Cover Saira Nisar mengenakan riasan dari BOS. Foto: Saira Nisar.

The founder and CEO of Trademark Market and BOS, Saira Nisar berbagi kisah dibalik kesuksesannya.

Saira Nisar, perempuan tangguh lulusan LaSalle College Jakarta ini pada awalnya ingin membuat fashion brand companynya sendiri. Namun seperti yang kita ketahui untuk membuat sebuah clothing line tidak sesederhana yang dipikirkan dan bukanlah perkara mudah, karena banyak pertimbangan yang harus disiapkan untuk membangun pondasi awal seperti; persiapan, penelitian, dan modal. Tantangan ini tidak membuatnya gentar, justru Saira menggunakan kesempatan ini sebagai challenge untuk membuktikan rasa cintanya pada dunia fashion sekaligus membantu orang sekitar. 

Saat Saira berada di Jakarta, ia melihat banyak brand lokal yang ia kira berasal dari Jakarta, namun ternyata semua produk yang selama ini ia lihat berasal dari Bandung. Saira pun pergi ke Bandung dan bertanya langsung pada penduduk setempat, tentang brand-brand yang ia temukan. Anehnya, mereka semua tidak mengetahui bahwa brand yang sebenarnya mereka tahu selama ini sebenarnya merupakan hasil tangan dingin penduduk Bandung. Saat itulah Saira menyadari bahwa brand lokal Bandung membutuhkan sebuah platform untuk memamerkan produk-produknya. Inilah asal mula Trademark Market. Saat acara pertama berlangsung, ia mampu mengumpulkan 100 brand dengan 30.000 pengunjung hanya dalam waktu empat hari. “Ini diluar ekspektasi”, kata Saira.

Tatler Asia
Foto: Saira Nisar
Above Foto: Saira Nisar
Foto: Saira Nisar

Saat Saira berada di Jakarta, ia melihat banyak brand lokal yang ia kira berasal dari Jakarta, namun ternyata semua produk yang selama ini ia lihat berasal dari Bandung. Saira pun pergi ke Bandung dan bertanya langsung pada penduduk setempat, tentang brand-brand yang ia temukan. Anehnya, mereka semua tidak mengetahui bahwa brand yang sebenarnya mereka tahu selama ini sebenarnya merupakan hasil tangan dingin penduduk Bandung. Saat itulah Saira menyadari bahwa brand lokal Bandung membutuhkan sebuah platform untuk memamerkan produk-produknya. Inilah asal mula Trademark Market. Saat acara pertama berlangsung, ia mampu mengumpulkan 100 brand dengan 30.000 pengunjung hanya dalam waktu empat hari. “Ini diluar ekspektasi”, kata Saira.


Pada tahun 2011 tepatnya di Paris Van Java, mal yang paling populer di Bandung saat itu, Trademark Market berhasil mencuri perhatian bagi penduduk setempat serta turis. Hal ini menjadi batu loncatan yang sangat potensial bagi semua brand lokal asal Bandung. Ide Saira untuk mewujudkan acara ini adalah agar industri kreatif Bandung bangkit kembali dengan mayoritas pekerja yang bergelut di sektor inovatif dan kreatif. 


Tahun ini menjadi tahun ke-13 berdirinya Trademark, brand dan produk yang dijual bevariasi mulai dari pakaian wanita, anak-anak, pria, serta produk kecantikan, gaya hidup, dan kuliner. Kini Trademark Market mampu menjadi sebuah event rutin khas Bandung. Ia berharap acara ini menjadi ajang berkumpulnya brand lokal Bandung. Dalam waktu dekat, Saira juga berencana untuk menggelar fashion show dan memberikan apresiasi berupa penghargaan pada brand lokal. “Jika berbicara soal Bandung, Trademark menjadi satu acara yang selalu dinantikan. Jika Jakarta memiliki Fashion Week, mungkin bisa dikatakan Bandung memiliki Trademark.”

 

Tatler Asia
Above Foto: BOS Collections

Menurut Saira, ajang tersebut merupakan salah satu dari sekian banyaknya prestasi yang ia peroleh selama ini. Adanya ekspansi pelanggan yang diperoleh dari Trademark selama ini, membuktikan bahwa dirinya mampu membantu dan mendukung banyak orang dari beberapa sektor industri kreatif, mulai dari musisi hingga pemilik brand baru. Selain pencapaiannya akan Trademark, ia juga terpilih menjadi bagian dari ‘30 Under 30’ bersama dengan sederet wanita sukses Indonesia lainnya. “Saya memberikan kesempatan di semua aspek lewat Trademark, untuk membantu sekaligus membuat mereka lebih maju. Dalam hal hiburan, Trademark pun bisa menjadi platform yang tepat untuk para seniman berkarya. Jadi Trademark ini memang tempat berkumpulnya anak muda dengan industri kreatifnya untuk saling mendukung satu sama lain.”

Selama dua tahun pandemi, Trademark Market diadakan secara online. Saira merasa prihatin melihat beberapa brand yang terpaksa gulung tikar akibat pandemi. Tapi dalam situasi apapun, selalu ada sisi baik yang bisa dilihat. Ia senang melihat banyak brand baru bermunculan. Sebagai sebuah platform, Trademark Market memungkinkan brand-brand baru tersebut untuk berkembang bersama dengan brand terkenal yang sudah lebih dulu ada, bahkan beberapa dari mereka akhirnya mampu membuka store di Jakarta. Tim kurasi akan memastikan para pemilik brand tetap berada dalam kisaran harga Bandung dengan tetap menjaga kualitasnya.

Disela penggarapan Trademark, Saira juga menyalurkan kecintaannya pada dunia kecantikan dengan menciptakan lini kecantikannya yaitu, BOS. BOS dibuat lebih versatile dan sangat friendly bagi pemula yang ingin mengeksplorasi dunia make up dan kecantikan. Karena keingintahuannya soal pembuatan make up, Saira menjalani sekolah di Glauca Rossi School, tempat Charlotte Tilbury juga mengemban ilmunya. “Momen yang membuat saya merasa seperti sedang bermimpi adalah ketika produk BOS habis terjual, dan orang-/orang yang saya kagumi selama ini memakai dan bahkan memuji produk BOS. Terutama saat pandemi melanda, dimana kebanyakan orang tidak keluar rumah dan memakai make up.”  Saira memiliki visi dan misi yang berbeda dari brand make up lainnya sebagai unique selling point. Ia mencoba menampilkan “simple and plain” dan lebih fokus kepada perawatan kulit. Lalu untuk peningkatan kualitas, Saira melakukan proses panjang melalui penelitian yang berkelanjutan.

Tatler Asia
Above Foto: BOS Collections

Oleh karena itu, produk BOS membutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk diluncurkan. Ia ingin memastikan bahwa setiap produk yang dikeluarkannya tidak hanya memiliki warna dan kemasan yang memukau namun sudah melewati riset dan penelitian dengan kualitas yang mumpuni. “Sukses bagi saya adalah ketika saya dapat berbuat sesuatu yang baik untuk orang lain.” -Saira Nisar.

Topics