Sebelum Art SG resmi dihelat pada Januari mendatang di Singapura, co-founder Magnus Renfrew dan Fair Director, Shuyin Yang menegaskan mengapa Asia Tenggara sudah pantas mempunyai art fairnya sendiri.

Foto: Dok Art SG
Pasar seni global mengalami pemulihan pada 2021 kemarin dengan total penjualan barang antik dan karya seni yang mencapai kenaikan sebesar 29 persen dari tahun 2020 dengan estimasi 65,1 Milyar US Dollar berdasarkan data dari Art Basel dan UBS Global Art Market Report 2022. Sejumlah kolektor berpenghasilan tinggi juga membeli lebih banyak koleksi di 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, seperti yang tertera di survey UBS Investor Watch and Arts Economic Survey.
Hal ini merupakan kabar baik bagi penyelenggara Art SG – sebuah art fair kontemporer yang akan diadakan di Singapura dari 12 hingga 15 Januari 2023 ( dengan VIP preview pada tanggal 11 Januari) bertempat di Sands Expo & Convention Centre di Marina Bay Sands. Sejak pertama kali diumumkan pada 2018 lalu, ajang ini sempat mengalami beberapa penundaan, namun resmi kembali dengan visi awal yang sama.
“Kami melihat sebuah kesempatan besar untuk sebuah art fair berskala internasional dengan partisipasi dari sejumlah galeri di Asia Tenggara, Asia, Eropa dan Amerika,” tutur co-founder Art SG, Magnus Renfrew. “Sangat menarik jika melihat bagaimana Asia Tenggara berkembang di seluruh faktor. Mungkin kamu tidak menyadari jika Asia Tenggara memiliki ukuran yang sama dengan Benua Eropa dan pusat ekonomi yang sedang berkembang pesat di dunia,” tambahnya.

Foto: Dok. Art SG
“Sebagai jalur masuk Asia Tenggara, Singapura menjadi lokasi penting penyelenggaraan art fair yang dihadiri oleh tamu internasional,” Jelas Renfrew. Art SG menampilkan lebih dari 150 galeri dari seluruh dunia, termasuk mega galleries seperti Gagosian, Pace dan White Cube – di mana sebagian baru mengikuti acara ini untuk pertama kali bersama dengan galeri berskala lokal, regional dan internasional.
“Deretan galeri besar internasional ini datang ke Singapura untuk bertemu dengan para kolektor lokal dan skala regional,” ucap Fair Director Art SG, Shuyin Yang. “Mereka tidak akan pergi ke Kota lainnya dan bertemu kolektor Asia Tenggara di sana. Mereka datang khusus untuk menemui para kolektor yang hadir di Singapura,” ungkapannya.
Pameran ini sendiri dibagi kedalam empat sektor untuk meng highlight gallery programs dan beragam tipe kurasi yang berbeda. Sektor galeri utama akan menampilkan sejumlah galeri dengan track record istimewa yang menampilkan artist central dengan sejarah, identitas dan program mereka. “Kita dapat melihat beberapa nama unggulan di international art scene dan gebrakan baru yang akan mereka debutkan di Asia,” kata Yang. Deretan nama tersebut termasuk David Zwirner (Paris, Hong Kong, London, New York dan beberapa line-up seniman internasional ternama seperti Oscar Murillo (Kolombia), Josh Smith (Amerika), Neo Rauch (Jerman) serta Lehmann Maupin (New York, Hong Kong, Seoul dan London), Mandy El-Sayegh (Malaysia), Lee Bul (Korea Selatan) dan pelukis Vietnam-Amerika yang sedang naik daun, Tammy Nguyen.
Sektor “Focus” akan menampilkan presentasi dari solo dan duo artist. “Ini merupakan kesempatan baik bagi kolektor untuk lebih familiar dengan seorang seniman atau beberapa grup kecil seniman,” ucap Yang. Contohnya adalah Kukje’s Gallery dari Seoul dan Busan, solo showcase dari seniman asal Australia, Daniel Boyd yang menampilkan pre-existing romantic notions dari sejarah kolonial Australia.
Sementara sektor “Future” mensupport galeri yang baru buka dalam kurun waktu enam tahun terakhir dengan program yang sedang memasuki tahap pengembangan. “Hal ini menunjukkan apa yang dapat terjadi jika galeri baru bekerjasama dengan seniman muda dalam menampilkan antusiasme kepada audience,” kata Yang. Salah satu highlight adalah Tropical Future Institute di Cebu yang menampilkan presentasi konsep bold dan diverse melalui karya pelukis asal Visaya, Kristoffer Ardena, seniman eksperimental asal Jerman, Simon Speiser dan seniman Amerika, Adam de Boer.

Foto: Dok. Art SG
Yang terakhir adalah sektor “Reframe”. Bagian ini menampilkan eksperimen baru di Digital Arts dan blockchain. “Potensi teknologi blockchain telah membuka sebuah interest untuk membuat karya seni dalam bentuk digital,” ujar Renfrew. “Kami ingin terhubung dengan komunitas ini dan yang terpenting, fokus terhadap seni terlepas dari beberapa spekulasi,” tambahnya. Sektor ini juga menampilkan konteks historis dalam setiap karya seninya yang terlihat dari galeri seperti Bitforms Gallery (New York, San Francisco) dan Kate Vass Galerie (Zurich) yang telah masuk ke ranah digital seperti bekerja sama dengan seniman yang memproduksi karyanya melalui algoritma.
Dipersembahkan oleh founding dan lead partner, UBS, Art SG diorganisasi oleh The Art Assembly yang didirikan oleh Renfrew, Sandy Angus dan Tim Etchells yang merupakan sosok sukses dibalik sederet pameran seni internasional seperti Taipei Dangdai, Inda Art Fair dan Sydney Contemporary. Mereka juga akan melakukan debut pameran seni Tokyo Gendai di Jepang Juli mendatang.
Sebagai Founding Director dari Art Basel Hong Kong (yang sebelumnya bernama Art Basel HK sebelum diakuisisi oleh MCH Group, Art Basel Parent Company), Renfrew mengatakan ada generasi baru kolektor yang akan segera datang dengan kekayaan yang mumpuni selama lima tahun terakhir yang ikut berperan di berbagai bidang, salah satunya seni dan ada ombak pergerakan besar di Asia dan memiliki potensi merubah nature dari pasar seni internasional.
“Saat ini, momen ini merupakan saat menyenangkan bagi art scene di Asia Tenggara dan Singapura. Line-up yang ditampilkan di galeri Art SG istimewa berdasarkan penilaian standar internasional. Hal ini merupakan bukti nyata dari komitmen para galeri dan potensi yang mereka lihat di level regional,” kata Renfrew. “Salah satu hal penting dari pameran seni adalah daya tarik yang kuat. Kami menghadirkan pameran seni dengan kualitas bagus dan event ini wajib didatangi oleh individu yang tertarik dengan dunia seni baik dalam skala regional dan internasional,” tutupnya.




