Filipina surfer Maricel Parajes rides waves wearing a Maria Clara dress, a traditional Philippine garment, for Archie Geotina’s Pearls project (Photo: courtesy of Archie Geotina)
Cover Peselancar Filipina Maricel Parajes berselancar mengenakan gaun Maria Clara, pakaian tradisional Filipina, untuk proyek Mutiara Archie Geotina. Foto: Archie Geotina.
Filipina surfer Maricel Parajes rides waves wearing a Maria Clara dress, a traditional Philippine garment, for Archie Geotina’s Pearls project (Photo: courtesy of Archie Geotina)

Dari Filipina hingga India, berikut aktivis perempuan Asia yang menggunakan olahraga selancar untuk meningkatkan kesadaran akan keberlanjutan, kesetaraan gender, body positivity, dan isu-isu lainnya

Dari masyarakat Hawaii yang berjuang untuk mencapai kedaulatan hingga kaum hippie yang terkenal akan aksinya untuk bumi, komunitas peselancar telah berpartisipasi aktif dalam politik selama berabad-abad. Kini, sejumlah peselancar muda dari Asia sedang berjuang untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan memimpin inisiatif yang menyentuh komunitas selancar internasional hingga masyarakat lokal.

Tatler berbicara kepada peselancar dari seluruh wilayah tentang bagaimana minatnya dalam berselancar berpengaruh pada aktivisme di beragam isu seperti body positivity, kesetaraan gender, dan menantang warisan pascakolonial.

Jangan lewatkan: Meet the wave-riders in Asia raising awareness for environmental protection

Archie Geotina

Negara     : Filipina
Aktivisme: Menantang warisan pascakolonial

Sepinya wisatawan pantai akibat ditutupnya perbatasan selama pandemi Covid-19 membuat komunitas peselancar di Pulau Siargao menderita. Peselancar profesional dan saudara Ikit Agudo dan Aping Agudo, berbagi kekhawatiran tentang pendapatan mereka kepada peselancar dan artis asal Siargao, Archie Geotina,.

“Saya mengatakan kepada mereka 'saya bukan pengusaha, saya tidak dapat membantu kalian menghasilkan uang',” katanya kepada Tatler. "Tapi aku bisa mencoba membuat sesuatu." Itu menjadi kesempatan sempurna bagi Geotina untuk meningkatkan perhatian pada komunitas selancar lokal, kelompok yang biasanya kurang terwakili di pantai Siargao, katanya.

“Banyak orang berpikir ombak kita hanya dijelajahi oleh peselancar asing dan penduduk setempat hanya tinggal di pantai, mengurus bisnis untuk melayani turis. Itu adalah sebuah pandangan imperialis yang terus berdampak negatif pada rakyat kita.

“Terdapat sejarah panjang rasisme dan whitewashing dalam olahraga selancar. Saya benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan apa yang kami banggakan: Saya ingin memperkuat warna coklat (sebagai identitas) dari diri kami, serta feminitas budaya kami.”

Tatler Asia
Ikit Agudo by Archie Geotina for the PEARLS' project (Photo: courtesy of Archie Geotina)
Above Ikit Agudo oleh Archie Geotina untuk proyek Mutiara (Foto: milik Archie Geotina)
Ikit Agudo by Archie Geotina for the PEARLS' project (Photo: courtesy of Archie Geotina)

Untuk menantang narasi pascakolonial tentang apa artinya menjadi orang Filipina, Geotina menjuluki proyeknya Pearls, merujuk pada baris dari lagu kebangsaan, “Perlas ng silangan”, yang diterjemahkan menjadi “mutiara dari timur”. Dengan bantuan fotografer selancar Bren Fuentes dan Jose Mirasol, Geotina mengabadikan teman-temannya mengendarai ombak sambil mengenakan pakaian tradisional Filipina.

Ia menyertakan perempuan dan perempuan transgender dalam proyeknya sebagai cara untuk menyoroti peran kolonialisme Spanyol dan Kekristenan dalam penindasan keragaman gender di negara tersebut. Pakaian itu, kata Geotina, memiliki bobot metaforis dan fisik. Direndam dalam air, kemampuan para perempuan untuk berselancar sambil mengenakannya membuktikan bakat dan ketahanan mereka.

Keputusan untuk memproduksinya dalam warna hitam dan putih, katanya, menambah keabadian mereka. Proyek Pearls, yang dirilis secara simbolis pada Hari Kemerdekaan Filipina tahun 2021, viral dengan cepat, menghasilkan ribuan engagement di media sosial, baik dari komunitas lokal maupun internasional.

Pearls juga telah dipamerkan di luar Filipina. Setelah memperluas proyek untuk menampilkan peselancar dari Indonesia, Geotina mengatakan bahwa Pearls berevolusi secara organik menjadi “sebuah proyek untuk kemanusiaan, melampaui batas-batas saya dan tim saya. Tidak pernah ada proyek yang telah saya selesaikan dengan begitu banyak kesuksesan. Ini menunjukkan seberapa banyak orang Filipina, dan seluruh Asia, perlu disertakan dalam percakapan selancar global.”

Flora Christin Butar Butar

Negara      : Indonesia
Aktivisme : Pemberdayaan perempuan

Ketika Flora Christin Butar Butar yang berusia 32 tahun mulai berselancar di Bali pada tahun 2016, ia tidak hanya menjadi salah satu dari sedikit peselancar perempuan di pantai, ia juga satu-satunya perempuan lokal.

“Banyak orang mengira selancar adalah olahraga untuk orang asing, bukan untuk penduduk lokal, apalagi perempuan lokal.” Flora mungkin menjadi pionir bagi peselancar perempuan Indonesia—ia menjadi peselancar longboard kompetitif perempuan pertama di Indonesia pada tahun 2017—namun kebangkitannya bukan tanpa kesulitan.

Sebagai contoh, ia pernah diserang secara fisik dan verbal oleh seorang pria yang ingin berselancar di hadapannya. “Beberapa pria mengira ombak besar adalah milik mereka… Secara umum, selancar adalah olahraga yang didominasi pria,” ujarnya. "Tapi saya tahu saya berada di sini untuk memutus siklus."

Lahir dan besar di Medan, Sumatera Utara, Flora mengatakan bahwa ia kerap tidak merasa sebagai bagian dari anggota keluarganya sendiri: “Saya adalah seorang gadis, jadi saya harus pulang setelah sekolah untuk membersihkan rumah, memasak untuk saudara laki-laki saya. dan melakukan pekerjaan rumah.” Ia adalah keturunan Batak, kelompok adat yang memiliki peran gender tradisional lebih ketat dari daerah lain di Indonesia, katanya.

Tatler Asia
Flora Christin Butar Butar at one of her female-empowerment retreat (Photo: courtesy of Flora Christin Butar Butar)
Above Flora Christin Butar Butar di salah satu retret pemberdayaan perempuan (Foto: milik Flora Christin Butar Butar)
Flora Christin Butar Butar at one of her female-empowerment retreat (Photo: courtesy of Flora Christin Butar Butar)

Ayah Flora meninggal saat ia berusia 11 tahun, dan ibunya melarikan diri saat ia berusia 17 tahun, yang berarti ia harus menghidupi kedua saudara laki-lakinya. “Saya sempat menyiksa diri di Jakarta dengan mengambil pekerjaan kantoran yang saya benci,” katanya. “Jadi, ketika adik bungsu saya berusia 18 tahun, saya meneleponnya dan berkata 'Lihat, kamu sudah cukup dewasa, sudah waktunya kamu menjaga diri karena aku harus menjaga diriku sendiri.”

Flora memutuskan untuk berkeliling Asia, dan kemudian Indonesia. Begitu tiba di Bali, ia memutuskan untuk belajar selancar secara otodidak, karena iia tidak mampu untuk membayar seorang instruktur. Kerja kerasnya berbuah kesuksesan spektakuler.

Pada 2017, ia tampil di saluran olahraga internasional dan dalam kampanye kecantikan se-Asia untuk Dove, serta naik podium di Kejuaraan Selancar Wanita Asia. Ia juga berkolaborasi dengan banyak fotografer, menghasilkan gambar yang berkontribusi pada basis penggemarnya di seluruh dunia yang terus meningkat. Ia juga telah mengembangkan program selancar khusus perempuan, yang disebut Flora Retreats, dengan sebagian keuntungannya digunakan untuk membeli papan selancar lokal untuk gadis-gadis lokal, serta membuat pakaian renang custom.

"Mereka tidak berselancar dengan bikini, jadi saya perlu membuatnya menjadi one-piece panjang dengan lengan, misalnya." “Motivasi utama saya hari ini adalah untuk membantu lebih banyak perempuan Indonesia mencapai impian mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia ingin berkontribusi kepada masyarakat dan memimpin dengan memberi contoh.

“Kamu tahu, kami [perempuan Indonesia] telah dicuci otak untuk berpikir bahwa kami tidak bisa berselancar dan kulit kami tidak bisa digelapkan oleh sinar matahari. Tapi itu tidak benar, dan saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kami kuat dan cantik.”

Tanvi Jagadish

Negara      : India
Aktivisme : Body Positivity

Ketika ibu Tanvi Jagadish mengetahui pada tahun 2012 bahwa putrinya telah diam-diam berselancar di laut lepas Malpe, Karnataka selama tiga tahun, ia sangat marah. Ia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan perempuan praremaja itu—karena laut dianggap “terlalu berbahaya bagi perempuan”—ia juga mengkhawatirkan konsekuensi berselancar terhadap tubuh putrinya.

"Ibuku benar-benar takut aku akan menjadi terlalu berotot, rambutku akan menjadi pirang dan rusak, dan aku akan menjadi terlalu gelap untuk menarik perhatian seorang calon suami," kata Jagadish kepada Tatler . “Ia sebenarnya sangat marah sehingga saya [dilarang keluar] selama setahun penuh.”

Dalam perjalanannya untuk menjadi satu-satunya perwakilan perempuan India di Piala Dunia stand-up paddle (SUP), dan menjadi juara nasional tujuh kali—sembari merasa nyaman dengan tubuhnya—Jagadish yang berusia 23 tahun harus berjuang melawan banyak norma sosial dan kecantikan. Ia menggambarkan dirinya sebagai "anak yang gemuk dan berotot", dan menjelaskan bahwa tumbuh dewasa sambil menavigasi karirnya sebagai peselancar membawa beban emosional.

“Saya seringkali menjadi korban body shaming saat tumbuh,” katanya. “Saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di laut, dan karena saya berselancar dengan pakaian renang, orang merasa bahwa itu adalah ajakan untuk mengomentari tubuh saya. Mereka menyebut saya gemuk dan menyarankan agar saya menurunkan berat badan. Itu sangat menyakitkan.”

Tatler Asia
Tanvi Jagadish teaching surfing to women at the Kadal Surf School (Photo: courtesy of Tanvi Jagadish)
Above Tanvi Jagadish mengajar selancar kepada perempuan di Kadal Surf School (Foto: milik Tanvi Jagadish)
Tanvi Jagadish teaching surfing to women at the Kadal Surf School (Photo: courtesy of Tanvi Jagadish)

Perjuangannya diperparah dengan tidak adanya panutan di komunitas selancar internasional. “Dulu saya merasa sangat bingung dan tersesat karena sebagian besar peselancar asing yang saya kagumi sangat kurus dan bugar. Juga, hanya ada sedikit representasi kulit gelap.”

Secara historis, selancar dipraktikkan oleh laki-laki dan perempuan di Hawaii pramodern dan Polinesia yang memiliki berbagai bentuk tubuh, ukuran, usia, dan latar belakang, tetapi citra budaya pop modern dari olahraga ini sangat homogen: dalam film, iklan, dan buku kontemporer, peselancar biasanya ditunjukan sebagai pria kulit putih heteroseksual berusia muda dari California Selatan atau Australia.

Gerakan body positivity dalam komunitas selancar meningkat perlahan, dan Jagadish memimpin di kampung halamannya. Dengan salah satu sahabatnya, Rohan R Suvarna, ia mendirikan Kadal Surf School, tempat untuk belajar mengenai lautan dan selancar, yang juga menjadi sistem pendukung yang tidak dimiliki Jagadish saat ia memulai. Kadal juga menjadi tempat aman yang “menunjukkan kepada semua gadis kecil lainnya bahwa mereka dapat berselancar dan menjadi apapun yang mereka inginkan”, kata Jagadish.

Kini, ia akhirnya merasa didukung oleh keluarga, teman, dan komunitasnya, yang membantunya mengamankan sumber daya teknis dan ekonomi yang diperlukan untuk memungkinkannya untuk berkembang dalam kompetisi SUP internasional. Dan sekarang ia berharap perempuan muda lain dari negaranya yang tidak cocok dengan stereotip "surfer vibe" dapat merasakan sambutan yang sama: "Komunitas selancar dapat menjadi kelompok yang sangat indah dan suportif—saya ingin membawanya ke India."

Darsea Liu

Negara      : Tiongkok
Aktivisme : Sustainability (keberlanjutan)

Bagi Darsea Liu (sebelumnya Darci Liu), dikenal sebagai “pro-surfer pertama Tiongkok” tidak berarti jika tidak dikaitkan dengan pekerjaannya dalam bidang konservasi. “Setiap orang memiliki kekuatan supernya sendiri,” katanya kepada Tatler. “Kekuatan saya adalah motivasi saya untuk memengaruhi masyarakat dengan cara yang positif.”

Perempuan yang kelak mengubah sejarah selancar di Tiongkok ini lahir dari keluarga tradisional di Hubei, yang terletak di tengah negara tersebut. Ia belum pernah melihat lautan dan bahkan tidak tahu cara berenang sebelum ia diperkenalkan dengan selancar di provinsi Pulau Hainan pada tahun 2007. Kala itu, ia berusia 19 tahun. Pengalaman selancar pertamanya menjadi cinta pada pandangan (atau gelombang) pertama, dan ia memutuskan untuk pindah ke pulau itu pada tahun yang sama.

Namun pada 2015, setelah bergabung dengan peselancar elit dunia dan menciptakan jalur bagi peselancar masa depan Tiongkok, Liu secara tiba-tiba pensiun dari olahraga tersebut. Sebaliknya, ia memutuskan untuk memfokuskan energinya untuk meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim dan polusi pantai di komunitas selancar Hainan dan sekitarnya.

“Berselancar [menjadi] populer dengan sangat cepat [di Tiongkok], dan itu menyenangkan sekaligus menakutkan” katanya, yang berarti bahwa industri yang sedang booming ini menarik banyak investor yang prioritasnya adalah menghasilkan uang darinya, tetapi mereka tidak terlalu peduli dengan selancar itu sendiri, dan bahkan lebih tidak peduli tentang dampaknya terhadap lingkungan.

Tatler Asia
Darsea Liu putting a full trash bag into a truck (Photo: courtesy of Darsea Liu)
Above Darsea Liu memasukkan kantong sampah penuh ke dalam truk (Foto: milik Darsea Liu)
Darsea Liu putting a full trash bag into a truck (Photo: courtesy of Darsea Liu)

Liu mengambil tanggung jawab untuk menunjukkan bagaimana olahraga dapat dilakukan sembari memperhatikan aspek berkelanjutan; lagipula, katanya, berkontribusi pada alam adalah bagian besar dari budaya selancar. Ia telah mengorganisir pembersihan pantai sejak 2009, tetapi ia terus meningkatkan aktivismenya hingga pada tahun 2022 ia menciptakan Clean Island Movement. Sebulan sekali, Liu mengatur pembersihan pantai-pantai terpencil di pulau Hainan, dan juga menempatkan tempat sampah yang dicat khusus di pantai ini untuk mencegah membuang sampah sembarangan. Ia juga mengatur agar tempat sampah ini dikosongkan setiap minggu untuk menjaga pantai tetap bersih.

Sampah yang mereka kumpulkan dari pantai-pantai ini kemudian diubah menjadi gantungan kunci yang dibagikan Liu kepada para sukarelawan; ini adalah inisiatif 360 derajat, katanya. Sementara dikotomi ekologis yang mendalam hidup di komunitas selancar — berkeliling dunia untuk menunggangi gelombang baru membuatnya terasa terhubung dengan alam, namun kegiatan itu juga telah meninggalkan jejak karbon yang besar — sehingga keberlanjutan telah menjadi perhatian yang berkembang di China.

Dengan kehidupan pulau dan perusahaannya, Liu berharap untuk mengubah norma. Misalnya dengan “kompetisi selancar yang benar-benar zero waste”. Liu telah menginspirasi seluruh generasi peselancar untuk melindungi lingkungan, dan inisiatifnya sangat sukses sehingga karyanya diakui oleh pemerintah setempat.

Ini adalah langkah pertama, katanya, dan itu memotivasi ia untuk membawanya ke tingkat berikutnya. “Saya seperti tukang kebun,” katanya. “Saya menaruh benih di benak orang dan menyiraminya sampai tumbuh dan berkembang menjadi taman yang indah.”

Topics