Figur multitalenta tersebut mengeksplorasi sisi kreativitasnya mulai dari desain interior, fashion, NFT, hingga ke toko bunga

Screen Shot 2022-03-14 at 4.21.13 PM.pngFoto: Dok. mroscarwang

Mungkin nama Oscar Wang lebih dikenal sebagai anak dari Sylvia Chang, salah satu sutradara dan aktris ternama yang telah berkarya di Hong Kong, Taiwan, dan terutama Tiongkok daratan. Padahal, Wang lebih dari sekadar “anak Sylvia Chang”. 

Dia adalah pendiri Open Work Studio yang telah menciptakan Fendidi Family, karakter kuartet panda lucu untuk Fendi pada 2019 serta Stella Friends, sebuah seri karakter hewan terncam punah untuk Stella McCartney pada 2021. Selain berfokus pada studio yang berbasis di Shanghai tersebut, lulusan Chelsea College of Arts ini juga menyalurkan kreativitasnya sebagai desainer lintasdisiplin. 

Simak perbincangan Tatler tentang proses dan konsep kreatifnya. 

 


Mengapa proyek seperti Fendidi penting? 

Karakter keluarga panda menjadi sangat sukses setelah kami mengubahnya menjadi emoticons dan stiker untuk digunakan di berbagai kanal media sosial seperti Kakao dan WeChat. Para penggunanya seakan bisa berinteraksi dengan berbagai karakter yang ada.

Tidak seperti instalasi fisik, karakter di dunia digital bisa diakses oleh orang dari berbagai belahan dunia. Itu adalah prinsip dan tujuan dari apa yang kami lakukan, yaitu memberikan kebahagiaan di kehidupan manusia. 

Sekarang, kami sedang perlahan-lahan membuat karakter digital sendiri dan ke depannya akan terus dikembangkan menjadi lifestyle items, atau bahkan dikembangkan menjadi NFT.


Latar belakang pendidikan Anda adalah desain interior dan ruang. Mengapa memutuskan bekerja di industri fashion?

Saya selalu memiliki ketertarikan terhadap fashion. Orang pada dasarnya memiliki  keinginan untuk tampil stylish, sehingga fashion adalah hal yang disukai oleh orang dari berbagai latar belakang. 

Menggabungkan karakter digital kami dengan fashion membuatnya jadi lebih bisa diterima oleh masyarakat. Ada keunikan tersendiri ketika cuteness dan coolness digabungkan. Seperti percobaan kimia saja, Anda harus mencampur berbagai unsur dan melihat bagaimana hasilnya.

 

 

Anda juga adalah otak di balik brand busana Earthling Collective. Apa cerita di balik itu? 

Ketika pandemi dimulai, saya bersama tim merasa harus melakukan sesuatu, seperti sebuah brand yang fun dengan pesan tersendiri. Brand ini diluncurkan pertama kali pada April tahun lalu, sebagai pengingat tentang siapa kita dan tempat kita di bumi ini. Karena itu, segala hal di brand ini dibuat dari perspektif bumi yang dilihat dari luar. 

Kami ingin menampilkan betapa indahnya dunia, khususnya pada masa-masa sulit. Saat ini, kami dalam proses membuat berbagai karakter digital dan mengembangkan storyline untuk brand kami. Nantinya, bagi yang ingin berbelanja brand kami bisa melalui wadah digital tersebut.


Adakah proyek lain yang sedang Anda persiapkan?

Saya ingin berkolaborasi dengan brand olahraga dan kuliner, serta ingin membuat sesuatu yang di luar zona nyaman saya. Mungkin saya akan membuat toko bunga artisan. Sejujurnya, hal itu sedang saya diskusikan dengan tim saya (tertawa). Terkadang memang ide saya suka dianggap random oleh orang-orang. Kalau bisa saya bayangkan di kepala, berarti harusnya bisa saya wujudkan, bukan? Ini seperti layaknya membuat deja vu saya sendiri.