Cover Eva Celia menyongsong babak baru dengan rasa ingin tahu, penemuan diri, dan kebebasan untuk menemukan jawabannya sendiri (Fotografi: Hendra Kusuma)

Memasuki babak baru dalam hidupnya, Eva Celia menemukan bahwa bertumbuh bukan selalu tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang tetap terbuka pada apa yang akan datang

Jika kehidupan Eva Celia saat ini adalah sebuah bab dalam buku, apa judul yang akan ia berikan? Pertanyaan itu muncul di tengah produksi Tatler Most Stylish 2026 yang masih berlangsung. Suara pengering rambut terdengar, kamera terus berbunyi, sementara orang-orang berpindah di antara rak-rak pakaian dan set pemotretan. Di tengah kesibukan itu, Eva tertawa sambil mencoba merangkai jawabannya.

Setelah terdiam sejenak, ia pun menjawab. “Mungkin ini adalah bab ketika saya belajar bahwa saya tidak selalu harus punya jawaban untuk semuanya,” ujarnya penuh pertimbangan. “Saya belajar bahwa tidak apa-apa kalau saya tidak tahu jawabannya, dan kembali menjadi seorang pembelajar dalam hidup.

Tatler Asia
Above Eva Celia, salah satu penerima penghargaan Most Stylish 2026 dari Tatler Indonesia, menghadirkan perspektifnya sendiri tentang gaya, menyeimbangkan individualitas dengan kepercayaan diri yang alami.

Jawaban itu terasa tepat untuk membuka babak kehidupan Eva saat ini. Ada anggapan bahwa ketika seseorang mencapai usia tertentu, ia seharusnya sudah memiliki kepastian: tahu ke mana akan melangkah, apa yang diinginkan, dan siapa dirinya. Eva justru mulai mempertanyakan anggapan tersebut.

“Ada semacam propaganda yang terus diberikan kepada perempuan sejak usia dua puluhan, bahwa ketika memasuki usia tiga puluhan, kita seharusnya sudah tahu segalanya,” katanya sambil tertawa. “Tapi sekarang saya 34 tahun, dan rasanya ini baru permulaan.”

Masih banyak hal yang sedang ia cari jawabannya, dan justru itulah yang menurutnya menyenangkan. “Masih banyak sekali hal yang harus saya cari tahu,” katanya. “Tapi itu bagian yang menyenangkan. Kita bisa menemukannya sendiri, dengan semua pelajaran yang sudah kita dapatkan di usia dua puluhan.”

Tatler Asia
Above Eva Celia tentang menemukan jalannya sendiri sambil tetap terbuka terhadap apa yang akan datang selanjutnya.

Ada propaganda yang dijejalkan kepada wanita usia dua puluhan—bahwa ketika Anda berusia tiga puluhan, Anda seharusnya sudah tahu segalanya. Tapi sekarang saya berusia 34 tahun, dan saya merasa ini baru permulaan.

- Eva Celia -

Perjalanan kreatif Eva sendiri telah menjangkau musik, film, hingga literatur. Sebagai aktris sekaligus singer-songwriter, ia juga membangun komunitas buku yang intim melalui Totally Booked with Eva. Di layar, ia membintangi Abadi Nan Jaya (The Elixir) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah yang dirilis tahun lalu. Sementara itu, Laut Bercerita dan adaptasi Indonesia dari Descendants of the Sun menjadi beberapa proyek film yang akan segera hadir.

The Freedom of Not Knowing

“Mungkin dulu saya melakukan banyak hal karena ingin membuktikan sesuatu,” refleksinya. “Tapi sekarang, saya hanya ingin merasa nyaman.” Pergeseran tersebut datang bersama rasa memiliki kendali yang lebih kuat atas dirinya sendiri. Memasuki usia tiga puluhan, ia semakin tidak memikirkan bagaimana keputusannya akan diterima orang lain dan lebih yakin untuk mengambil keputusan berdasarkan apa yang memang ia inginkan.

“Saya rasa salah satu hal indah ketika menjadi perempuan di usia tiga puluhan adalah kita mulai menerima bahwa kita punya kendali atas diri sendiri,” jelasnya. “Mungkin sebelumnya kita terlalu banyak memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Sekarang, saya merasa lebih percaya diri dan yakin dengan keputusan saya sendiri.”

Bagi Eva, tidak tahu bukan lagi sesuatu yang harus segera diperbaiki. Ada pertanyaan yang memang bisa dibiarkan terbuka, menunggu pengalaman memberikan jawabannya. Cara pandang ini terasa semakin relevan di tengah dunia yang sering mengukur kemajuan berdasarkan timeline yang semakin terlihat. Karier, hubungan, rumah, hingga pencapaian pribadi dengan mudah berubah menjadi daftar yang harus dicentang. Eva belajar untuk nyaman membiarkan beberapa kotak tersebut tetap kosong.

 

Tatler Asia
Above Dengan semakin besarnya kendali yang dimilikinya, muncul pula rasa percaya diri yang lebih kuat terhadap pilihan-pilihannya sendiri.

Menurutku, salah satu hal indah menjadi wanita di usia tiga puluhan adalah kamu menerima kemandirianmu. Mungkin sebelumnya, kamu banyak memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Sekarang, aku merasa lebih percaya diri dan yakin dengan keputusan-keputusanku sendiri.

- Eva Celia -

The Power of Showing Up

Salah satu perubahan terbesar dalam kehidupan Eva selama setahun terakhir adalah sesuatu yang bisa ia lihat sendiri di cermin: tubuhnya menjadi lebih kuat.

“Saya jadi lebih berotot,” katanya bangga ketika ditanya apa yang paling berubah dari dirinya.

Namun, perubahan fisik hanyalah sebagian dari cerita. Pergi ke gym telah mengubah ritme kesehariannya dan, yang lebih penting, cara ia memahami kedisiplinan. Dulu terbiasa begadang sambil bermain gim, kini ia bangun pukul enam pagi, meluangkan waktu untuk membaca dan menulis jurnal, serta berlatih lima hingga enam kali seminggu, bahkan hingga dua jam setiap sesinya.

“Secara mental dan emosional, itu juga mengubah saya,” jelasnya. “Pergi ke gym membuat saya sadar bahwa tidak ada sesuatu yang instan dalam hidup. Kita harus mengusahakannya. Kita harus hadir untuk diri sendiri. Kita harus disiplin.”

Tatler Asia
Above Bagi Eva Celia, pusat kebugaran telah menjadi pelajaran tentang disiplin, kesabaran, dan komitmen terhadap diri sendiri.

Pemahaman tersebut kemudian ia bawa ke dalam kehidupan kreatifnya. “Saya merasa hal itu juga bisa diterapkan dalam pekerjaan saya, baik dalam musik maupun film,” lanjut Eva. “Kita sadar bahwa apa yang kita capai tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan kesabaran.”

Namun, menurutnya, hal yang paling penting justru terjadi pada hari-hari ketika motivasi tidak muncul sama sekali. “Ketika saya tidak merasa termotivasi tetapi tetap datang dan melakukannya, saya merasa seperti sedang membangun hubungan baru dengan diri saya sendiri,” ujarnya.

Tatler Asia
Above Eva Celia percaya bahwa perubahan yang bermakna dimulai dengan tindakan sederhana yaitu hadir.

Berolahraga di gym membuatku menyadari bahwa tidak ada yang instan dalam hidup. Kamu harus berusaha untuk mendapatkannya. Kamu harus hadir untuk dirimu sendiri. Kamu harus disiplin.

- Eva Celia -

Learning Through Other Lives

Dalam Laut Bercerita yang akan datang, Eva berperan sebagai Ratih Anjani, karakter yang sejak awal terasa dekat dengannya. Baik Anjani maupun Eva sama-sama berasal dari dunia seni dan percaya bahwa seni memiliki kemampuan untuk melakukan lebih dari sekadar menghibur.

“Kami sama-sama percaya bahwa seni bisa menjadi alat untuk melakukan perlawanan, menolak untuk melupakan, dan tetap kritis,” ujar Eva. “Saya rasa itu salah satu alasan mengapa ketika pertama kali membaca Laut Bercerita, saya langsung tertarik pada karakter ini.”

Memerankan Anjani membuat Eva harus memahami dunia yang berada di luar pengalamannya sendiri. Ia ingin masuk sepenuhnya ke dalam pikiran karakter tersebut, termasuk berinisiatif belajar menggambar dan membayangkan pilihan-pilihan yang mungkin dibuat Anjani dalam praktik seninya.

Proses tersebut juga membawanya lebih dekat pada kisah-kisah dari sebuah masa ketika kebebasan berekspresi memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar. Mendengar langsung cerita dari para aktivis yang mengalami masa tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya.

“Mendengar cerita, pengorbanan, dan perjuangan mereka hingga hari ini terasa sangat berat,” kenangnya.

Pengalaman itu membuatnya semakin memahami sejarah panjang di balik kebebasan yang terkadang begitu mudah kita anggap sebagai sesuatu yang biasa. “Saya belajar bahwa kebebasan berekspresi dan kebebasan untuk berbicara memiliki sejarah yang sangat panjang dan datang bersama banyak pengorbanan,” katanya.

The Space to Be Unseen

Ada bagian lain dalam kehidupannya yang juga ingin ia jaga: waktu dan ruang untuk dirinya sendiri.

“Saya punya kecemasan terhadap bagaimana orang melihat saya,” akunya. “Tapi saya mencintai apa yang saya lakukan. Saya suka membuat musik dan saya suka berakting.”

Pertemanan, waktu yang tenang, membaca, serta bermain bersama anjing dan kucingnya menjadi beberapa hal yang membantunya kembali kepada diri sendiri. “Menurut saya, sangat penting bagi saya untuk mempertahankan kesendirian, karena pekerjaan saya membuat saya berada di ruang publik dan menjadi perhatian banyak orang.”

Totally Booked with Eva terasa lahir dari kebutuhan yang sama. Dibangun sebagai ruang untuk berhenti sejenak dari ritme kehidupan sehari-hari, klub buku ini menjadi tempat bagi orang-orang untuk membaca, bertukar pikiran, dan menghabiskan waktu bersama cerita. Hal ini juga mencerminkan kecintaan Eva terhadap buku, sesuatu yang ia akui sambil tersenyum, seperti seseorang yang baru saja membeli satu buku lagi meski tumpukan buku di rumah sudah semakin tinggi.

Membaca membutuhkan waktu. Kita diminta untuk duduk dan mendengarkan pemikiran orang lain. Kita kemudian masuk ke dunia yang mungkin sebelumnya tidak kita kenal dan terkadang keluar dengan lebih banyak pertanyaan daripada saat kita memulainya.

Tatler Asia
Above Di antara musik, akting, dan perhatian publik, Eva Celia meluangkan waktu untuk kesendirian, membaca, dan orang-orang yang dicintainya.

A Life Well Lived

Bagi Eva, keterbukaan terhadap pengalaman juga membentuk pemahamannya tentang seperti apa hidup yang baik.

Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, hidupnya mengalami banyak perubahan. Pada suatu titik, ia begitu fokus pada proses penyembuhan hingga hampir melupakan sesuatu yang mendasar.

“Saya rasa saya terlalu fokus pada proses healing,” katanya. “Sampai saya lupa bahwa hidup seharusnya dijalani dan dirasakan.”

Bagi Eva, hidup yang benar-benar dijalani adalah ketika kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan apa pun yang sedang terjadi.

Jika kehidupan adalah sebuah bab, Eva tidak tertarik berpura-pura bahwa ia sudah tahu bagaimana ceritanya akan berakhir. Masih ada film yang ingin dibuat, lagu yang ingin ditulis, dan buku yang ingin dibaca. Masih ada pula pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Dan untuk saat ini, ia bahagia untuk terus belajar.

Credits

Fotografi: Hendra Kusuma
Arahan mode: Hans Hambali
Wawancara: Adeste Adipriyanti
Riasan: Aditya (Vagueskin)
Rambut: Eva Pical
Asisten fotografer: Rizky Aditya
Asisten pengarah gaya: Sharonn Jordana
Pakaian: Vivienne Westwood, DIBBA, ISSHU
Lokasi: DIOS Studio