Melindungi lingkungan alam Leuser

Nama Farwiza Farhan sedang ramai dibicarakan baru-baru ini. Ia terpilih masuk ke dalam daftar Time 100 Next 2022 hingga foto dirinya mengisi sampul majalah tersebut. Profil Farwiza ditulis dalam majalah Time edisi Oktober 2022 oleh ilmuwan legendaris, Jane Goodall.
Sementara itu, pada tahun 2016, Princess Anne of England menghadiahkan Farwiza Whitley Award sebagai pemimpin konservasi grassroots di seluruh Global South. Di tahun yang sama, Farwiza menemani Leonardo DiCaprio saat superstar Hollywood tersebut berkunjung ke Aceh untuk syuting film konservasi dokumenter. Dia akhirnya tampil dalam film berjudul Before the Flood.
Dalam kesehariannya, Farwiza disibukkan sebagai ketua dan salah satu pendiri Yayasan HAkA (Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh). Posisi tersebut telah dijabatnya selama sepuluh tahun dan masih kokoh hingga kini. Di yayasan ini, Farwiza dan timnya memiliki berbagai tugas untuk melindungi ekosistem Leuser di Sumatera, seperti memberdayakan masyarakat lokal dan mengambil tindakan hukum untuk melindungi alam.
Leuser sangat penting bagi keserasian alam karena luasnya mencapai 2,25 hektar, tersebar di dua provinsi dan 13 kabupaten. Salah satu keberhasilan Yayasan HAkA yang luar biasa adalah ketika mereka memenangkan kasus konservasi hukum melawan pemegang konsesi dengan biaya kompensasi sebesar USD 26 juta.
Farwiza selalu bersyukur dibesarkan dalam keluarga liberal di Aceh. Orang tuanya adalah akademisi yang mendorong dia dan saudara-saudaranya untuk memprioritaskan belajar sehingga mereka dapat memilih jalan hidup mereka sendiri. Ketika ayahnya menyelesaikan gelar PhD di Malaysia, ayahnya sempat ditawari posisi di sana. Namun sebaliknya, ayah Farwiza memutuskan kembali ke Aceh untuk mengajar. Keputusan ayahnya menginspirasi Farwiza untuk selalu berbakti kepada masyarakat.
Farwiza pernah bekerja di luar negeri dengan gaji lebih dari cukup. Meski begitu, dia menemukan lubang di hatinya. Saat itu, Farwiza memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Aceh dan bekerja di sebuah instansi pemerintah bernama Badan Pengelola Ekosistem Leuser. Ketika agensi tersebut tiba-tiba ditutup, Farwiza dan rekan-rekannya memutuskan untuk mendirikan organisasi non-pemerintah mereka sendiri, yang sisanya adalah sejarah.




