Para pemimpin teknologi berdarah Asia ini memastikan bahwa kawasan Asia tetap terwakili saat perusahaan global mereka terus mendorong inovasi ke depan
Penunjukan terbaru Tan Lip-Bu sebagai CEO Intel menegaskan semakin besarnya pengaruh pemimpin Asia di sektor teknologi global. Dari Silicon Valley hingga pusat-pusat teknologi utama di Asia, para visioner ini telah mengubah industri, mengubah model bisnis tradisional, dan mendorong kemajuan teknologi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kepemimpinan mereka telah membentuk kecerdasan buatan, manufaktur semikonduktor, cloud computing, dan kreativitas digital, yang mendefinisikan ulang cara dunia berinteraksi dengan teknologi.
Baca juga: Veteran industri teknologi kelahiran Malaysia, Tan Lip-Bu ditunjuk sebagai CEO Intel
Di sini kami menyoroti para pemimpin perusahaan teknologi global paling berpengaruh yang berasal dari Asia yang mencontohkan ketahanan, kecerdikan, dan pandangan ke depan yang strategis. Saat mereka mengarahkan perusahaan mereka ke masa depan, mereka tidak hanya memengaruhi pasar global tetapi juga menginspirasi generasi baru pengusaha dan insan teknologi di seluruh dunia.
Sundar Pichai, CEO Alphabet (Google)
Dari masa kecil yang sederhana di Tamil Nadu, India, hingga memimpin salah satu perusahaan teknologi paling kuat di dunia, perjalanan Sundar Pichai sungguh luar biasa. Sebagai CEO Alphabet Inc. dan anak perusahaannya Google, Pichai telah mengarahkan raksasa teknologi itu melalui era transformatif, dengan berfokus pada kecerdasan buatan, cloud computing, dan penelitian kuantum. Kepemimpinannya telah memperkuat dominasi Google dalam pencarian dan periklanan sekaligus memperluas portofolionya ke berbagai bidang inovatif, mulai dari solusi perawatan kesehatan berbasis AI hingga inisiatif teknologi berkelanjutan.
Sebagai alumni IIT Kharagpur, Universitas Stanford, dan Wharton School, Pichai dipuji karena gaya kepemimpinannya yang tenang dan penuh pertimbangan. Ia memperjuangkan inklusivitas, aksesibilitas digital, dan tanggung jawab lingkungan, serta memastikan bahwa inovasi Google mampu melayani khalayak global. Di bawah kepemimpinannya, Alphabet terus membentuk masa depan teknologi, menetapkan tolok ukur baru dalam etika dan keberlanjutan AI.
Jangan lewatkan: 7 kantor Google global dengan desain mencolok dan inovasi berkelanjutan
Satya Nadella, CEO Microsoft
Ketika Satya Nadella mengambil alih kendali Microsoft pada tahun 2014, raksasa teknologi itu perlu melakukan pembaruan. Strategi beraninya difokuskan pada cloud computing, integrasi AI, dan solusi perusahaan, yang mendorong pertumbuhan eksponensial Microsoft Azure. Di bawah kepemimpinan Nadella, Microsoft tidak hanya menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, tetapi juga telah berubah menjadi pusat inovasi dan kolaborasi. Akuisisi LinkedIn, GitHub, dan Activision Blizzard yang dilakukannya telah memperluas jejak perusahaan dalam layanan digital, permainan, dan kecerdasan buatan.
Lahir pada tahun 1967 di Hyderabad, India, pengalaman pribadi Nadella, khususnya dengan putranya yang memiliki kebutuhan khusus, telah memengaruhi gaya kepemimpinannya yang penuh empati. Ia dipuji atas kemampuannya untuk mendengarkan dan bekerja sama, yang telah diapresiasi secara luas di Microsoft. Pendekatan transformatif Nadella tidak hanya telah merevitalisasi nilai pasar Microsoft tetapi juga telah membentuk kembali budaya perusahaan, menjadikannya lebih inklusif dan berpikiran maju.
Arvind Krishna, Ketua dan CEO IBM
Arvind Krishna, Chairman dan CEO IBM, merupakan sosok yang kuat di balik kebangkitan perusahaan dalam bidang AI, komputasi kuantum, dan teknologi cloud. Sejak menjabat pada tahun 2020, ia telah memperjuangkan perubahan strategis IBM menuju cloud hybrid dan AI, dengan memimpin akuisisi penting Red Hat. Masa jabatannya menandai babak baru yang berani bagi raksasa teknologi berusia seabad ini, yang mengarahkannya ke garis depan transformasi digital.
Lahir di India, Krishna meraih gelar Ph.D. di bidang teknik listrik dari University of Illinois di Urbana-Champaign. Keahlian teknisnya yang mendalam, dipadukan dengan ketajaman bisnisnya, telah menjadikannya pemimpin yang tangguh dalam industri ini. Di bawah kepemimpinannya, IBM mendefinisikan ulang cara bisnis memanfaatkan AI dan komputasi awan, memastikan relevansinya dalam ekonomi digital modern.
Shantanu Narayen, Chairman dan CEO Adobe
Hanya sedikit pemimpin yang mampu merevolusi cara dunia menciptakan dan mengonsumsi konten digital seperti Shantanu Narayen. Sebagai Ketua dan CEO Adobe, Narayen telah mengawasi transisi perusahaan dari penjualan perangkat lunak tradisional ke model langganan berbasis cloud, menjadikan Adobe Creative Cloud sebagai standar emas bagi para desainer, pemasar, dan profesional kreatif di seluruh dunia. Di bawah kepemimpinannya, Adobe telah berkembang menjadi perangkat desain bertenaga AI dan solusi pemasaran digital, yang memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri.
Berasal dari Hyderabad, India, Narayen meraih gelar di bidang teknik, ilmu komputer, dan bisnis dari Universitas Osmania, Universitas Negeri Bowling Green, dan UC Berkeley. Pandangan strategisnya yang luas dan pengejaran inovasi yang tak kenal lelah telah memberinya reputasi sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam bidang teknologi.
Jensen Huang, Salah satu Pendiri, Presiden, dan CEO Nvidia
Jensen Huang , salah satu pendiri sekaligus CEO Nvidia kelahiran Taiwan, adalah nama yang identik dengan teknologi mutakhir. Sejak mendirikan Nvidia pada tahun 1993, Huang telah mengubah perusahaan tersebut dari produsen kartu grafis khusus menjadi pemimpin dalam kecerdasan buatan, komputasi berperforma tinggi, dan teknologi mengemudi otomatis. Visinya tidak hanya merevolusi permainan tetapi juga menempatkan Nvidia di inti kemajuan AI dan pembelajaran mesin.
Lulusan Stanford ini, memiliki semangat pantang menyerah. Huang telah menjadikan Nvidia salah satu perusahaan semikonduktor paling berharga di dunia. Pandangannya yang jauh ke depan dalam komputasi GPU telah mempercepat terobosan dalam penelitian AI, robotika, dan pembelajaran mendalam.
Jangan lewatkan: Siapakah Jensen Huang, miliarder teknologi Nvidia yang memimpin revolusi AI global
Melanie Perkins, Salah satu pendiri dan CEO Canva
Melanie Perkins , seorang pengusaha Australia keturunan Filipina dan Malaysia, adalah kekuatan visioner di balik Canva, platform desain grafis revolusioner yang telah mendemokratisasi desain bagi jutaan orang di seluruh dunia. Didirikan pada tahun 2013, Canva menyederhanakan desain melalui interface yang intuitif, menjadikan visual berkualitas profesional dapat diakses oleh semua orang, mulai dari individu hingga perusahaan Fortune 500.
Perkins, yang belajar di University of Western Australia, mengubah ide sederhana menjadi bisnis bernilai miliaran dolar dengan menjawab kebutuhan industri kreatif dengan teknologi. Kepemimpinannya telah mendorong Canva menjadi salah satu perusahaan teknologi swasta tersukses di dunia, dengan nilai lebih dari US$40 miliar.
Tan Lip-Bu, CEO Intel
Tan Lip-Bu, seorang pengusaha kelahiran Malaysia, baru saja diangkat menjadi CEO Intel , dengan pengalaman puluhan tahun dalam inovasi semikonduktor dan modal ventura. Sebagai mantan CEO dan Ketua Cadence Design Systems serta pendiri Walden International, ia telah memainkan peran penting dalam memajukan desain chip dan teknologi komputasi berbasis AI.
Ia adalah seorang ulusan Universitas Singapura dan Universitas San Francisco. Kepemimpinan Tan di Intel menandai era baru bagi perusahaan, dengan fokus kuat pada manufaktur semikonduktor dan ketahanan rantai pasokan global.
Chew Shou Zi, CEO TikTok
@shou.time Suka kisah sukses #TikTok yang hebat. TikTok bangga telah membantu memberdayakan bisnis mereka. Sarah dan Yazan memiliki misi untuk menjangkau semua orang. Sudahkah Anda mencoba cokelat mereka? #dubaichocolate @Fix Dessert Chocolatier ♬ Instrumental - Vibe - pedrin cria
Chew Shou Zi telah menjadi salah satu tokoh paling dikenal di dunia teknologi global sebagai CEO TikTok, platform video pendek paling berpengaruh di dunia. Sejak memangku jabatan pimpinan pada tahun 2021, Chew telah membawa TikTok melewati pengawasan ketat dari regulator sekaligus mempelopori ekspansinya ke format konten digital baru, e-commerce, dan pengalaman pengguna yang digerakkan oleh kecerdasan buatan. Kepemimpinannya telah memperkuat posisi TikTok sebagai kekuatan dominan di dunia hiburan dan media sosial.
Lulusan University College London dan Harvard Business School, sekaligus pemimpin teknologi Singapura ini sebelumnya menjabat sebagai CFO ByteDance, perusahaan induk TikTok, dan memegang peran kepemimpinan di Xiaomi, di mana ia berkontribusi pada pertumbuhan globalnya.
This story was originally written in English by Tatler T-Labs Team
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris oleh Tatler T-Labs Team dan diterbitkan pada 14 Maret 2025. Read the original story here.
Baca juga:




