Artistic Director
The Power Couple | Seniman yang menjahit sejarah, identitas, dan imajinasi dalam satu bingkai
Bagi Jay Subyakto, gaya bukanlah soal mengejar tren, melainkan konsistensi dan kenyamanan. Hampir empat dekade ia setia pada warna putih dan terlebih hitam—sebuah “seragam” personal yang lahir dari kepraktisan ketika bekerja di belakang layar. “Waktu jadi kameramen, baju hitam itu wajib supaya tidak mencolok. Lama-lama terasa praktis, dan ternyata memang paling cocok untuk saya,” ujarnya santai. Dari situlah lahir estetika yang kemudian melekat erat pada sosoknya: sederhana, lugas, tetapi tetap penuh karakter. Keteguhan Jay dalam berpakaian sejalan dengan sikap artistiknya. Ia tidak pernah terjebak dalam dikte mode atau tren musiman. Baginya, gaya sejati adalah apa yang sesuai dengan diri sendiri, bukan apa yang sedang dipromosikan dunia mode. “Fashion itu bisa kejam—menentukan apa yang harus dipakai orang, padahal belum tentu cocok. Saya lebih memilih desainer independen yang orisinal dan tidak tunduk pada tren,” katanya.
Sikap ini membentuk kesadaran akan keberlanjutan, mengingat limbah tekstil menjadi salah satu yang paling merusak lingkungan. Inspirasi gaya Jay tak lepas dari orangtuanya. Ia tumbuh melihat ibunya yang selalu tampil rapi, mampu memadukan batik dengan busana modern tanpa bantuan penata gaya. Dari situ ia belajar bahwa berpakaian bukan hanya soal visual, tetapi juga representasi nilai dan martabat. Berbeda dengan sang adik, Chitra Subyakto, yang terpilih bersamana dalah daftar Tatler Asia’s Most Stylish 2025 dalam kategori The Power Couple, Jay justru menemukan identitas lewat kesederhanaan monokrom.
Jika harus tampil dengan sentuhan Indonesia, ia lebih memilih sarung dan jas ketimbang kemeja batik yang menurutnya tidak cocok untuk tubuhnya. Bagi Jay, gaya adalah cermin keaslian. Ia percaya setiap orang seharusnya berani memilih apa yang benar-benar pantas bagi dirinya, tanpa takut berbeda. Itulah yang membuatnya menonjol. bukan karena kilau busana yang berlapis, melainkan karena konsistensi dan integritas dalam berpenampilan. Dengan gayanya yang tegas dan elegan tanpa terasa berlebihan, Jay Subyakto membuktikan bahwa menjadi stylish tidak selalu berarti menambahkan sesuatu, tetapi justru berani “mengurangi” hingga yang tersisa hanyalah esensi.
“Saya lebih memilih desainer independen yang orisinal dan tidak tunduk pada tren.”
Impacted Industries
The Arts
Entertainment
Credits
