Konsumsi plant based meat memiliki berbagai manfaat, baik itu untuk tubuh hingga lingkungan
Tren makanan plant based meat tengah diminati dalam beberapa waktu terakhir. Di Indonesia sendiri, khususnya di wilayah Jakarta dan Bali, plant based meat mulai merambah industri restoran hingga fast food chain. Beberapa diantaranya adalah Burgreens, Greenery, Leafwell, dan Green Rebel yang menyediakan plant based meat yang diolah dari berbagai bahan nabati seperti jamur dan jagung. Untuk fast food chain, Burger King dan A&W merupakan beberapa dari pemain terdepan yang menyediakan plant based meat.
Peralihan industri pangan dari daging hewani menjadi nabati bukan tanpa sebab. Tingkat permintaan global untuk daging diproyeksikan akan terus meningkat sebesar 50 persen antara tahun 2013 dan 2050. Bahkan, konsumsi daging per kapita di Amerika hampir mencapai titik tertinggi pada tahun 2018. Di sisi lain, produksi daging hewani dan susu (yang siap diperjualbelikan) memiliki dampak besar pada lingkungan, terutama ekologi yang mendukung kehidupan di Bumi.
Selama beberapa dekade, telah ada upaya untuk mendorong perubahan pola makan yang berkelanjutan dan plant based meat adalah salah satu solusi yang ditawarkan. Produk makanan yang dibuat dari bahan-bahan nabati ini menawarkan pengalaman kuliner daging yang lengkap tanpa perlu memakan hewan sama sekali. Menurut berbagai studi, mengganti daging konvensional dengan plant based meat dapat mengurangi dampak lingkungan secara signifikan. Plant based meat juga memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dan memerlukan lebih sedikit lahan dan air daripada produksi daging hewan. Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science, produksi daging sapi menghasilkan 20 kali lebih banyak emisi gas rumah kaca dan memerlukan 20 kali lebih banyak lahan daripada produksi sayuran dan biji-bijian.
Dalam era di mana lingkungan semakin terancam dan kesehatan menjadi perhatian utama, plant based meat menawarkan solusi yang dapat membantu mengatasi tantangan konsumsi daging di masa depan.
1. Dapat mengurangi berbagai macam masalah lingkungan

Above Image: freepik/senivpetro
Salah satu permasalahan yang menjadi alasan utama untuk beralih ke plant based meat adalah efisiensi industri peternakan konvensional yang terus menunjukkan penurunan dalam pemanfaatan lahan pertanian dan memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Dalam data yang disadur dari Good Food Institute, 77% lahan pertanian di seluruh dunia digunakan untuk industri peternakan, meskipun hasil dari peternakan tersebut hanya menyediakan 17% kebutuhan pangan manusia. Selain itu, industri peternakan juga berkontribusi pada emisi gas rumah kaca yang sangat besar dan polusi air akibat limbah hewan (limbah hewan turut meningkatkan nutrisi dalam air yang akan mengganggu keseimbangan).
Industri pangan saat ini telah mendorong untuk memproduksi plant based meat sebagai sebuah alternatif sekaligus solusi. Plant based meat terbukti menggunakan 47% hingga 99% lebih sedikit lahan pertanian dibandingkan dengan daging konvensional. Konsumsi plant based meat juga dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri peternakan, karena terbukti mengeluarkan 30% hingga 90% lebih sedikit emisi gas rumah kaca. Tentu saja, dengan tidak adanya daging hewan yang diolah, maka polusi air juga akan lebih berkurang.
2. Plant based meat tetap bernutrisi

Above Foto: Green Matters
Meski plant based meat telah dikenal masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi peminatnya masih tidak terlalu banyak. Di Amerika sendiri, pada tahun 2013, pasar plant based meat hanya mencapai 1%. Jumlahnya meningkat setiap tahun, namun tidak signifikan. Adapun terdapat pula kekhawatiran bahwa plant based meat kurang memiliki nutrisi baik yang dibutuhkan untuk tubuh. Namun, ketika dibandingkan beratnya satu sama lain, kandungan protein yang terdapat pada makanan nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum tak kalah kaya dibandingkan makanan yang berasal dari hewan, bahkan lebih lengkap dengan serat, sterol, stanol, serta vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan.
Sederhananya seperti ini: 0,5 kg daging sapi akan memberi nutrisi 90-100 gr protein. Untuk menghasilkan 1 gr protein, membutuhkan 20-80 galon air (air digunakan untuk mengolah pakan sapi). Demikian pula untuk mengolah satu galon susu sapi, akan membutuhkan 1950 galon air. 1 galon susu memberi 128 gr protein. Sekarang bandingkan dengan pengolahan untuk makanan nabati dan plant based meat. Misalnya dengan tahu dan oat. Dengan perhitungan yang sama (0,5k kg), kurang lebih didapatkan hasil seperti ini:
0,5 kg tahu akan memberi nutrisi 45-55 gr protein. Untuk menghasilkan 1 gr protein, membutuhkan 6 galon air.
0,5 kg oat akan memberi nutrisi 75 gr protein. Untuk menghasilkan 1 gr protein, membutuhkan 3,8 galon air.
Dari sudut pandang ini, maka pengolahan makanan nabati dan plant based meat jauh lebih efisien serta akan hemat biaya.
3. Jika berlebihan, dikhawatirkan berdampak negatif

Above Foto: Eating Bird Food
Meski telah terbukti memiliki segudang manfaat baik untuk lingkungan, tidak semua ilmuwan lingkungan menerima kehadiran plant based meat. Berdasarkan artikel yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology pada 2018, plant based meat yang diproduksi terlalu banyak, masif, dan tidak bertanggung jawab, juga akan memiliki dampak negatif pada lingkungan. Misalnya saat dalam proses mengolah (pencucian dan memasak) membutuhkan sumber daya air yang terlalu banyak serta proses pelepasan emisi CO2 yang berlebihan. Selain itu, beberapa produk plant based meat dapat mengandung bahan kimia seperti MSG, pengatur keasaman, dan pengawet, yang dapat berdampak buruk pada kesehatan.
Oleh karenanya, tetap dibutuhkan kebijaksanaan saat memproduksi dan mengkonsumsi plant based meat. Perlu diingat bahwa produk plant based meat bukan satu-satunya pilihan bagi orang yang ingin mengonsumsi protein nabati. Masih ada banyak sumber protein nabati lain yang dapat dikonsumsi, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran hijau.




