Cover Christine Ay Tjoe merenungkan tentang seni, peran sebagai ibu, dan belajar menerima ketidakpastian (Fotografi: Nicoline Patricia Malina)

Ada kebebasan tersendiri dalam menerima bahwa kita tak selalu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Christine Ay Tjoe telah membangun perjalanan berkesenian dengan memberi ruang bagi ketidakpastian itu. Kini, keterbukaan tersebut juga hadir di luar studio: dalam membesarkan anak yang beranjak remaja, menemukan ritme hidup yang baru, dan membiarkan karyanya membawanya ke arah yang tak terduga

November 2026 tampaknya akan menjadi bulan yang cukup sibuk bagi Christine Ay Tjoe. Dua pamerannya akan dibuka di Shanghai pada hari yang sama: satu bersama Ota Fine Arts, satu lagi bersama Longlati Foundation. Meski demikian, jadwal pameran bukanlah penentu utama kesehariannya. Waktu untuk bekerja di studio justru bergantung pada apa yang lebih dulu membutuhkan perhatiannya di rumah.

“Kalau semua urusan di rumah sudah beres, saya langsung ke studio,” tuturnya. “Jadi, saya harus bisa memanfaatkan waktu kapan pun ada kesempatan.”

Tak ada jam khusus yang menjadi ritual berkarya, tak ada waktu tertentu yang harus selalu disisihkan. Kini, di awal usia lima puluhan, Ay Tjoe melukis di sela-sela kesibukannya. Seiring waktu, ia menyadari bahwa jeda-jeda kecil itu pun telah menjadi bagian dari proses berkaryanya.

Lihat juga: 'Cara Hidup di Bumi': “video panduan terbaik di dunia” ingin kita memikirkan kembali cara kita berinvestasi, makan, dan hidup.

Tatler Asia
Above Christine Ay Tjoe mendekati praktik seninya dengan keterbukaan yang diperbarui, memberi ruang bagi ketidakpastian dan kemungkinan yang tak terduga. Busana dan perhiasan: Louis Vuitton

Melepaskan, Perlahan-lahan

Putranya kini memasuki usia remaja awal, dan itu berarti pendekatan yang selama ini ia gunakan sebagai orangtua perlu berubah. Cara yang berhasil ketika sang anak masih duduk di bangku sekolah dasar tak lagi sepenuhnya relevan.

“Pendekatannya sekarang berbeda,” ujarnya. “Saya harus belajar perlahan-lahan untuk tidak terlalu mengatur.”

Sebagai orangtua tunggal, ia mengakui bahwa proses tersebut tidak selalu mudah. Menjadi seorang ibu ternyata bukan sesuatu yang bisa dipelajari sekali, lalu dianggap selesai. Setiap kali putranya tumbuh dan menjadi pribadi yang sedikit berbeda, ia pun harus kembali belajar menyesuaikan diri.

Cara mereka berkomunikasi juga berubah. Sang anak kini lebih banyak menyimpan ceritanya sendiri, sementara teman-teman sebaya mulai mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupannya. Ia juga sudah memiliki pandangan sendiri, yang terkadang justru bertolak belakang dengan pandangan sang ibu.

Perbedaan usia membuat Ay Tjoe perlu belajar lebih sabar dari yang ia bayangkan sebelumnya. Ia juga harus bersedia belajar dari putranya, bukan sekadar memberikan arahan. Ketika ditanya apa yang ia pelajari dari fase ini, jawabannya sederhana: “Saya banyak belajar dengan mengikuti perkembangannya.”

Orangtua yang memiliki anak remaja mungkin akan mengenali perubahan-perubahan tersebut. Namun, pelajarannya ternyata tak berhenti di rumah. Ketika ditanya apakah pengalaman ini turut memengaruhi caranya melukis, Ay Tjoe menjawab dengan lugas: ia belajar bersabar dengan cara yang sama, sekaligus mengurangi keinginannya untuk mengendalikan segalanya.

Tatler Asia
Above Bagi Christine Ay Tjoe, membuat karya seni tetap menjadi cara untuk merenung, berkembang, dan memahami dunia di sekitarnya. (Perhiasan dan tas: Louis Vuitton)

Nyaris Berhenti Melukis

Sekitar 14 tahun lalu, sebelum putranya lahir, Ay Tjoe sempat diliputi keraguan hingga nyaris memutuskan untuk berhenti melukis. Ia mulai berpikir bahwa mungkin akan lebih bermanfaat jika dirinya mengabdikan waktu untuk berbagi pengetahuan dan membimbing seniman-seniman muda.

Namun, rencananya tak berjalan seperti yang dibayangkan. Tawaran untuk berpameran terus berdatangan. “Saya bilang, baiklah, setelah pameran yang ini,” kenangnya. “Lalu ada tawaran lain lagi, sampai akhirnya saya lupa bahwa saya pernah menetapkan target untuk berhenti.”

Hingga suatu ketika, ia teringat pada doa yang pernah dipanjatkannya: memohon agar bisa menjalani pekerjaan yang dicintai sekaligus mampu menghidupi keluarganya. “Lalu, kenapa saya justru meminta untuk berhenti?”

Perjalanan itu bermula dengan sederhana. Setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1997, Ay Tjoe bekerja selama dua tahun di sebuah kantor tekstil. Pameran tunggal pertamanya pun belum mendapat sambutan yang berarti. Sebagian besar karya yang terjual justru dibeli oleh teman-temannya, hingga kurator Jim Supangkat datang berkunjung pada minggu-minggu terakhir pameran.

Kunjungan tersebut membuka jalan menuju Edwin’s Gallery, yang kemudian memberinya kontrak eksklusif selama tiga tahun. Untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang bisa disampaikan kepada keluarganya: bahwa berkesenian bukan sekadar panggilan hati, melainkan juga jalan hidup yang layak untuk dijalani.

Kini, ketika melihat kembali perjalanan tersebut, Ay Tjoe memaknainya melalui keyakinan. “Saya selalu membuka diri terhadap kemungkinan bahwa ada campur tangan Tuhan di dalamnya,” renungnya. “Tidak semua yang saya harapkan akan berakhir sesuai dengan keinginan saya.”

 

Merangkul Ketidaksempurnaan

Sikap kaku itu dulu juga tercermin dalam prosesnya di studio. Ia menyebut dirinya sebagai seseorang yang gemar memaksakan kehendak. Sebuah lukisan harus terlihat dengan cara tertentu, dan ia akan terus mendorong prosesnya sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Kini, ia lebih bersedia membiarkan sebuah karya menemukan jalannya sendiri. “Kalau memang sudah waktunya selesai, ya, berarti selesai.”

Ia menyadari bahwa kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menimbulkan kegelisahan bagi banyak orang di dunia seni. Namun, pandangannya cenderung lebih tenang. Baginya, AI adalah sesuatu yang juga diciptakan manusia, sehingga layak dipahami tanpa harus diberi bobot atau perhatian yang berlebihan.

Tatler Asia
Above Alih-alih memaksakan sebuah karya menuju hasil yang telah ditentukan sebelumnya, Ay Tjoe telah belajar untuk mengenali kapan karya tersebut siap untuk diselesaikan. (Busana dan perhiasan: Louis Vuitton)

Dulu saya cukup kaku dengan prinsip-prinsip saya. Sekarang saya harus lebih fleksibel. Saya harus melepaskan diri karena saya harus menghadapi begitu banyak perubahan.

- Christine Ay Tjoe -

Menurutnya, pengalaman manusia adalah sesuatu yang akan tetap sulit ditiru. Ketika seseorang berdiri di hadapan sebuah lukisan, ia membawa serta ingatan dan pengalaman hidupnya sendiri. Ada sesuatu dalam karya tersebut yang mungkin mengingatkannya pada sebuah momen, seseorang, atau perasaan tertentu. Hubungan personal semacam ini tak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa seniman maupun orang yang menikmati karyanya sama-sama manusia.

Bagi Ay Tjoe, ketidaksempurnaan justru menjadi bagian penting dari hubungan tersebut.

“Sesuatu yang dibuat manusia akan tetap terasa nyata, dan itu berarti ia tidak akan pernah sempurna,” katanya. “Mungkin justru itulah yang membuat orang lebih mudah terhubung dengannya.”

Ia juga melihat masa depan yang menjanjikan pada generasi seniman muda. Mereka berani menjelajahi berbagai kemungkinan dan tidak terpaku pada satu gaya tertentu. Pesannya kepada mereka adalah untuk berpikir dalam jangka panjang.Menurutnya, peluang kini seolah lebih mudah ditemukan. Karena itu, kesempatan yang terbuka luas justru perlu diimbangi dengan kedisiplinan dan kerendahan hati, serta kesediaan untuk terus mengevaluasi dan mengkritik diri sendiri secara jujur.

“Menjadi manusia yang baik harus didahulukan,” ujarnya. “Profesi akan mengikuti. Bakat itu bukan sesuatu yang sejak awal menjadi milik kita sepenuhnya.”

 

Tatler Asia
Above Sebuah studi tentang ekspresi yang tenang, menampilkan Louis Vuitton.

Sesuatu yang dibuat manusia akan tetap terasa nyata, dan itu berarti ia tidak akan pernah sempurna

- Christine Ay Tjoe -

Pepohonan, Mesin, dan Jeda

Ay Tjoe tinggal di Bandung Utara, tak jauh dari kawasan hutan lindung. Berada di lingkungan tersebut membuatnya lebih mudah mengingat kembali apa artinya menjadi manusia, sesuatu yang menurutnya perlahan bisa terkikis oleh kehidupan di kota besar. Di Bandung, para seniman cenderung menjalani kehidupan dan berkarya di lingkaran masing-masing. Namun, Ay Tjoe melihat sisi positif dari keadaan itu: lebih banyak waktu untuk menyendiri dan mengukur dengan jujur sejauh mana kemampuan dirinya.

Tatler Asia
Above Tinggal di dekat hutan lindung di Bandung Utara, Christine Ay Tjoe menemukan ruang untuk kesendirian dan refleksi di luar studio. Pakaian dan perhiasan: Louis Vuitton.

Selera musiknya justru sulit ditebak. Ia menikmati musik elektronik, termasuk karya Daniel Avery, terutama karena iramanya yang mekanis dan repetitif. Musik semacam ini membantunya tetap bekerja ketika harinya terpotong-potong oleh berbagai hal, mulai dari tamu yang datang ke rumah hingga sesuatu yang rusak dan perlu diperiksa.

Di tengah perhatian yang terus berpindah, ritme musik menjadi semacam benang penghubung. Ia bisa meninggalkan pekerjaannya sejenak, lalu kembali melanjutkan proses berkarya tanpa sepenuhnya kehilangan alur.

Ketika ditanya tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, jawabannya singkat. “Terus berkarya. Membuat karya yang lebih baik.”

Bagi Ay Tjoe, seni tetap menjadi ruang untuk bertumbuh sebagai manusia. Melalui seni, ia dapat merenungkan apa pun yang dibawa oleh keseharian, sekaligus mencari jalan untuk memahaminya. Dan terkadang, dari proses itulah ia menemukan cara untuk melewati berbagai hal yang tak selalu mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Credits

Fotografi: Nicoline Patricia Malina
Arahan kreatif: Hans Hambali
Riasan: Donny Liem
Pakaian: Louis Vuitton
Perhiasan: Louis Vuitton
Asisten fotografer: Klarita Dania, ⁠⁠Ade Arifianto, Ahmad Bagas Dwi Ananda