Inspirasi para perempuan di Asia yang giat melakukan perubahan untuk keberlanjutan lingkungan hidup.
Perubahan iklim yang semakin nyata, menjadikan kita wajib untuk mengambil langkah baru secepatnya. Seperti yang dikatakan oleh PBB, bahwa perempuan dan anak merupakan kaum rentan terdampak perubahan iklim, tetapi melalui perempuan juga suatu perubahan dapat tercipta. Kami telah merangkum lima perempuan hebat dari negara-negara di Asia, yang memiliki kesamaan untuk mendorong perubahan berkelanjutan, sehingga masih ada kesempatan masa depan yang baik bagi bumi tempat kita tinggal.
Foto: Dok. instagram.com/nadinelist
1.Cherrie Atilano, Filipina
Cherrie lahir dan dibesarkan di sebuah perkebunan tebu, di Filipina. Pada usia 12, Cherrie sudah mampu membantu mengajari para petani berpenghasilan rendah untuk dapat menanam makanan mereka sendiri. 2014, Cherrie mendirikan Agrea, sebuah perusahaan inklusif dan inovatif yang merancang One Island Economy-model ekonomi satu pulau. Berkat inovasinya ini, Cherrie mendapat penghargaan UN Global Compact Agriculture Business Excellence Award, pada 2017.
2.Ellie Tang, Hong Kong
Banyak aksi terkait keberlangsungan lingkungan sudah dilakukan Ellie Tang. Ellie berada di balik pembuatan Nature Discovery Park, sebagai museum keanekaragaman hayati dan taman yang berfungsi sebagai pengenalan gaya hidup berkelanjutan. Ellie juga tergabung dalam Komite Kampanye Lingkungan Pemerintah Hong Kong dan Komite Penilaian Dana Teknologi Hijau. Hingga saat ini, Ellie masih setia terus memperjuangkan isu perubahan iklim dengan mendorong komitmen jangka panjang perusahaan-perusahaan yang ada di Hong Kong.
3.Nadine Chandrawinata, Indonesia
Petualangan Nadine dalam menyelamatkan laut dimulai pada 2008, saat Ia diangkat menjadi Duta Terumbu Karang untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia. Pada 2015, Ia membentuk LSM bernama Seasoldier, yang meningkatkan kesadaran masalah lingkungan, seperti penggundulan hutan bakau, polusi plastik, dan penangkapan lumba-lumba ilegal. Dalam tiga tahun, Seasoldier mampu mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendukung peraturan menghentikan sirkus lumba-lumba keliling.
4.Sasibai Kimis, Malaysia
Sasibai mendirikan Earth Heir pada 2013, sebagai langkah nyata untuk memberi mata pencaharian berkelanjutan bagi para pengrajin tradisional dari komunitas yang terpinggirkan. Hingga kini Earth Heir telah berhasil mengadvokasi 500 pengrajin di enam negara bagian di Malaysia dan kesemuanya bersertifikat fair trade.
5.Susan Chong, Singapore
Foto: Dok assets.ey.com
Perjalanan Susan dalam membantu pelestarian lingkungan dimulai saat mendirikan perusahaan pengepakan ramah lingkungan, Greenpac pada 2002. Greenpac menggunakan bahan ramah lingkungan dan berusaha untuk mengurangi limbah produksi. Selain itu, Greenpac juga berusaha menjadi perusahaan yang inklusif dengan mempekerjakan mantan narapidana dan penyandang disabilitas. Untuk mendukung visi ini, Susan bahkan mengambil kursus bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan karyawannya.



