Ilmuwan
Herawati Supolo Sudoyo menegaskan satu hal sederhana: sains adalah panggilan, bukan pekerjaan
Herawati Supolo Sudoyo menegaskan satu hal sederhana: sains adalah panggilan, bukan pekerjaan. Dari laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tempat ia berkiprah sejak 1992 hingga 2021, ia memimpin berbagai riset penting tentang genetika manusia Indonesia dan membuka peta baru tentang asal-usul dan keberagaman yang membentuk bangsa ini.
Dikenal sebagai Champion of Basic Science in Indonesia versi The Lancet, Hera tidak hanya berbicara tentang teori. Di bawah kepemimpinannya, laboratorium DNA forensik Eijkman membantu mengungkap kasus besar, dari tragedi bom Kedutaan Australia tahun 2004 hingga pelacakan spesies langka yang membuktikan bahwa penelitian dasar dapat berdampak nyata bagi keamanan dan kemanusiaan.
Dedikasinya di dunia sains mengantarkan berbagai penghargaan, seperti Wing Kehormatan POLRI (2007), Habibie Award untuk Ilmu Kedokteran dan Teknologi (2008), Australia Alumni Award untuk Inovasi Ilmiah dan Riset (2008), SheCan Award (2009), Penghargaan Kartini untuk 100 Perempuan Terinspiratif (2009), Anugerah Sekar Bangsa (2013), Australia Alumni of the Year Award (2020), hingga Cendekiawan Berdedikasi dari Harian Kompas (2019).
Sebagai panutan bagi perempuan peneliti, Hera aktif dalam program L’Oréal–UNESCO For Women in Science, mendorong lebih banyak perempuan berani menapaki dunia riset. Baginya, sains bukan permainan anak laki-laki atau perempuan, melainkan permainan semua orang. Sains menempatkan kita pada masa kini, dan menentukan ke mana kita akan bertolak.
Impacted Industries
Education
Healthcare & Sciences
