Aktivis sosial
Kehadirannya menunjukkan konsistensi dan dedikasi dalam memadukan kepemimpinan perempuan, perlindungan alam, dan pelestarian budaya
Aleta Baun, atau Mama Aleta, adalah pemimpin komunitas adat dari Mollo, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal luas karena advokasinya dalam perlindungan lingkungan dan pemberdayaan perempuan. Namanya mencuat setelah memimpin protes damai melawan rencana penambangan marmer yang mengancam hutan dan gunung sakral, wilayah yang bagi masyarakat Mollo bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi mereka.
Alih-alih menghadapi ancaman dengan konfrontasi, Mama Aleta memilih jalur damai lewat aksi “protes menenun”. Selama hampir satu tahun, ia memimpin perempuan Mollo duduk di lokasi tambang sambil menenun kain. Tindakan sederhana dan strategis ini menjadi pernyataan tegas bahwa mereka adalah penjaga dan pemilik tanah yang sah. Strategi ini berhasil dan perusahaan tambang akhirnya mundur.
Kiprah Mama Aleta diperkuat oleh pengalaman profesional dan keterlibatannya dalam berbagai organisasi. Sejak 1993 hingga 1999, ia bekerja di Sanggar Suara Perempuan, membangun dasar untuk advokasi sosial dan pemberdayaan perempuan. Dari 1999 hingga 2013, ia aktif sebagai anggota Masyarakat Adat, berfokus pada perlindungan tanah dan budaya komunitasnya. Tahun 2013 menandai keterlibatannya di tingkat nasional, saat ia bergabung sebagai anggota Dewan AMAN Nasional (DAMANAS), sebuah posisi yang ia jalani hingga 2022, mewakili wilayah Bali. Selain itu, ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur antara 2014 dan 2019, memperluas pengaruhnya dalam kebijakan publik yang terkait hak masyarakat adat dan lingkungan.
Di bidang organisasi, Mama Aleta pernah memimpin Pokja OAT dari 1999 hingga 2014, serta mendirikan Mama Aleta Fund (MAF) pada 2014, yang fokus pada pemberdayaan perempuan pejuang lingkungan. Pada 2024, ia menambahkan langkah baru dalam advokasi pendidikan dan budaya dengan membuka sekolah tenun untuk anak-anak, memastikan keterampilan tradisional diwariskan sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal.
Prestasi dan penghargaan yang diterimanya menegaskan dampak nyata dari perjuangan Mama Aleta. Pada 2013, ia dianugerahi Goldman Environmental Prize, salah satu penghargaan lingkungan paling bergengsi di dunia, yang menyoroti keberhasilan individu dalam melindungi lingkungan dan hak masyarakat lokal. Pada 2016, ia menerima Yap Thiam Hien Award, penghargaan nasional untuk pegiat hak asasi manusia, dan sebelumnya pada 2009/2010, ia diakui sebagai Pejuang Nasional Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Hingga kini, Aleta Baun tetap aktif dalam advokasi masyarakat adat dan pelestarian lingkungan melalui berbagai inisiatif dan organisasi yang ia pimpin. Kehadirannya menunjukkan konsistensi dan dedikasi dalam memadukan kepemimpinan perempuan, perlindungan alam, dan pelestarian budaya.
Impacted Industries
Social Entrepreneurship
Credits
