Sampai sekarang tema konservatisme masih menjadi perhatian Sakdiyah dalam mengulik materi untuk diekspresikan di panggung

Sakdiyah disebut sebagai perempuan komedian tunggal muslim pertama dari Indonesia yang menggunakan komedi sebagai cara untuk menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan. Ia muncul sebagai perempuan peranakan Arab yang menentang habis-habisan konservatisme di tengah banyaknya kelompok masyarakat yang mengarah ke sana. Lewat aksi komedi tunggalnya, ia mendobrak stigma yang kadung ditempelkan publik kepada orang-orang keturunan Arab. Berikut beberapa fakta tentang Sakdiyah Ma'ruf.

Baca juga: Berpotensi Jadi Unicorn, Ini 5 Fakta Mengenai Reynold Wijaya CEO Di Balik Startup Modalku


Tumbuh dalam keluarga konservatif

Selama hidupnya, Sakdiyah terbiasa tinggal di komunitas Arab yang konservatif. Tidak mudah bagi Sakdiyah untuk menjadi komika dengan statusnya sebagai wanita muslim. Dalam wawancara dengan The Sydney Morning Herald pada Oktober 2016, Sakdiyah menjelaskan kalau dulu dirinya tidak boleh keluar dari rumah usai pulang sekolah, tidak boleh mengikuti ekstrakulikuler dan organisasi siswa. Bahkan, Sakdiyah dilarang untuk bergabung dalam organisasi yang memiliki anggota lawan jenis. 


 Peserta Standup Comedy Indonesia

Sakdiyah Maruf adalah peserta Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV pada tahun 2011. Wanita kelahiran tahun 1982 ini dikenal sering membahas isu seputar Islam, terutama mengkritik ekstremisme Islam. Selain itu, ia juga kerap menantang kekerasan terhadap perempuan. Lewat stand up comedy ia bisa mengemukakan ide-ide yang cenderung sensitif dengan santai. Lewat komedi, isu-isu sensitif itu lebih bisa diterima lantaran dianggap candaan belaka.


Bukan hanya seorang komedian

Selain menjadi komedian, publik mengenal Sakdiyah sebagai seniman dan penerjemah. Dalam tesis masternya tentang comedy jihad, Sakdiyah bercerita tentang bagaimana muslim di AS memulai pertunjukan-pertunjukan komedi tunggal sebagai respon terhadap publik negara tersebut yang semakin antipati kepada Islam. Situasi AS sesudah tragedi 11 September 2001 memang sulit bagi kelompok muslim. Semua yang berjenggot, berhijab, memiliki nama Muhammad atau bau Arab lainnya akan dicurigai sebagai teroris. Terlalu banyak kecurigaan konyol yang ditujukan kepada muslim AS di pasar, sekolah, bandara, dan jalanan sehingga masyarakat muslim hampir-hampir tidak menemukan cara untuk membela diri. Di tengah situasi sulit itulah AS memunculkan Dean Obeidallah, Hasan Minhaj, dan kawan-kawan mereka yang memutuskan untuk melawan keadaan dengan “menertawakan” kondisi tersebut.


Kesulitan berkarya di dalam negeri

Berkomedi hanya di wilayah domestik punya banyak kekurangan, terutama bagi komika perempuan seperti Diyah. Pertama, dunia komedi yang ia tekuni kurang ramah bagi perempuan. Ruang komedi tunggal sebagian besar diisi komika laki-laki, dan karenanya atmosfer yang tercipta pun terlampau maskulin. Ruang latihan hingga panggung penampilan pun seringkali disetel pada jam malam. Alasan lainnya, terkait materi-materi sensitif yang ia bawakan. Sebaliknya, ia bisa lebih leluasa dan luwes berekspresi serta membuka pintu jaringan dengan berkomedi menggunakan bahasa Inggris. Dari situlah reputasinya terbangun. Pengakuan dari dunia internasional membantu Diyah memperlihatkan pada keluarganya bahwa perjuangannya selama ini bukan main-main.


Bagian dari 100 perempuan berpengaruh versi BBC

Komedian tunggal asal Indonesia Sakdiyah Maruf terpilih dalam 100 BBC Women atau perempuan paling berpengaruh dan menginspirasi di dunia tahun 2018 versi BBC. Kepiawaan Diyah dalam berkomedi kemudian diganjar berbagai penghargaan dunia. Pada 2015, dia sempat menerima penghargaan Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent untuk kategori stand up comedy di Oslo, Norwegia. Lalu baru-baru ini, pada November 2018, namanya masuk urutan ke-54 dari 100 daftar wanita inspiratif dunia versi BBC.


 Baca juga: 5 Hal Penting Terkait Pemblokiran Game PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG)