Semangat para selebriti dunia ini menjadi sebuah renungan untuk kita dalam memperjuangkan segenggam kehidupan
Bila dibandingkan dengan perputaran roda planet dan antariksa, hidup manusia bisa diibaratkan hanya berlangsung sekejap mata. Itulah yang membuat kita, para manusia, menghargai setiap detik waktu yang berjalan untuk merealisasikan sebuah hidup yang tidak akan disesali di kemudian hari. Mengenali sifat kehidupan yang cepat berlalu juga turut memotivasi para individu untuk memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya—menyalakan sebuah api yang berkobar dalam mengejar tujuan dan aspirasi mereka. Setiap detik yang berjalan menjadi sebuah kesempatan untuk terhubung dengan orang-orang terkasih, mempelajari hal-hal baru, dan memberikan pengaruh positif—bahkan sebuah perubahan besar pada dunia.
Dalam menjalani hidup yang singkat ini, tentu umat manusia tidak luput dari berbagai kesalahan, ketidakberuntungan, hingga penyakit keras yang membuat mereka mempertanyakan apa arti kehidupan. Sebagian besar dari mereka mungkin merasa ingin menyerah, namun sebagian orang mengubah sudut pandang dari beban yang mereka tanggung menjadi sebuah senjata berharga dalam mengarungi kehidupan. Tantangan dan halangan akan menjadi sesuatu yang akan dihadapi oleh seorang manusia yang masih bernapas di dunia ini.
Namun, satu bab buruk dalam hidup kalian bukan berarti membuat hidup kalian berakhir seketika. Penting untuk diingat bahwa meskipun momen atau periode tertentu mungkin terasa sangat sulit, hal tersebut tidaklah bersifat permanen dan pada akhirnya akan berlalu. Seperti halnya kisah para selebritis dunia ini. Walaupun mereka memiliki segudang bakat, mereka tetap mendapatkan berbagai tantangan kehidupan: baik itu penyakit yang menyerang tubuh maupun mempengaruhi kesehatan mental mereka. Awalnya mereka mungkin ingin menyerah, tapi hal buruk tersebut justru membuat semangat juang mereka timbul untuk melawan penyakit dan mengejar arti kehidupan yang sebenarnya.
Bagi kalian yang saat ini sedang menemukan jalan buntu dalam kehidupan, beberapa cerita di bawah ini bisa menjadi inspirasi untuk bertahan hidup dan membuat kalian bersemangat dalam merealisasikan sebuah kehidupan yang kalian impikan.
1. Ashley Tisdale dalam melawan Alopecia
Menjadi salah satu aktris berbakat yang memborong berbagai penghargaan, banyak dari masyarakat dunia menginginkan kehidupan seperti seorang Ashley Tisdale. Tidak hanya cantik dan berbakat, Ashley juga berhasil menaikkan kualitas hidupnya melalui berbagai penghargaan dan nominasi yang ia kejar dengan begitu kerasnya. Mulai dari BTVA People's Choice Voice Acting Award hingga BTVA Television Voice Acting Award sebagai Best Female Lead Vocal. Namun, di balik senyumnya yang ia toreh di panggung perhelatan, sang aktris menyimpan sebuah beban yang ia tanggung sendiri.
Dari sejak umur 20-an, Ashley mengidap sebuah penyakit yang dikenal dengan nama Alopecia. Hal ini diketahui dari dalam klip video yang dibagikan ke akun pribadinya dan lini perawatan kulitnya di Instagram Frenshe baru-baru ini. Mantan bintang High School Musical tersebut mengungkapkan bahwa dia telah menghadapi kondisi tersebut sejak awal usia 20-an.
Alopecia adalah kondisi medis yang menyebabkan kerontokan rambut di kulit kepala dan terkadang di bagian tubuh lainnya. Kerontokan rambut dapat berkisar dari kebotakan kecil dan bulat hingga kerontokan total pada kulit kepala (disebut sebagai alopecia totalis) atau seluruh tubuh (disebut sebagai alopecia universalis). Alopecia ini diduga terkait dengan gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang folikel rambut.
Ia mengaku bahwa penyakit tersebut ia ketahui ketika dokter dermatologis memeriksa titik botak kecil tepat di garis rambutnya. Hal ini tentu membuat ia merasa down dan menyembunyikan penyakit tersebut. Bertahun-tahun ia sembunyikan penyakit tersebut hingga pada akhirnya, di awal tahun 2023 ini, sang aktris ingin membebaskan diri dari hal yang membelenggu kepercayaan dirinya. Dalam caption yang ia bagikan melalui Instagram, stress menjadi penyebab utama timbulnya Alopecia dalam dirinya. Dari sinilah ia menemukan cara bagaimana dia melawan stress, yang ternyata menjadi sebuah lifestyle yang baik untuknya: manajemen stress dan paleo diet—sebuah pola makan yang meniru jenis makanan yang kemungkinan besar dimakan oleh nenek moyang manusia selama era Paleolitik, yang berlangsung sekitar 2,5 juta hingga 10.000 tahun yang lalu. Tipe diet ini berisikan makanan seperti daging tanpa lemak, ikan, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
“Saya menemukan kunci untuk menangani Alopecia adalah melalui manajemen stres yang berperan signifikan dalam memoderasi pengaruh stres," kata Tisdale. "Saya mencoba menerapkan diet paleo, dengan sedikit modifikasi dimana saya mengurangi asupan biji-bijian dan beberapa makanan yang ditonjolkan seperti telur selama kurang lebih 30 hari. Hal tersebut ternyata membuat saya merasa lebih baik dan percaya diri.”
2. Celine Dion dalam melawan Stiff-person syndrome yang langka
Tampil mengagumkan dalam setiap performanya, tidak ada yang menyangka bahwa seorang Celine Dion mengidap sebuah penyakit langka dalam tubuhnya: Stiff-person syndrome (SPS). Kelainan saraf tersebut tergolong sangat langka karena hanya mempengaruhi sekitar 1 dari satu juta orang di seluruh dunia. Karakteristik SPS ditandai dengan kekakuan dan kejang otot, serta kepekaan yang meningkat terhadap rangsangan seperti kebisingan, sentuhan, dan emosi. Penyebab pasti SPS tidak dipahami dengan baik, tetapi diyakini terkait dengan respons imun abnormal yang menyerang sel saraf di sumsum tulang belakang dan otak.
Dalam postingan video emosional di Instagram, penyanyi yang memenangkan Grammy Awards lima kali berturut-turut tersebut berbicara tentang kondisinya yang membuatnya kesulitan berjalan atau menggunakan pita suaranya untuk bernyanyi. “Saya telah berurusan dengan masalah kesehatan saya untuk waktu yang lama, dan sangat sulit bagi saya untuk menghadapi tantangan ini dan berbicara tentang semua yang telah saya lalui ... Sungguh menyakitkan bagi saya untuk memberi tahu Anda bahwa saya memang tidak siap untuk memulai kembali tur saya di Eropa pada bulan Februari ini,” jelasnya dalam caption Instagram Reel yang diunggah pada December 2022 yang lalu.
Apabila kita menjadi seorang Celine Dion, banyak dari kita mungkin akan tergeletak lemas begitu mendengar diagnosa bahwa kita mengidap penyakit langka. Namun apakah ini membuat aktris besar tersebut menyerah dan menerima nasibnya begitu saja? Jawabannya adalah TIDAK. Walaupun sang penyanyi mengundurkan konsernya, ia berjuang dengan menemui berbagai dokter dan menjalani sejumlah terapi karena ia percaya bahwa dirinya akan kembali ke atas panggung dan akan memberikan sebuah performa yang akan diingat oleh para penggemarnya sepanjang masa.
“Saya memiliki tim dokter hebat dan anak-anak saya yang tidak lelah dalam mendukung dan memberi saya harapan. Walaupun saat ini menjadi titik perjuangan saya yang cukup berat, namun saya akan berusaha keras untuk menjalani terapi pengobatan bersama terapis saya untuk membangun kembali kekuatan dan kemampuan agar bisa tampil secara prima lagi,” jelasnya.
3. Selena Gomez dalam melawan Lupus
Ketika menghitung mundur waktu, dunia entertainment dikejutkan dengan sebuah tajuk berita besar yang bertuliskan bahwa Selena Gomez didiagnosis mengidap Lupus—sebuah gangguan autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel dan jaringan sehat. Lupus dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk kelelahan, nyeri sendi, ruam kulit, dan demam. Penyakit ini juga dapat mempengaruhi organ seperti ginjal, paru-paru, jantung, dan otak.
Dalam kasus sang aktris, dia mengungkapkan bahwa diagnosis Lupus membuatnya menerima transplantasi ginjal di tahun 2017. Penyanyi dan aktris berusia 29 tahun itu juga turut berbagi bahwa dia menjalani kemoterapi untuk mengobati penyakit autoimunnya, dimana hal tersebut membawa dampak negatif terhadap karier dan kesehatan mentalnya seperti gangguan bipolar, kecemasan dan depresi. Tentu, tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana dunia yang dibangun oleh seorang figur berbakat seperti Selena Gomez hancur secara perlahan-lahan.
Pada November 2022 yang lalu pun Selena kembali berada di titik terbawah dalam hidupnya, ketika pertempurannya dengan penyakit lupus yang menggerogoti tubuhnya semakin mengkhawatirkan. Pelantun lagu " The Same Old Love" tersebut terlihat menangis dalam sebuah film dokumenter terbarunya di Apple TV+ yang berjudul "My Mind & Me," ketika dia menyadari penyakit autoimunnya kambuh dengan kondisi terparah untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. “Saya belum merasakannya sejak saya masih muda,” kata Gomez, meskipun telah menjalani transplantasi ginjal pada tahun 2017 berkat sumbangan dari temannya Francia Raisa, yang tidak muncul dalam dokumenter tersebut.“Sekarang saya hanya bisa merasakan sakit. Contohnya, di pagi hari ketika saya bangun, saya langsung menangis karena sakit, semuanya,” sebutnya sambil berlinang air mata. Hal tersebut pun juga membuatnya jatuh kembali ke dalam lubang depresi, seolah perawatan yang telah ia jalani tersedot ke dalam sebuah lubang hitam yang menganga lebar.
Di umurnya yang ke-30, Selena Gomez mendapatkan saran dari dokternya untuk melakukan terapi yang disebut Rituxan untuk menghilangkan nyeri sendi sang bintang selama setahun atau lebih. Hal ini dikarenakan rasa sakit yang ia rasakan belakangan ini berasal dari lupus dan myositis yang tumpang tindih, yang menyebabkan nyeri dan melemahnya otot. Walaupun terapi dalam melawan Lupus terlihat menyakitkan untuk penyanyi tersebut, Selena tetap percaya bahwa suatu saat nanti, ia akan tampil kembali dengan kepercayaan diri yang kembali. “Saya selalu merasa lebih baik ketika saya memiliki jawaban untuk menghadapi ini, tetapi terapi Rituxan sangat sulit dilakukan saat terakhir kali yang lalu,” jelas Gomez. “Ini sekitar empat jam, lima jam. Ini sangat sulit pada sistem badanmu pada awalnya, tapi tidak apa-apa,”.
Dalam dokumenter tersebut, ia pun memberikan sebuah pernyataan yang membuat banyak sesama pengidap lupus menjadi lebih bersemangat dan “hidup” dalam menjalani terapi.
“Saya tidak menginginkan hal ini terjadi pada siapa pun, Gangguan psikotik ini, meskipun menyakitkan, sebenarnya membuat saya menemukan apa yang salah di dalam diri saya dan membuat saya mencari bantuan,” jelasnya. “Saya percaya pada pengobatan. Itu benar-benar mengubah hidup saya. Saya hanya berharap orang-orang yang memiliki penyakit seperti saya tahu bahwa mereka tidak sendirian dan akan tetap berjuang untuk tetap hidup dan mencari tau siapa diri mereka sebenarnya”
“Saya pikir sekarang saya berada di titik kehidupan yang membuat saya bersyukur dan ingin tetap terus membagikan perjalanan hidup saya karena saya merasa tidak ada yang perlu disembunyikan.”
4. Christina Applegate dalam melawan Ragam Sclerosis
Sclerosis mungkin menjadi salah satu penyakit kulit yang mampu menganggu penampilan dan kepercayaan diri. Namun, untuk para selebriti yang mendambakan kulit sehat yang sempurna, kelainan kulit ini menjadi mimpi buruk bagi mereka. Sclerosis merupakan pengerasan atau penebalan jaringan atau organ, biasanya sebagai akibat dari peradangan atau cedera. Ada banyak jenis sklerosis, masing-masing mempengaruhi bagian tubuh yang berbeda. Walaupun hanya muncul di salah satu bagian tubuh, tentu keadaan ini akan berdampak terhadap level kepercayaan diri. Bagaimana apabila kelainan kulit ini muncul secara merata di berbagai bagian kulit?
Inilah yang dialami oleh aktris Christina Applegate, yang mengidap Multiple Sclerosis. Bagi aktris yang sudah meniti karirnya dari tahun 90-an, kondisi penyakit tersebut seolah tidak nampak, namun sedikit demi sedikit mulai menunjukkan gejalanya. Pada Januari 2021, aktor tersebut mulai mengalami gejala yang "sangat kecil, sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja," sebutnya. Pada saat dia mulai syuting "Dead to Me" di bulan Mei, dia merasakan bahwa di sekitar tubuhnya seolah-olah tertabrak truk dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Produksi acara tersebut kemudian ditutup selama kira-kira lima bulan agar dia bisa menjalani perawatan.
Ketika dia kembali ke lokasi syuting, Applegate membutuhkan kursi roda. Terkadang, anggota kru harus menggendongnya untuk syuting. Dalam wawancaranya dengan Times New York, sang aktris menjelaskan bahwa dia sekarang mengalami mati rasa dan kesemutan serta masalah keseimbangan yang dia alami, dimana kemungkinan besar adalah gejala Multiple Sclerosis (MS). Selain itu, ia juga mengalami ketidakseimbangan pada berat badan dan penurunan di dalam kesehatan mentalnya.
Namun, itu tidak menghalangi Christina dalam berkarya. Ia tidak ingin penyakit yang ia derita menjadi salah satu pengakhir karirnya. Sejak berita diagnosisnya menjadi headline, Christina mencoba untuk aktif membagikan sekilas tentang hidupnya dengan MS melalui media sosial. Dia juga memposting foto tongkat modis yang dia gunakan untuk berjalan tampil publik. Bahkan, ketika dia menghadiri upacara Walk of Fame, dia datang dengan satu tangan, dan bertelanjang kaki. Dia men-tweet bahwa untuk orang dengan MS, memakai sepatu terasa sakit dan membuat mereka merasa tidak seimbang. Ketika membagikan hal tersebut, mungkin ia merasakan ketakutan terhadap respon dari masyarakat sekitar. Namun, hasilnya positif. Masyarakat menjadi lebih aware terhadap penyakit MS dan mensupport sang aktris untuk tetap semangat dalam menjalani pengobatannya. Selain itu, Christina pun tetap mampu menyelesaikan seri yang sedang ia kerjakan, “Dead to Me”
Sekarang, sang aktris lebih santai dalam menanggapi beberapa komentar jahat yang sempat muncul di akun media sosialnya. Tak lama setelah tampil di acara penghargaan pertamanya sejak diagnosisnya di Critics 'Choice Awards 2023, Christina mengomentari komen yang berisikan "MS tidak membuatmu terlihat seperti itu, itu karena operasi plastik" tulis pengguna dalam DM, yang dibagikan aktris itu melalui Twitter. Terlebih lagi ketika membalas komen tersebut, ia meluruskan dengan fakta sambil tertawa renyah, seolah MS bukan menjadi batu terbesar dalam hidupnya.
Topics




