusahaan sosial ternama, TobaTenun, untuk berkolaborasi dengan BNI Emerald dalam sebuah upaya meningkatkan kesadaran akan keindahan tenun Batak dan melestarikan warisannya untuk generasi mendatang.
TobaTenun menampilkan koleksi-koleksi terbarunya dalam sebuah acara peluncuran bertajuk ‘Cinta Pertama’ di Samsara Grand Ballroom, Sopo Del Tower, Jakarta. Dalam acara ini, TobaTenun mempertemukan sejumlah anggota VIP BNI Emerald dengan para pecinta mode yang mengenakan busana terbaik mereka dengan sentuhan budaya lokal. Peragaan busana dimeriahkan oleh pasangan dari sejumlah menteri Indonesia yang turut berlenggang di atas panggung, termasuk Ibu Sri Bahlil, Ibu Eny Retno Yaqut, Ibu Lilia Dohong, dan Ibu Nina Suhaslil.
Dipandu oleh Devi Pandjaitan, TobaTenun memamerkan kualitas tenun Batak yang menawan dalam koleksi ‘HauUnte’ yang berarti ‘Pohon Jeruk’. ‘HauUnte’ terinspirasi dari nostalgia masa muda dan rasa berbunga-bunga yang dialami saat jatuh cinta, sehingga menghasilkan koleksi yang didominasi oleh motif floral dan warna pastel yang feminin. Tidak hanya itu, TobaTenun juga menampilkan koleksi perhiasan memukau dalam koleksi ‘Tutup Dalam Doa’ yang terinspirasi dari Sirat & Pilin dalam tenun Batak. Sirat & Pilin adalah bagian pengunci dari tenun Batak, sehingga diartikan sebagai akhiran dari doa yang disalurkan melalui benang yang ditenun.
Sebagai social enterprise, TobaTenun turut mendorong pemberdayaan para pembuat Ulos, terutama perempuan di desa-desa tradisional Sumatra Utara. TobaTenun kini memiliki lebih dari 200 mitra Partonun dan secara aktif memberikan pelatihan dan edukasi bagi para mitra agar mereka dapat terus berkembang. Untuk mendukung program pelatihan ini, TobaTenun menyalurkan sebagian keuntungan dari penjualan langsung kepada komunitas tenun di Sumatera Utara. Peluncuran koleksi 'Cinta Pertama' adalah sebuah harapan dan doa agar pelestarian budaya dapat bangkit bersamaan dengan pemberdayaan masyarakat adat.






















