WHANGANUI, NEW ZEALAND - JANUARY 24: New Zealand Prime Minister Jacinda Ardern speaks during Rātana Celebrations on January 24, 2023 in Whanganui, New Zealand. The 2023 Rātana Celebrations mark the last day as Prime Minister for Jacinda Ardern following her resignation on January 19. Labour MP Chris Hipkins became the sole nominee for her replacement and will be sworn in as the new Prime Minister at a ceremony on January 25.  (Photo by Hagen Hopkins/Getty Images)
Cover PM Selandia Baru, Jacinda Ardern saat menghadiri Rātana, acara terakhirnya sebagai Perdana Menteri. Foto: Dok. Hagen Hopkins/Getty Images.
WHANGANUI, NEW ZEALAND - JANUARY 24: New Zealand Prime Minister Jacinda Ardern speaks during Rātana Celebrations on January 24, 2023 in Whanganui, New Zealand. The 2023 Rātana Celebrations mark the last day as Prime Minister for Jacinda Ardern following her resignation on January 19. Labour MP Chris Hipkins became the sole nominee for her replacement and will be sworn in as the new Prime Minister at a ceremony on January 25.  (Photo by Hagen Hopkins/Getty Images)

Dalam 5,5 tahun jabatannya sebagai Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern berhasil membuktikan bahwa perasaan dan empati adalah kekuatan dari seorang pemimpin wanita.

Setelah menjabat selama 2 periode, Jacinda Ardern mengumumkan pengunduran diri dari posisinya sebagai Perdana Menteri Selandia Baru pada 19 Januari 2023. Jacinda, yang telah menjabat dari tahun 2017 dan dipilih untuk periode kedua pada tahun 2020, menyatakan bahwa ia menyadari besarnya tanggung jawab seorang perdana menteri dan ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melanjutkan perannya dengan baik. 

Keputusan Jacinda untuk mengundurkan diri mengejutkan dunia, sebab ia merupakan sosok yang dikagumi dunia karena telah memimpin Selandia Baru dengan empati dan dengan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Meskipun masa jabatan Jacinda dilanda oleh sejumlah krisis domestik hingga global, kemampuannya dalam mengelola krisis telah mendefinisikan kualitasnya dan menjadi warisan utama dari kepemimpinannya.

1. Penanganan Penembakan Christchurch 2019
Penembakan Christchurch pada 15 Maret 2019 dianggap sebagai salah satu hari tergelap dalam sejarah Selandia Baru. 51 orang meninggal dan 40 luka-luka dalam penembakan massal pertama di negara tersebut dalam abad ke-21, dengan mayoritas korban berasal dari komunitas muslim Christchurch. 

Enam hari setelah serangan terjadi, Jacinda dengan cepat memperketat kebijakan senjata di negaranya dengan memberlakukan pelarangan senjata semi-otomatis militer serta menghapus lebih dari 62.000 senjata api terlarang melalui skema buyback atau pembelian kembali senjata yang sudah beredar di kalangan umum. Tidak hanya itu, Jacinda bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron menyuarakan Christchurch Call to Action, sebuah gerakan yang mendesak perusahaan teknologi besar untuk memberantas promosi ekstremisme kekerasan secara online.

Tatler Asia
Above Jacinda Ardern memeluk seorang kerabat korban serangan teroris Christchurch. Foto: Dok. Hagen Hopkins / Getty Images.

Many of those who will have been directly affected by this shooting may be migrants to New Zealand, they may even be refugees here. They have chosen to make New Zealand their home, and it is their home. They are us.

- Jacinda Ardern, on the 2019 Christchurch attack. -

2. The Zero-Covid Policy
Dibawah pemerintahan Jacinda Ardern, strategi zero-tolerance yang dilakukan oleh Selandia Baru disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Dengan menjadikan kesehatan masyarakat nomor satu, pemerintahan Jacinda menutup perbatasan negara dan memberlakukan kebijakan lockdown yang sangat ketat.

Sebagai hasil dari strategi eliminasi yang dilakukan oleh pemerintah, Selandia Baru memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 dan transmisi lokal yang cenderung rendah selama pandemi. Lockdown terhadap berbagai kegiatan ekonomi sudah mulai dicabut secara bertahap pada April hingga Juni 2020. Hingga awal tahun 2023, tingkat kematian akibat Covid-19 di Selandia Baru hanya mencapai 2.468 orang dari lebih dari 2 juta kasus.

3. Melahirkan Selama Masa Jabatan
“Saya hamil, tidak lumpuh. Seperti orang lain yang pernah hamil sebelumnya, saya akan terus melakukan pekerjaan saya,” begitu pernyataan Jacinda pasca mengumumkan kehamilan anak pertamanya dengan pasangannya Clarke Gayford pada Januari 2018. Puteri Jacinda yang diberi nama Neve Te Aroha lahir pada 17 Juni 2018, hanya lebih dari satu tahun setelah pengangkatannya menjadi Perdana Menteri. 

Tatler Asia
Above Jacinda Ardern membawa putrinya, Neve Te Ahora dalam Sidang Umum PBB ke-73. Foto: Dok. Carlo Allegri/Reuters.

Jacinda merupakan perdana menteri kedua di dunia yang melahirkan anak di masa jabatannya. Di tengah kesibukannya sebagai ibu baru, Jacinda kembali bekerja setelah cuti hamil selama 6 minggu. Kelahiran anaknya menjadi bukti kemampuan seorang wanita untuk menjadi pemimpin dan menjadi seorang ibu yang baik di saat yang bersamaan.

Pada hari ini (25 Januari 2023) Jacinda Ardern secara resmi turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri dan digantikan oleh Chris Hipkins, pemimpin dari partai buruh Selandia Baru. Jacinda Ardern tidak hanya meninggalkan jabatannya sebagai seorang icon pemimpin wanita dalam politik, namun ia menjadi bukti nyata bahwa seorang pemimpin dapat membangun negara dan melindungi rakyatnya dengan empati, perasaan, dan kebaikan. 

 

Baca Juga:

Interview with Shinta W. Kamdani, The First Asian Woman to Occupy the Chair of B20

Tribute to Queen Elizabeth II

Explore Wonderful Ukraine

Topics