Leila S. Chudori

Writer

Tatler Asia
Leila S. Chudori

Meski telah menulis selama lebih dari tiga dekade, ia tetap memandang proses menulis sebagai latihan panjang

Tidak banyak penulis Indonesia yang mampu menuturkan kisah tentang trauma politik dan hubungan keluarga dengan kedalaman emosional dan kejelian seperti Leila S. Chudori. Dari ruang redaksi Tempo hingga panggung sastra dunia, Leila dikenal sebagai penulis dan jurnalis yang konsisten menelusuri sejarah, kemanusiaan, dan ingatan kolektif dengan gaya naratif yang berdaya.

Tumbuh di keluarga yang akrab dengan buku dan diskusi, Leila telah menunjukkan minat pada dunia cerita dan tulis menulis sejak remaja. Ia menempuh pendidikan di Lester B. Pearson College di Kanada dan meraih gelar ganda dari Trent University. Sekembalinya ke Indonesia, ia menerbitkan Malam Terakhir (1989), sebelum bergabung dengan majalah Tempo, tempatnya berkarya sebagai jurnalis selama hampir tiga dekade hingga 2017.

Karya-karya Leila selalu berpijak pada riset sejarah yang kuat dan sensitivitas kemanusiaan yang dalam. 9 dari Nadira (2009) menyoroti kompleksitas perempuan modern; Pulang (2012) mengisahkan eksil politik 1965 dan memenangkan Khatulistiwa Literary Award 2013; sementara Laut Bercerita (2017) meneguhkan posisinya sebagai salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia. Novel ini kini telah menembus lebih dari seratus kali cetak ulang, dengan penjualan melampaui setengah juta eksemplar hanya dalam lima tahun sejak diterbitkan. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah penerbitan Indonesia, apalagi terbilang jarang terjadi pada karya sastra yang bertema sejarah dan kemanusiaan. Angka tersebut bukan sekadar penanda popularitas, melainkan bukti bahwa Laut Bercerita tetap relevan bagi generasi baru pembaca. Novel tersebut juga meraih S.E.A. Write Award 2020 dan dinobatkan sebagai Book of the Year 2022 oleh IKAPI Awards.

Karya-karya Leila telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dimuat di jurnal sastra Asia Tenggara, seperti Tenggara dan Menagerie. Bersama putrinya, Rain Chudori, ia mendirikan Peron House Publishing, penerbit independen yang memberi ruang bagi karya sastra dan eksperimental. Novel terbarunya, Namaku Alam (2023), melanjutkan semesta Pulang dan kembali menjadi best-seller.

Leila tetap menulis dengan ketenangan dan ketekunan yang sama. Meski telah menulis selama lebih dari tiga dekade, ia tetap memandang proses menulis sebagai latihan panjang.

Impacted Industries


  • The Arts

  • Entertainment